Lukmanul Hakim, seniman asal Desa Bandung, Diwek, Jombang saat melukis muasis NU dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-35. (Kevin Nizar).
DIWEK, KabarJombang.com – Atmosfer menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang tidak hanya terasa di kalangan warga dan pengurus organisasi, tetapi juga menginspirasi para pelaku seni.
Salah satunya adalah pelukis asal Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Lukmanul Hakim atau yang lebih dikenal dengan sapaan Cak Luk.
Melalui karya seni bergaya realis, Cak Luk mengabadikan sejumlah tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
Lukisan-lukisan tersebut dibuat sebagai bentuk penghormatan atas jasa para muassis NU sekaligus untuk menyemarakkan pelaksanaan Muktamar ke-35.
Cak Luk mengungkapkan, keterlibatannya dalam menyambut muktamar diwujudkan melalui karya seni yang diharapkan mampu memberikan nilai sejarah sekaligus edukasi bagi masyarakat.
“Sebagai masyarakat Jombang dan warga Nahdliyin, saya ingin ikut menyambut muktamar melalui karya. Saya memilih melukis tokoh-tokoh muassis NU sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka,” ujarnya di rumahnya, Minggu (2/8/2026) Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang.
Ia menjelaskan, selama rangkaian Muktamar NU berlangsung, dirinya berencana menambah koleksi lukisan bertema pendiri NU. Hingga saat ini, sedikitnya delapan karya telah berhasil diselesaikan dan beberapa di antaranya telah dimiliki kolektor.
Saat ini, Cak Luk juga tengah menyelesaikan sebuah lukisan berukuran besar yang dikerjakan di atas kanvas menggunakan cat akrilik. Proses pengerjaannya telah berlangsung sekitar sepekan dan kini mencapai sekitar 60 persen.
Menurutnya, tantangan utama dalam melukis tokoh-tokoh pendiri NU terletak pada minimnya dokumentasi visual yang tersedia. Sebagian besar referensi hanya berupa foto hitam putih dengan kualitas yang terbatas sehingga membutuhkan proses rekonstruksi yang cukup panjang.
“Prosesnya diawali dengan mencari berbagai referensi, mempelajari anatomi wajah, kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan literatur dan foto-foto yang ada agar hasilnya mendekati sosok aslinya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap karya-karya tersebut dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Muktamar NU, baik melalui pameran seni maupun lelang.
Selain itu, lukisan-lukisan tersebut juga diharapkan dapat menjadi cendera mata khas Jombang bagi para peserta yang datang dari berbagai daerah.
“Barangkali nanti bisa menjadi suatu cendera mata untuk peserta yang ribuan orang, kalau ada yang berminat mendapatkan kenangan-kenangan dari Jombang,” katanya.
Untuk karya berukuran besar, Cak Luk membuka penawaran mulai Rp40 juta hingga Rp45 juta. Sementara itu, lukisan berukuran lebih kecil dipasarkan dengan harga mulai sekitar Rp6 juta.
Ia menambahkan, seluruh karya dibuat menggunakan cat akrilik dengan aliran realis. Pemilihan media tersebut dilakukan karena memiliki waktu pengeringan yang lebih cepat tanpa mengurangi kualitas detail pada hasil akhir lukisan.
“Kalau secara aliran, ini namanya realis. Catnya acrylic, saya pakai acrylic agar cepat kering,” pungkasnya.
Leave a Comment