Warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, ketika mengambil air dari irigasi
MOJOWARNO, KabarJombang.com- Puluhan sumur milik warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, mengalami penurunan debit hingga mengering sejak sumur pompa irigasi di wilayah tersebut mulai dioperasikan sekitar dua pekan lalu. Kondisi itu berdampak pada sekitar 20–30 kepala keluarga yang selama ini mengandalkan sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagian warga bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri untuk memperdalam sumur. Biaya yang dibutuhkan disebut mencapai sekitar Rp3 juta untuk setiap titik sumur. Keluhan tersebut kini mendapat perhatian Dinas Pertanian Jombang.
Kepala Dinas Pertanian Jombang Much Rony mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai kondisi sumur warga dan sedang meminta tim di lapangan mengumpulkan data untuk memastikan penyebabnya.
Jika hasil pengecekan menunjukkan pengoperasian pompa berkaitan dengan mengeringnya sumur warga, Rony menyatakan pompa tersebut dapat dihentikan.
“Yang jelas dari semua proyek serupa, ini yang pertama kejadian begini. Kami akan cek dulu nanti sebelum melangkah. Kalau memang berakibat ke warga ya dihentikan saja pompanya,” ujar Rony.
Dayu,( 28), salah seorang warga Dusun Guwo, mengatakan perubahan kondisi sumur mulai terlihat setelah pompa irigasi dinyalakan. Padahal, proyek yang dibangun sejak 2025 itu baru digunakan sekitar dua pekan terakhir.
“Dan semenjak diaktifkan itu langsung dampaknya kami rasakan, sumur-sumur kami di permukiman jadi kering,” ujarnya, Selasa (6/10/2026).
Dia menjelaskan, tidak semua sumur warga benar-benar kehilangan air. Pada beberapa lokasi, air masih keluar tetapi debit volume air sangat kecil. Sementara sumur lainnya hanya menyisakan lumpur dan sebagian sudah tidak lagi mengeluarkan air.
“Ada yang muncul air tapi sangat sedikit, ada yang menyisakan lumpur saja, ada yang tidak nyumber lagi,” katanya.
Menurutnya, dampak tersebut dirasakan warga di sejumlah RT. Mereka yang tidak memiliki cukup biaya untuk memperdalam sumur harus menghadapi keterbatasan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Banyak yang terdampak, puluhan sumur. Buat yang punya uang akhirnya harus mendalamkan sumur dengan biaya sendiri yang bisa sampai Rp 3 juta satu titik,” ungkapnya.
Pengalaman serupa dialami Sekar, warga RT 7 RW 2 Dusun Guwo. Dia mengatakan sumur di rumahnya sudah tidak dapat digunakan selama kurang lebih dua pekan karena airnya mengering.
Persoalan itu, kata Sekar, sebelumnya telah disampaikan kepada pemerintah desa. Mediasi juga telah dilakukan, tetapi belum menghasilkan solusi yang sepenuhnya mengatasi persoalan warga.
“Sudah sempat juga mengeluhkan ke desa, dan sudah dimediasi, tapi hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.
Salah satu langkah yang kemudian diterapkan ialah membatasi waktu penggunaan mesin diesel pada sumur irigasi. Pompa hanya dioperasikan sejak pagi sampai siang dan selanjutnya dimatikan.
Bagi Sekar, perubahan kondisi air setelah pompa dinyalakan dan dimatikan justru terlihat jelas. Ketika penyedotan berlangsung, air di sumur warga berkurang. Setelah pompa berhenti, air kembali masuk secara perlahan.
“Jadi ada jam pagi sampai siang, nanti setelah itu berhenti, nah itu justru memperlihatkan dampak aslinya,” katanya.
Meski air kembali muncul, warga tidak dapat langsung menggunakannya. Mereka harus menunggu selama beberapa jam sampai volume air di sumur kembali mencukupi.
“Itupun harus menunggu berjam-jam dulu, jadi kebutuhan air bersih kami juga tetap sulit,” imbuhnya.
Unjung, warga RT 6 RW 2 Dusun Guwo, mengatakan pembatasan operasional belum membuat persoalan tersebut selesai. Menurut dia, dalam kondisi tertentu warga baru bisa mendapatkan air dari sumur pada dini hari.
“Kadang-kadang jam 02.00–03.00 itu baru penuh sumurnya, bisa dipakai, ini kan mengganggu sekali,” tuturnya.
Warga kemudian membawa persoalan tersebut ke sejumlah instansi. Selain pemerintah desa dan Pemkab Jombang, pengaduan juga telah disampaikan kepada Inspektorat serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Terakhir sudah ke Inspektorat dan DLH juga, kami berharap ada solusi, bagaimana sumur warga tetap bisa ada airnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Rony mengatakan laporan dari warga telah diterima Dinas Pertanian Jombang. Tim lapangan juga telah diminta menghimpun informasi dan menyusun laporan mengenai kondisi tersebut.
“Jadi kami sudah dengar keluhannya, teman-teman di lapangan juga sudah mengumpulkan data dan membuat laporan,” ujarnya.
Sumur pompa yang dipersoalkan warga merupakan bagian dari proyek pembangunan konstruksi irigasi perpompaan. Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama Kementerian Pertanian RI, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, dan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.
Pembangunan fasilitas tersebut menggunakan dana APBN 2025 senilai Rp153 juta dan dikerjakan oleh Poktan Guwo. Adapun sumur yang dibuat dalam proyek tersebut masuk kategori sumur dangkal dengan kedalaman kurang dari 100 meter.
“Jadi proyek itu, memang pembuatan sumur dangkal ya, seperti sumur dangkal lainnya, kedalamannya ya di bawah 100 meter memang,” jelasnya.
Mengenai dugaan bahwa aktivitas pompa memengaruhi ketersediaan air pada sumur warga, Rony belum memberikan kesimpulan. Dinas Pertanian masih akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui hubungan antara kedua kondisi tersebut.
Ia menyebut persoalan semacam ini belum pernah ditemukan pada proyek serupa lainnya. Karena itu, pihaknya memilih melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum menentukan langkah terhadap pompa irigasi tersebut.
“Yang jelas dari semua proyek serupa, ini yang pertama kejadian begini. Kami akan cek dulu nanti sebelum melangkah. Kalau memang berakibat ke warga ya dihentikan saja pompanya,” pungkasnya.
Leave a Comment