Peristiwa

Pondok Pesantren di Sumobito Jombang Klarifikasi Isu Perundungan, Tegaskan Soal Utang untuk Beli Layang-layang Jadi Pemicu

SUMOBITO, KabarJombang.com – Sebuah pondok pesantren di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, memberikan tanggapan terkait kaburnya tiga santri beberapa waktu lalu. Isu yang sempat mencuat menyebutkan bahwa ketiganya melarikan diri karena menjadi korban perundungan. Namun, pihak pesantren menegaskan hal tersebut tidaklah benar.

Sulton Haikal (20), Ketua Pengurus Pondok, menyampaikan bahwa penyebab kaburnya ketiga santri tersebut bukanlah karena adanya bullying, melainkan persoalan pribadi yang terjadi di luar lingkungan pesantren. Salah satu santri diketahui memiliki utang kepada teman sekelasnya di sekolah umum, yang membuatnya merasa takut dan akhirnya memilih kabur bersama dua rekannya.

“Permasalahan sebenarnya adalah soal utang, bukan perundungan. Saat ditagih, anak tersebut takut, lalu mengajak dua temannya pergi dari pondok,” jelas Sulton, Rabu (23/7/2025).

Diketahui, utang yang dimaksud hanya sebesar Rp 45 ribu dan digunakan untuk membeli layang-layang. Ketiganya, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, kemudian ditemukan petugas pemadam kebakaran di Pos Damkar Mojoagung pada Selasa (22/7/2025). Setelah berkoordinasi, mereka pun dipulangkan ke pondok dalam keadaan selamat.

“Masalahnya sudah diselesaikan, termasuk utangnya juga sudah kami bayarkan,” tambahnya.

Menyikapi kejadian tersebut, pengurus pondok kembali menekankan komitmennya dalam menjaga kenyamanan dan keselamatan seluruh santri. Pondok yang telah berdiri selama lebih dari satu dekade itu menerapkan sejumlah langkah pencegahan terhadap potensi perundungan, salah satunya dengan memisahkan asrama berdasarkan jenjang pendidikan.

“Kami sudah mengatur asrama secara terstruktur. Santri SD tidak dicampur dengan jenjang SMP dan SMA agar suasana lebih kondusif dan aman,” kata Sulton.

Sebagai informasi, satu-satunya lembaga pendidikan formal yang dikelola langsung oleh pesantren adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sementara santri jenjang SD dan SMA bersekolah di luar lingkungan pondok.

Saat ini, pesantren tersebut menampung sekitar 200 santri, dengan mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu, termasuk yatim dan piatu. Seluruh kebutuhan hidup mereka, mulai dari makan, tempat tinggal, hingga pendidikan, ditanggung oleh pondok.

Dengan peristiwa ini, pihak pesantren berharap publik tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. “Kami mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa mengetahui fakta sebenarnya,” pungkas Sulton.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar