Mobil Toyota Fortuner milk oknum ASN Disdikbud Jombang yang terlibat kecelakaan dengan pengendara Shogun di Sengon, Jombang. (Istimewa)
JOMBANG, KabarJombang.com – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil Toyota Fortuner dan sepeda motor Suzuki Shogun di Jalan Raya Patimura, Desa Sengon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jumat, 19 Juni 2026, masih menyisakan persoalan. Keluarga korban mengaku kecewa lantaran hingga kini belum merasakan adanya tanggung jawab nyata dari pengemudi mobil yang terlibat dalam insiden tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, mobil Toyota Fortuner bernomor polisi S-1892-ZJ yang dikemudikan Ainurokhim (60), warga Desa Jombatan, Kecamatan Jombang, terlibat kecelakaan dengan sepeda motor Suzuki Shogun bernomor polisi S-2669-OY yang dikendarai Agus Budiono (60), warga Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang.
Akibat kecelakaan tersebut, Agus Budiono mengalami luka serius berupa cedera kepala dan patah tulang rusuk. Korban bahkan sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU rumah sakit.
Dafa, anak korban, mengaku kecewa terhadap sikap pengemudi Fortuner yang menurutnya belum menunjukkan itikad baik sebagaimana yang diharapkan keluarga korban.
“Kami sangat menyayangkan karena sampai sekarang belum ada itikad baik dari pihak yang menabrak. Setidaknya datang menjenguk atau berkomunikasi dengan keluarga korban,” ujar Dafa kepada KabarJombang.com, Sabtu (27/6/2026).
Dafa mengaku berada tidak jauh dari lokasi kejadian saat kecelakaan berlangsung. Menurut keterangannya, sang ayah saat itu hendak berbelok ke arah SMPN 1 Jombang sebelum terjadi benturan dengan mobil Fortuner.
Ia juga menyebut pengemudi mobil tersebut mengaku sebagai ASN di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang.
“Saya ada di belakang bapak saat kejadian. Saya melihat sendiri bapak tertabrak dari belakang. Bahkan sempat terseret di bagian kiri mobil. Yang bersangkutan juga mengaku ASN Disdikbud Jombang,” kata Dafa.
Menurut Dafa, yang membuat keluarganya semakin kecewa adalah karena pengemudi mobil disebut tidak langsung memberikan pertolongan ketika korban tergeletak dengan kondisi mengalami pendarahan di bagian kepala.
“Saya sampai meminta yang bersangkutan turun dari mobil untuk melihat kondisi bapak saya. Saat itu kepala bapak mengeluarkan darah dan akhirnya dibawa ambulans ke rumah sakit,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Dafa mengaku pengemudi Fortuner sempat datang ke rumah sakit dan menyampaikan akan membantu seluruh biaya pengobatan korban. Namun, menurutnya, janji tersebut hingga kini belum terealisasi.
“Awalnya bilang akan menanggung biaya pengobatan. Tapi sampai sekarang keluarga yang mengurus sendiri, termasuk mengurus Jasa Raharja. Belum ada bantuan yang kami terima,” ujarnya.
Ia juga mengaku sempat diminta menandatangani surat perdamaian dengan imbalan sejumlah uang. Namun permintaan itu ditolak karena kondisi korban saat itu masih menjalani perawatan intensif dan belum stabil.
“Kondisi bapak masih di ICU dan harus menjalani operasi karena patah tulang rusuk. Jadi kami belum bisa bicara soal damai,” katanya.
Dafa menegaskan, keluarganya bukan semata-mata mencari kompensasi materi. Namun mereka berharap ada tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap kondisi korban yang kini tidak bisa bekerja karena masih menjalani masa pemulihan.
“Yang kami harapkan sebenarnya tanggung jawab. Bapak adalah tulang punggung keluarga. Dengan kondisi sekarang tentu tidak bisa bekerja. Sementara proses penyembuhannya masih panjang,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dafa mengaku heran karena menurutnya pengemudi mobil tidak mengakui telah menabrak korban dan hanya menyebut terjadi senggolan ringan.
“Padahal saya melihat sendiri kejadian itu. Tapi yang bersangkutan mengatakan hanya menyenggol sedikit dan korban jatuh sendiri,” ucapnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai keluhan keluarga korban, Ainurokhim membantah adanya persoalan yang belum ditindaklanjuti.
“Ya mohon izin, sudah ditindaklanjuti dengan korban, sudah follow up, tinggal menunggu kesembuhan,” ujar Ainurokhim saat dikonfirmasi, Kamis (25/6/2026).
Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Dafa. Menurutnya, hingga Sabtu (27/6/2026), belum ada perdamaian maupun penyelesaian yang dicapai antara kedua belah pihak.
Sementara itu, peristiwa kecelakaan tersebut telah ditangani oleh pihak kepolisian untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab dan kronologi kejadian. (Slamet Wiyoto)
Leave a Comment