Saluran Sungai Induk Papar-Peterongan yang melintas di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang. (Istimewa).
BANDAR KEDUNGMULYO, KabarJombang.com-Usulan normalisasi sejumlah sungai di wilayah Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang, diusulkan usai terjadinya banjir besar tahun 2021 llalu, mulai direalisasikan.
Pekerjaan normalisasi tersebut mulai dikerjakan dan Kamis (13/8/2026) telah memasuki tahap awal pelaksanaan di lapangan.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas aliran sungai, mengurangi risiko banjir, mendukung sektor pertanian, sekaligus membuka peluang masuknya investasi di kawasan Bandar Kedungmulyo yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah rawan banjir.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan PT Adhi Karya. Achmad Aziz, Engineering PT Adhi Karya, mengatakan kontrak pekerjaan telah dimulai sejak 26 Juni 2026.
“Untuk awal pekerjaannya, kontrak kita dimulai pada tanggal 26 Juni 2026,” ujar Aziz saat diwawancarai di Kantor Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, cakupan pekerjaan berada di sejumlah wilayah, yakni Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Kecamatan Perak, Bandar Kedungmulyo dan Megaluh.
Saluran induk yang menjadi bagian pekerjaan adalah Sungai Induk Papar-Peterongan dengan panjang sekitar 16 kilometer.
Selain itu, terdapat sejumlah saluran sekunder yang turut masuk dalam pekerjaan normalisasi, di antaranya Sungai Sekunder Kedungasem, Manisrenggo, Gondangmanis, Pilanghilir, Banjarsari, Plosogenuk dan Sukorejo.
Secara keseluruhan, panjang sungai yang menjadi sasaran normalisasi mencapai sekitar 80 kilometer.
Aziz menjelaskan, pekerjaan diawali dengan pengambilan sedimen yang telah menumpuk dalam waktu lama. Tahap berikutnya adalah pembetulan dimensi saluran agar kapasitas dan aliran air dapat berjalan optimal hingga ke hilir.
“Tujuan utamanya tentu untuk mengantisipasi banjir,” katanya.
Untuk saat ini, progres pekerjaan masih sekitar 0,3 persen. Angka tersebut dinilai wajar karena pekerjaan baru dimulai pada akhir Juni 2026.
Pihak pelaksana, kata Aziz, lebih mengutamakan proses pengukuran sebelum pekerjaan fisik dilakukan secara lebih luas.
Langkah tersebut untuk memastikan tidak terjadi kesalahan dalam perencanaan, elevasi maupun desain yang berpotensi menimbulkan persoalan teknis di kemudian hari.
Dalam pengerjaannya, PT Adhi Karya juga tidak mengutamakan penggunaan pasangan batu. Material yang digunakan antara lain beton dan beton pracetak atau precast, dengan tetap memperhatikan legalitas material serta standar mutu yang telah teruji.
“Semoga lancar sampai selesai,” ujarnya.
Pekerjaan normalisasi tersebut ditargetkan berlangsung hingga 2028.
Camat Bandar Kedungmulyo, Hariyanto, menyambut baik dimulainya normalisasi sungai tersebut.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pihak-pihak yang telah mendukung realisasi program yang selama ini menjadi usulan pemerintah desa dan kecamatan.
“Dengan adanya normalisasi, harapan kami air bisa berjalan sampai ke hilir, sampai Megaluh. Sehingga para petani dan masyarakat yang ada di sepanjang sungai tidak terjadi banjir,” kata Hariyanto.
Menurutnya, normalisasi sungai tidak hanya berkaitan dengan penanganan banjir, tetapi juga pengelolaan tata air untuk kepentingan pertanian.
Dengan kondisi saluran yang lebih baik, distribusi air diharapkan dapat dikendalikan sesuai kebutuhan. Hal itu penting bagi wilayah pertanian yang berada di sepanjang jaringan irigasi.
Hariyanto juga melihat normalisasi sungai sebagai bagian penting dalam mendukung rencana pengembangan kawasan industri di Kecamatan Bandarkedungmulyo.
Selama ini, sejumlah wilayah yang direncanakan sebagai kawasan industri, khususnya Desa Bandar Kedungmulyo dan Gondangmanis, masih memiliki stigma sebagai kawasan rawan banjir.
“Dengan adanya normalisasi itu, investor bisa melihat bahwa wilayah ini tidak terjadi banjir sehingga investor akan datang ke Kecamatan Bandarkedungmulyo,” ungkapnya.
Menurut Hariyanto, sejumlah aktivitas investasi mulai terlihat di wilayah tersebut, mulai dari industri bata ringan, aspal hingga usaha lainnya. Ke depan, kawasan tersebut juga diharapkan berkembang dengan hadirnya gudang dan kegiatan usaha lainnya.
Kepala Desa Bandar Kedungmulyo sekaligus Koordinator Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Bandarkedungmulyo, Zaenal Arifin, mengatakan normalisasi sungai merupakan hasil dari usulan bersama para kepala desa di tingkat kecamatan.
Menurut Zaenal, terdapat sejumlah manfaat yang diharapkan dari program tersebut. Selain meminimalisasi potensi bencana banjir, normalisasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta menarik investasi ke wilayah kecamatan.
“Dengan adanya investasi, paling tidak banyak menyerap tenaga kerja. Karena menyerap tenaga kerja, secara otomatis perekonomian di tingkat kecamatan akan meningkat,” jelasnya.
Untuk mendukung pekerjaan PT Adhi Karya, pemerintah desa bersama kepala desa se-Kecamatan Bandar Kedungmulyo siap membantu memperlancar aktivitas pelaksanaan proyek di lapangan.
Salah satunya berkaitan dengan mobilitas alat dan pekerja yang berpotensi melintasi jalan desa maupun akses menuju lahan pertanian.
Zaenal mengatakan koordinasi antara pemerintah desa dan pelaksana proyek akan dilakukan agar kegiatan normalisasi tidak mengganggu kepentingan masyarakat serta infrastruktur desa.
“Backup dari kami adalah memperlancar petugas-petugas yang akan melaksanakan pekerjaan ini, termasuk nanti yang dikerjakan PT Adhi Karya,” katanya.
Ia menambahkan, pekerjaan normalisasi tidak memerlukan pembebasan lahan. Namun, karena kegiatan di lapangan dapat bersinggungan dengan akses menuju sawah milik petani, pemerintah desa akan berkoordinasi dengan pelaksana untuk memastikan akses maupun kondisi infrastruktur dapat dikembalikan dan tetap terjaga setelah pekerjaan selesai.
Dukungan terhadap normalisasi juga disampaikan Basyarudin Saleh, Ketua MWC NU Bandar Kedungmulyo sekaligus Kepala Desa Banjarsari.
Menurut Basyarudin, normalisasi sungai merupakan salah satu usulan prioritas masyarakat di wilayah Bandar Kedungmulyo.
Ia menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat.
“Hubungan komunikasi antara ulama dan umara di Bandar ini sangat harmonis. Masing-masing punya tugas yang sama, bagaimana menjawab persoalan-persoalan kemiskinan dan kebodohan,” ujarnya.
Ia menyebut realisasi normalisasi sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap aspirasi masyarakat yang selama ini disampaikan melalui kepala desa, camat dan Forkopimcam.
Basyarudin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terealisasinya program tersebut, termasuk Pemerintah Kabupaten Jombang.
“Ini merupakan satu anugerah di mana usulan-usulan yang dilakukan masyarakat Bandar melalui para kepala desanya maupun pak camat dan Forkopimcam, alhamdulillah sudah direalisasi oleh pemerintah atas bantuan berbagai pihak,” katanya.
Dengan dimulainya pekerjaan normalisasi, masyarakat berharap persoalan banjir yang selama ini menghantui wilayah Bandar Kedungmulyo dapat ditekan secara bertahap.
Lebih jauh, normalisasi diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan sektor pertanian, peningkatan ekonomi masyarakat dan berkembangnya investasi di kawasan tersebut.
Proyek yang ditargetkan selesai pada 2029 itu kini memasuki tahap awal, dengan pengukuran, pemetaan dan pengerukan sedimen menjadi bagian penting sebelum pekerjaan normalisasi dilakukan secara lebih luas.
Leave a Comment