Nestapa Pedagang di Wisata Religi Makam Gus Dur

Deretan lapak di lingkungan makam Gus Dur, Tebuireng, Jombang. (Anggraini).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com- Kendati  sudah setahun pandemi Covid-19 di Jombang, namun belum juga berlalu. Karena pandemi ini, Pemkab Jombang harus menutup tempat wisata yang ada di Jombang. Termasuk wisata religi Makam Gus Dur.

Hal ini memberikan dampak tersendiri bagi para penjual yang ada di lapak wisata religi Gus Dur tersebut. Beberapa deretan lapak terlihat tertutup rapat dengan terpal berdebu, dan tak terurus. Demikian ini sebagai pelindung barang jualannya.

Baca Juga

Meski ada beberapa lapak yang masih bertahan untuk buka seperti assesoris, makanan, pakaian, sandal dan lain sebagainya. Tapi kondisi saat ini kian berbeda, suasana jalanan menuju makam sangat sepi tak ada lagi lalu-lalang orang keluar masuk makam.

Saat ditemui di lokasi, nampak penjual hanya bersandar dan menggantungkan nasibnya pada pembeli yang mungkin sekedar mampir atau membeli dagangannya.

Matanya saling menatap erat disetiap orang yang melewati lapaknya, seperti ingin menarik setiap orang yang lewat agar mampir ke lapaknya yang terlihat masih penuh dengan barang dagangan.

Li’ana (55), seorang penjual di lapak tersebut, yang sebagai tulang punggung di keluarganya mengatakan, jika sudah berjualan sejak 11 tahun silam. Dia mengaku kalang kabut menghadapi situasi pandemi Covid-19 ini, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga karena suaminya sedang sakit.

“Sejak Makam Gus Dur ini ditutup ya kalang kabut. Karena pekerjaan saya juga cuma ini saja. Suami saya sudah tua, jalan kaki saja gak bisa, saya cuma menggantungkan diri sama jualan saya ini,” kata Liana seraya mengusap tetesan air matanya kepada KabarJombang.com, saat ditemui di lapaknya, Selasa (23/2/2021).

Karena seakan tak sanggup lagi bercerita, suara Li’ana semakin lirih saat mengisahkan bagaimana kehidupannya saat ini.

Setiap hari, perempuan asal Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang itu, berjualan sandal di depan pintu masuk arah makam Gus Dur. Li’ana begitu meratapi kondisi pandemi Covid-19 yang belum berakhir dan berimbas pada jualannya.

“Setiap hari kalau mau jualan diantar sama anak saya laki-laki  yang saat ini juga nganggur di rumah. Mau gimana lagi cari pekerjaan juga susah sekarang. Pendapatan saya sehari saja cuma Rp 10 ribu, mau makan juga seadanya yang ada di rumah apa ya dimakan,” ujarnya dengan suara bergetar.

Setiap hari ia membuka lapaknya mulai pukul 09.00 WIB hingga 14.00 WIB. Dari mimiknya nampak begitu besar harapan agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Kerinduannya akan kunjungan pembeli di lapaknya, dan makam Gus Dur kembali dibuka lagi seperti sedia kala.

“Saya cuma berharap agar pandemi ini segera berakhir dan makam Gus Dur dibuka kembali,” harapnya.

Nestapa ini pun turut dirasakan penjual lain, Aan yang mengaku omset jualannya sejak makam Gus Dur ditutup menurun signifikan karena sepinya pengunjung.

Aan mengaku tetap bertahan untuk membuka lapaknya sama dengan yang dikeluhkan Li’ana yaitu untuk bertahan hidup.

“Hampir setahun jualan saya sepi seperti ini, soalnya kan makam Gus Dur ditutup. Dan saya juga cuma bergantung pada jualan saya ini karena ndak ada yang lain. Pendapatan saya dari sebelum dan saat pandemi ini ya jauh,” kata Aan sambil mengemas jualannya.

Laki-laki yang berjualan assesoris ini juga mengatakan,  hampir satu tahun ini ia mengalami kerugian.

“Sehari saja cuma dapat Rp 70 ribu terkadang juga gak dapat sama sekali, ndak mesti. Dulu sebelum pandemi pendapatan sekitar Rp 600 ribu sehari,” ungkap laki-laki asal Tebuireng, Jombang ini.

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait