Muhammad Lutfan, pedagang pentol keliling asal Kecamatan Diwek, Jombang. (Istimewa).
JOMBANG, KabarJombang.com-Gangguan pasokan listrik yang terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir mulai memberikan dampak nyata terhadap aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Jombang.
Selain menghambat proses produksi, kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan kerusakan stok makanan hingga penurunan pendapatan usaha.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampaknya adalah Muhammad Lutfan, pedagang pentol keliling asal Kecamatan Diwek. Ia mengungkapkan bahwa pemadaman listrik sudah terjadi beberapa kali dalam sepekan terakhir di wilayah tempat tinggalnya.
“Listrik sudah beberapa kali padam dalam satu minggu terakhir. Informasinya juga ramai dibicarakan masyarakat melalui media sosial,” ujar Lutfan saat dikonfirmasi, Kamis (19/6/2026).
Menurut Lutfan, dalam kurun waktu tersebut listrik setidaknya padam sebanyak dua kali dengan durasi antara empat hingga enam jam. Kondisi itu secara langsung mempengaruhi jalannya produksi karena sebagian peralatan usahanya masih bergantung pada energi listrik.
Ia menjelaskan bahwa mesin pencetak pentol dan freezer penyimpanan produk menjadi fasilitas yang paling terdampak saat pemadaman berlangsung. Akibatnya, proses produksi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
“Ketika listrik mati, mesin tidak bisa digunakan dan freezer berhenti beroperasi. Padahal ada produk yang harus segera disimpan dalam kondisi beku agar kualitasnya tetap terjaga,” katanya.
Lebih lanjut, Lutfan mengatakan produk olahan seperti somay sayur dan somay kulit pangsit memiliki risiko tinggi mengalami penurunan mutu apabila pendingin tidak berfungsi dalam waktu lama. Risiko kerusakan semakin besar ketika produk baru selesai diproduksi namun belum sempat membeku secara maksimal.
Meski hingga saat ini belum ada produk yang terpaksa dibuang, ia mengaku tetap waswas apabila pemadaman listrik terus terjadi secara berulang.
“Syukur sampai sekarang belum ada stok yang rusak. Namun jika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus, kemungkinan kerugian akibat produk tidak layak konsumsi tentu bisa terjadi,” tuturnya.
Selain berpotensi merusak stok makanan, gangguan listrik juga menimbulkan ancaman kerugian finansial. Lutfan memperkirakan kerugian akibat terhambatnya proses produksi dapat mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta dalam satu kali kejadian.
Ia juga mengakui pelayanan kepada pelanggan ikut terganggu karena proses pencetakan pentol yang biasanya menggunakan mesin harus dilakukan secara manual.
Akibatnya, waktu produksi menjadi lebih lama dan jadwal pelayanan terpaksa mengalami penyesuaian.
Menurutnya, hingga kini dirinya belum memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan karena selama ini mengandalkan pasokan listrik PLN yang dinilai cukup stabil.
Lutfan menegaskan bahwa dampak paling berat bagi pelaku usaha bukan hanya risiko kerusakan produk, tetapi juga berkurangnya omzet akibat produksi yang tidak berjalan normal.
“Jika produksi terganggu, jumlah pesanan bisa menurun dan pendapatan usaha otomatis ikut terdampak. Itu yang paling kami khawatirkan,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia mengaku sementara waktu mengurangi jumlah produksi, terutama untuk jenis makanan yang mudah mengalami kerusakan apabila tidak segera disimpan dalam suhu dingin.
Ia berharap pihak terkait dapat menjaga keandalan pasokan listrik serta memberikan informasi lebih awal apabila pemadaman harus dilakukan.
“Kalau memang ada pekerjaan yang mengharuskan listrik padam, kami berharap ada pemberitahuan sebelumnya agar pelaku usaha bisa menyiapkan langkah antisipasi,” katanya.
Keluhan serupa juga datang dari warga Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak, bernama Wawan. Ia mengaku listrik di wilayahnya sempat padam pada siang hari tanpa adanya informasi yang jelas mengenai penyebab maupun perkiraan waktu normal kembali.
Menurut Wawan, masyarakat kesulitan memperoleh informasi karena tidak menemukan pemberitahuan terbaru melalui kanal resmi PLN.
Sementara itu, warga Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang, Purnama Hadi, mengaku mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam pada Selasa sore hingga malam hari tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Tiba-tiba listrik padam dan baru menyala kembali pada malam hari. Tidak ada informasi sebelumnya,” ujar Purnama.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Jombang, Irham Maulana, menjelaskan bahwa sejumlah pemadaman yang terjadi merupakan bagian dari pekerjaan teknis pada jaringan kelistrikan.
Ia menerangkan bahwa salah satu kegiatan yang dilakukan adalah penggantian komponen pada gardu induk yang mengharuskan penghentian sementara pasokan listrik demi menjaga keselamatan proses pekerjaan.
“Beberapa waktu lalu terdapat komponen pada gardu yang harus diganti. Selama proses tersebut berlangsung, suplai listrik memang perlu dihentikan sementara,” jelas Irham.
Selain itu, PLN juga tengah melakukan peningkatan kapasitas transformator di wilayah Perak dan sekitarnya guna memperkuat sistem distribusi listrik serta mengantisipasi meningkatnya kebutuhan pelanggan.
Menurut Irham, pekerjaan peningkatan kapasitas trafo tersebut memerlukan penghentian sementara aliran listrik dari gardu induk agar proses pengerjaan dapat dilakukan dengan aman dan optimal.
PLN berharap pekerjaan pemeliharaan dan peningkatan infrastruktur tersebut dapat meningkatkan keandalan sistem kelistrikan sehingga pelayanan kepada masyarakat dan pelaku usaha dapat menjadi lebih baik ke depannya.
Leave a Comment