Peristiwa

Komnas PA Jatim Desak Penegakan Hukum Dugaan Keracunan Massal Santri Ponpes Jombang

JOMBANG, KabarJombang.com – Insiden dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, mendapat sorotan serius dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Jawa Timur. Lembaga tersebut mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut serta memastikan adanya pertanggungjawaban jika ditemukan kelalaian.

Peristiwa yang terjadi pada Kamis (5/3/2026) itu menyebabkan sekitar 40 santri harus mendapatkan penanganan medis setelah menyantap paket program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Betek.

Sekretaris Jenderal Komnas PA Jawa Timur, Jaka Prima, menilai kasus ini harus ditangani secara serius. Ia juga mendorong dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh unit SPPG yang beroperasi di Kabupaten Jombang.

Menurutnya, audit tersebut penting guna memastikan setiap penyedia layanan program MBG benar-benar memenuhi standar keamanan pangan. Pemeriksaan perlu mencakup kondisi dapur produksi, kualitas bahan makanan, hingga sistem distribusi kepada para penerima manfaat.

“Jika ditemukan kelalaian atau pelanggaran prosedur yang berpotensi membahayakan kesehatan anak, maka penyedia layanan harus bertanggung jawab secara hukum, termasuk kemungkinan dikenakan sanksi pidana,” ujar Jaka, Senin (9/3/2026).

Insiden tersebut terjadi saat waktu berbuka puasa di lingkungan pesantren. Pengasuh Ponpes Sholawat Darut Taubah, Muhammad Adam, menjelaskan para santri saat itu menyantap menu dari dapur internal pesantren berupa nasi rawon, serta paket MBG dari SPPG Desa Betek yang berisi telur asin, roti, susu, kacang, dan kurma.

Tak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah santri mulai mengalami gejala seperti mual, muntah, hingga pingsan. Dugaan sementara dari pihak pesantren mengarah pada telur asin yang terdapat dalam paket MBG.

“Santri yang hanya makan nasi rawon dari dapur pesantren tidak mengalami keluhan. Sementara mereka yang ikut mengonsumsi telur asin dari paket MBG mengalami muntah dan harus segera dibawa ke rumah sakit,” jelas Adam.

Para korban kemudian dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan mengatakan pihak kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara bersama Dinas Kesehatan setempat. Sejumlah sampel makanan sisa serta muntahan korban telah diamankan sebagai barang bukti untuk proses penyelidikan.

Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyampaikan bahwa hasil uji cepat awal tidak menemukan kandungan zat kimia berbahaya seperti sianida maupun arsenik.

Menurutnya, penyelidikan saat ini difokuskan pada pemeriksaan mikrobiologi untuk mendeteksi kemungkinan adanya kontaminasi bakteri pada makanan. Sampel makanan telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Jawa Timur di Surabaya untuk diuji lebih lanjut.

“Hasil uji kultur bakteri diperkirakan baru bisa diketahui sekitar 10 hari ke depan sebelum diumumkan secara resmi,” ujarnya.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar