JOMBANG, KabarJombang.com – PT Annisa Ahmada Travelindo ITS Grup menargetkan penggantian biaya tiket kepulangan jemaah yang dibeli secara mandiri dapat diselesaikan November 2026. Perusahaan memperkirakan terdapat sekitar 110 jemaah yang berhak menerima penggantian dengan total kebutuhan dana mencapai sekitar Rp 880 juta. Di tengah upaya penyelesaian tersebut, sejumlah investor tengah menjajaki kemungkinan mengambil alih kepemilikan saham perusahaan hingga 100 persen.
Pengacara PT Annisa Ahmada Travelindo ITS Grup, Dian Farizka, mengatakan penggantian biaya tiket menjadi salah satu prioritas perusahaan. Selain itu, pihaknya sedang melakukan verifikasi data untuk menentukan jemaah yang akan diberangkatkan lebih dahulu.
Prioritas pemberangkatan diberikan kepada jemaah yang memiliki jadwal keberangkatan pada September, kemudian jemaah yang sebelumnya membeli tiket kepulangan menggunakan biaya sendiri.
“November ini sudah klir. Jadi kami fokus verifikasi data siapa yang diberangkatkan lebih dahulu. Prioritasnya jemaah yang jadwal bulan September dan jemaah yang beli tiket sendiri,” ujar Dian.
Khusus jemaah yang membeli tiket kepulangan secara mandiri dari Arab Saudi, Dian memastikan perusahaan akan mengganti biaya yang telah dikeluarkan.
Ia memperkirakan jumlah jemaah yang membutuhkan penggantian mencapai sekitar 110 orang. Dengan asumsi harga tiket rata-rata Rp 8 juta per orang, kebutuhan dana diperkirakan sekitar Rp 880 juta.
“Untuk jemaah yang beli sendiri dari Saudi akan diganti. Kalau tunggakan, sangat cukup dari yang di tiket. Kalau tiket itu sekitar 110 orang, dari harga Rp 8 juta, sekitar Rp 800 jutaan. Artinya sisa di agen tiket masih cukup banyak,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah investor tengah menjajaki kemungkinan masuk sebagai pemegang saham PT Annisa Ahmada Travelindo ITS Grup. Bahkan, terdapat calon investor yang berminat mengakuisisi seluruh saham perusahaan hingga 100 persen.
Dian menjelaskan, selain opsi pengambilalihan penuh, ada pula investor yang mempertimbangkan pembelian 50 persen saham. Namun, pembahasan dengan sejumlah calon investor tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
“Memang ada beberapa investor yang ingin masuk di PT Annisa sebagai pemegang saham. Ada yang mau mengakuisisi 100 persen, ada juga yang 50 persen. Kami masih sering diskusi terkait investor ini, belum ada kepastian,” jelasnya.
Meski seluruh saham perusahaan berpotensi berpindah tangan, Erni Khairunnisa atau Ning Nisa tetap diproyeksikan menduduki posisi direktur.
PT Annisa tengah menelusuri aliran dana yang berkaitan dengan agen-agen tiket untuk mendukung penyelesaian kewajiban perusahaan. Proses tersebut dilakukan untuk mencocokkan pembayaran yang telah diteruskan kepada maskapai penerbangan dengan dana perusahaan yang masih berada di pihak agen.
Dian menyebut, dalam konfrontasi tahap pertama, sejumlah agen tiket telah mengakui masih terdapat dana milik PT Annisa yang berada di tangan mereka. Berdasarkan data perusahaan, nilai dana yang diakui agen mencapai sekitar Rp 7 miliar, sedangkan sisa dana yang tercatat sekitar Rp 4 miliar.
“Kami sedang melakukan konfrontasi dengan agen-agen tiket. Konfrontasi pertama sudah mengakui ada uang PT Annisa. Kalau sesuai data PT Annisa, masih ada sekitar Rp 7 miliar yang diakui agen tiket, ada sisa uang PT Rp 4 miliar,” ungkapnya.
Konfrontasi tahap kedua direncanakan berlangsung pada pekan depan. Proses tersebut akan digunakan untuk mencocokkan data transaksi sekaligus memastikan apakah dana dari agen telah diteruskan kepada maskapai penerbangan, termasuk Garuda Indonesia dan Lion Air.
Dalam proses verifikasi itu, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) disebut meminta rekening koran milik agen tiket sebagai dokumen pendukung penelusuran transaksi.
Sementara itu, terkait pemblokiran Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), pihak perusahaan mengaku sedang mengajukan permohonan pembukaan blokir. Menurut Dian, Kemenhaj menyampaikan pembukaan akses baru dapat dilakukan setelah anggaran untuk menyelesaikan hak-hak jemaah dipastikan tersedia.
“Kami sedang mengajukan Siskopatuhnya. Dari Kemenhaj menyampaikan kalau anggaran sudah siap, baru akan dilakukan pembukaan,” katanya.
Sebelumnya, Divisi Umrah KBIHU Muslimat NU Jombang, Ema Umiyyatul Chusnah atau Ning Ema, menyebut PT Annisa berencana menjual 50 persen saham dan meminta Kemenhaj membuka pemblokiran Siskopatuh. KBIHU mencatat 74 jemaah membeli tiket kepulangan secara mandiri, sedangkan biaya tiket 11 jemaah lainnya ditalangi menggunakan uang pribadi Ning Ema.
Atas pembelian tiket secara mandiri tersebut, KBIHU meminta penggantian sebesar Rp 7,2 juta per jemaah. KBIHU juga meminta pengembalian dana pribadi Ning Ema yang digunakan untuk membiayai kepulangan 11 jemaah.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenhaj Jombang, Ilham Rohim, sebelumnya membenarkan bahwa PT Annisa Ahmada Travelindo ITS Grup pernah mengajukan permohonan pembukaan blokir. Namun, berdasarkan informasi dari Kemenhaj pusat, status pemblokiran Siskopatuh perusahaan masih berlaku karena hak-hak jemaah belum dipenuhi.
Ilham juga menyampaikan bahwa Kemenhaj Jombang telah dua kali memanggil pihak perusahaan, tetapi belum mendapat respons. Pihaknya berencana melayangkan satu panggilan lagi sebelum membuat berita acara sebagai bahan laporan kepada Kemenhaj tingkat provinsi.




