Peristiwa

Banjir Rendam Dusun Ketapang Rejo Jombang, Ketinggian Air Capai Bawah Lutut Orang Dewasa

NGUSIKAN, KabarJombang.com – Banjir kembali melanda Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Genangan air mulai muncul sejak Minggu (11/1/2026) pagi dan mencapai puncaknya pada Selasa (13/1/2026) pagi, dengan ketinggian air hingga bawah lutut orang dewasa.

Ahmad, salah satu warga setempat, mengatakan banjir yang terjadi merupakan banjir tahunan. Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih parah dibanding tahun sebelumnya.

“Ini banjir tahunan, tapi kali ini sudah yang kedua. Yang pertama bulan November 2025, tapi tidak separah sekarang,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Selain merendam area persawahan, banjir juga menyebabkan air masuk ke sejumlah rumah warga. Menurut Ilham, air mulai memasuki permukiman sejak Senin (12/1/2026) sore dan semakin tinggi pada malam harinya.

“Kemarin sore air mulai masuk, malamnya sudah ada beberapa rumah yang terendam sampai bawah lutut,” katanya.

Ia menjelaskan, tidak semua rumah terdampak secara merata. Rumah yang berada di posisi lebih tinggi relatif aman, sedangkan rumah yang posisinya lebih rendah kemasukan air.

“Tergantung letak rumahnya. Kalau lebih tinggi tidak kemasukan air, tapi yang rendah ya masuk. Hampir sebagian besar rumah kemasukan air,” tuturnya.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan solusi jangka panjang agar banjir tahunan tidak terus berulang dan merugikan masyarakat, khususnya para petani.

“Harapan kami, pihak berwenang bisa memberikan solusi supaya warga dan petani tidak terus mengalami kerugian saat banjir seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz, menjelaskan bahwa banjir di wilayah utara Kecamatan Ngusikan, termasuk Desa Ketapang Kuning, dipicu oleh pergeseran aliran air dari beberapa daerah lain.

“Wilayah Ketapang Kuning merupakan daerah akhir aliran air dari Marmoyo, Ploso, Kudu, dan sekitarnya. Air bergeser dan berakhir di sana. Apalagi Ketapang Kuning berbatasan langsung dengan Mojokerto dan terdapat sistem pengaturan air di wilayah tersebut,” jelasnya.

Menurut Wiku, genangan di permukiman mulai berangsur surut, meski air masih menggenangi area persawahan.

“Untuk perkampungan sudah mulai surut. Di sawah masih ada genangan. Rumah yang posisinya tinggi tidak terdampak, sedangkan yang rendah masih kemasukan air,” katanya.

Ia menambahkan, karena menjadi titik akhir aliran air, durasi genangan di Ketapang Kuning cenderung lebih lama dibanding wilayah lain.

“Proses akhir aliran air memang berada di Ketapang Kuning, sehingga durasinya lebih panjang. Namun saat ini kondisinya sudah berangsur surut,” pungkasnya.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar