Foto : 400 lebih para PKL di Jombang yang membahas persoalan evaluasi CFD. (Kevin Nizar)
JOMBANG, KabarJombang.com – Menyusul evaluasi menyeluruh pelaksanaan Car Free Day (CFD) oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, sebanyak 400 pedagang kaki lima (PKL) lebih yang tergabung dalam Serikat Pedagang Kaki Lima (Spekal) Jombang menggelar konsolidasi pada Minggu (13/7/2025) siang, di Sekretariat Spekal, Jalan Kapten Pierre Tendean, Pulolor, Jombang.
Ketua Spekal, Joko Fattah Rochim atau yang akrab disapa Cak Fattah menegaskan bahwa PKL tidak menolak evaluasi CFD, namun meminta semua pihak tidak gegabah menyalahkan aktivitas CFD sebagai biang keladi insiden terhambatnya ambulans menuju RSUD Jombang beberapa waktu lalu.
“CFD ini hanya berlangsung Minggu pagi, mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Kejadian insiden ambulans itu katanya meninggal siangya, sekitar jam 1. Jadi bukan dalam waktu CFD,” jelas Cak Fattah saat diwawancarai.
Ia juga menyoroti keberadaan jalur kereta api dan kemacetan kronis di sekitar perlintasan Jomplangan yang kerap menjadi titik kemacetan, bahkan di luar hari CFD.
Selain itu, Cak Fattah menilai persoalan layanan rumah sakit di akhir pekan juga perlu dikaji lebih dalam. “Mohon maaf, rumah sakit kalau Sabtu-Minggu sering tidak ada dokter. Anak saya sendiri pernah mengalami. Jadi ini bukan semata soal CFD,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Spekal menyampaikan kesiapan untuk menertibkan lapak-lapak PKL, terutama yang berada di jalur tengah jalan. Menurut Cak Fattah, pedagang telah diarahkan untuk berjualan di sisi jalan agar akses darurat tetap terbuka.
“Kami setuju dengan himbauan Disdagrin. Pedagang yang masih berjualan di tengah harus ditertibkan. Tapi kami juga minta dukungan dari Satpol PP dan Dishub untuk pengawasan di titik-titik rawan seperti pos kereta api Jomplangan,” katanya.
Cak Fattah juga mengkritisi kurangnya sosialisasi surat edaran dari Disdagrin yang melarang lapak di jalur tengah. Ia menyebut, surat tersebut semestinya disebarluaskan oleh petugas ke lapangan, bukan hanya dikirim ke sekretariat organisasi.
Lebih lanjut, Cak Fattah menolak wacana pemindahan lokasi CFD ke wilayah lain. Menurutnya, beberapa alternatif lokasi yang disebutkan seperti Jalan Ahmad Dahlan, Dr. Sutomo, maupun Alun-Alun adalah zona merah karena kepadatan lalu lintas dan keberadaan toko yang aktif beroperasi di hari Minggu.
“Kami menduga ada yang menggiring isu untuk membubarkan CFD. Jangan-jangan ini masuk ke urusan politik. Tapi kami tidak bicara soal itu. Ini soal ekonomi kerakyatan,” ujar Cak Fattah yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ) tersebut.
Ia menekankan bahwa keberadaan CFD telah membantu menggerakkan ekonomi rakyat kecil dengan perputaran uang yang cukup besar. “Berbeda dengan rumah makan, PKL ini menyebar dan hidupkan banyak sektor,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Cak Fattah menegaskan pentingnya evaluasi berbasis solusi, bukan saling menyalahkan. Spekal berharap, ke depan pengawasan jalur darurat diperkuat, sirine ambulans dinyalakan sesuai prosedur, dan semua pihak bekerja sama demi CFD yang tertib dan aman.
“Ambulans bisa lewat kok, asal sirinenya dinyalakan. Kami siap mendukung CFD yang lebih tertib, asal semua pihak juga jalan bersama,” pungkasnya.
Leave a Comment