Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh FRMJ buntut protes rencana pengadaan seragam anggota DPRD Kabupaten Jombang senilai Rp500 juta. (Istimewa/KabarJombang)
JOMBANG, KabarJombang.com – Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ) melontarkan kritik tajam terhadap rencana pengadaan seragam baru bagi anggota DPRD Kabupaten Jombang senilai Rp500 juta. Anggaran tersebut dinilai melukai empati publik di tengah sulitnya kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Ketua FRMJ, Joko Fattah Rochim, menegaskan bahwa pengadaan empat jenis pakaian dinas mulai dari Pakaian Sipil Harian (PSH) hingga Pakaian Khas Daerah (PKD) seharusnya bisa ditunda jika seragam lama masih layak pakai.
”Jika masih bisa dimanfaatkan, seharusnya tidak perlu ada pengadaan baru. Anggaran bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak,” ujar Fattah, Rabu (8/4/2026).
Selain masalah seragam, LSM di Jombang tersebut juga mengkritik ketimpangan kebijakan efisiensi di lingkup Pemkab Jombang. Fattah menyentil instruksi penghematan energi yang kontras dengan aktivitas kunjungan kerja (kunker) anggota dewan yang tetap menyedot APBD.
”ASN pemerintah daerah disuruh irit BBM. Seharusnya tidak ada kunjungan kerja semuanya. Jangan terus irit BBM, namun masih ada kunjungan kerja yang memakai uang APBD,” tegasnya.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, menjelaskan bahwa pengadaan seragam tersebut bukan muncul tiba-tiba, melainkan sudah sesuai prosedur administratif.
”Semua sudah dianggarkan pada tahun 2026 dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Terkait pelaksanaannya, kami serahkan kepada masing-masing pengguna anggaran,” jelas Agus.
Senada dengan Sekda, Sekretaris DPRD Jombang, Danang Praptoko, menyatakan telah menerima poin-poin keberatan dari masyarakat. “Semua aspirasi sudah kami dokumentasikan untuk dibahas lebih lanjut. Semoga segera ada jawaban dan solusi,” singkatnya.
Sorotan tajam ini sebelumnya memuncak dalam aksi unjuk rasa yang digelar puluhan anggota FRMJ di depan kantor DPRD Jombang, Selasa (7/4/2026). Dalam aksi tersebut, massa sempat melakukan teatrikal menyajikan kopi dengan wadah daun sebagai sindiran atas tingginya harga plastik dan mahalnya anggaran seragam yang dinilai sama-sama membebani rakyat kecil.
Leave a Comment