Dua Tahun Duet Mu-Rah, Ini Kisah Pelatih dan Atlet Pilih Hengkang dari Jombang

Imam Muslich saat ditemui di rumahnya, Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Jombang. ( Foto : DianaKN)
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Peningkatan di bidang olahraga, menjadi salah satu program unggulan duet Bupati dan Wabup Jombang, Mudjidah Wahab – Sumrambah (Mu-Rah), pada Pilkada dua tahun silam.

Dan sejak dilantiknya pada 24 September atau selama dua tahun memimpin Jombang, tidak ada perubahan signifikan pada bidang olahraga. Penilaian ini disampaikan Imam Muslich, mantan atlet 1980-an yang kini menjadi pelatih lari, warga Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Baca Juga

Dia menyatakan, olahraga di Jombang tidak akan maju, jika lembaga, organisasi dan instansi terkait, tidak diisi oleh person atau olahragawan yang otomatis mempunyai kebanggaan soal olahraga.

“Menurut saya, olahraga di Jombang belum ada perubahan nyata sama sekali. Disamping itu, jika lembaga atau instansi di Jombang tidak diisi orang yang dari bidang olahraga, saya kira akan sulit sekali memajukan olahraga di Jombang,” tutur Imam pada KabarJombang.com, Senin (28/9/2020)

Ia menuturkan, kurangnya dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang dalam memajukan olahraga, menjadi salah satu penyebab dirinya bersama rekan-rekannya, hengkang dari Jombang. Mereka memilih menjadi pelatih di daerah lain.

“Saya sangat senang sekali jika bisa melatih putra daerah sendiri. Tapi karena kurangnya perhatian dari Pemkab Jombang di bidang olahraga, sehingga kemungkinan tak banyak yang mau berlatih. Saya dan dua teman saya jadi pelatih di Pare, Kediri,” ungkapnya

Imam mengaku bukan hanya dirinya dan rekannya yang merasa lebih dianggap di daerah lain karena olahraga. Hengkangnya dua atlet dari Megaluh Jombang ke Jawa Barat, lanjut dia, lebih disebabkan kurang perhatiannya Pemkab terhadap keberlangsungan atlet.

“Ada lagi asli putra daerah yang dibawa ke Jawa Barat, karena mereka lebih mendapat perhatian dan tawaran karir lebih jelas. Mereka memilih ke sana karena dorongan untuk bisa berprestasi,” Tambahnya.

Meski merasa tidak dianggap atas prestasi dan menjadi pelatih, tak membuat semangatnya surut. Bahkan, anak asuhnya masih mampu menjuarai beberapa even lari di kelas master level nasional. Dan otomatis, mengharumkan nama Jombang di tingkat nasional.

“Kami dalam segala even, swadaya sendiri. Ikut lomba kemana-mana biaya sendiri. Tapi kalau menang nama Jombang disebut, dan dikenal dimana-mana. Itu pasti,” tuturnya.

Dia mencontohkan, seleksi lomba lari di Stadion Jombang yang baru-baru ini dihelat. Anak didik yang dilatihnya di Pare banyak memenanginya. Karena prestasi itu, cerita Imam, dia ditanya oleh salah satu pegawai Dispora Jombang, soal mengapa tidak melatih di Jombang.

“Saya hanya menjawab, mana ada anak Jombang yang tertarik olahraga jika tidak ada perhatian dan dukungan dari Pemkab Jombang. Kalau disuruh ngelatih saya siap kapan pun dan akan lebih bangga jika yang saya latih adalah dari kota saya sendiri,” tandasnya.

Imam juga menceritakan, bagaimana bentuk minimnya perhatian dan dukungan Pemkab terhadap kondisi olahraga di Jombang. Ia mengaku pernah menggelar even olahraga tingkat nasional. Untuk mendulang dukungan dana, ia pun mengajukan proposal ke Dinas terkait.

“Proposal itu, hanya dikasih Rp 500 ribu. Itu pun bilangnya uang pribadi. Tapi kok saya disuruh tanda tangan. Dalam hati saya, katanya uang pribadi kok pakai tanda tangan. Ini ada apa,” ujarnya keheranan.

Dikatakannya, kondisi tersebut tidak hanya dialami olahraga bidang lari saja. Menurutnya, perlakuan sama juga dirasakan bidang lain. Parameternya, kata dia, hingga saat ini belum ada satu nama yang prestasi bagus.

“Saya kira tidak hanya di olahraga lari, tapi juga bidang olahraga lain. Pernah dengar ada satu nama ini prestasi olahraganya bagus? Nggak ada. Saya kira, jika Jombang masih gini-gini aja ya nggak bakal maju olahraga kita,” Imam memungkasi.

INSTAGRAM

Berita Terkait