Derita Gagal Ginjal Stadium 5, Bocah Asal Bareng Jombang Tiap Berobat ke Surabaya Dibonceng Motor

Kondisi Arva penderita gagal ginjal stadium 5 saat dirawat ibunya di rumahnya.
  • Whatsapp

BARENG, KabarJombang.com – Hampir dua tahun, Arva Ferdiansyah (9) tak bisa bermain dengan teman sebayanya. Betapa tidak, bocah asal Dusun Banyu Urip, Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang ini menderita sakit gagal ginjal, dan kini sudah mencapai stadium 5.

Keceriaan keluarga ini pun sirna, seiring Arva -begitu dia biasa disapa, terus merasakan sakit yang dideritanya. Saat ini, ia harus menjalani CAPD ( Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) yakni metode cuci darah melalui perut.

Baca Juga

Arva yang kini duduk di kelas 2 SD ini, merupakan anak kembar dari pasangan Sukamto (46) dan Sri Agustina (40). Saudara kembar Arva, yakni Arvel, tinggal di Surabaya bersama bibinya.

Bocah kembar ini pun ternyata bernasib sama, yakni menderita sakit gagal ginjal dan baru diketahui 2 tahun ini. Menurut Sri Agustina, dokter menyebut penyakit yang diderita kedua anaknya merupakan penyakit bawaan.

Kondisi ekonomi keluarga serba kekurangan, membuat perawatan Arva terkendala. Jadwal berobat yang seharusnya dilakukan seminggu dua kali itu, hanya mampu dilakukan sekali dalam seminggu.

Sukamto yang bekerja di bengkel las dan Sri Agustina sebagai ibu rumah tangga (IRT) tak sanggup untuk membawa anaknya berobat dua kali dalam seminggu karena himpitan ekonomi.

“Seharusnya jadwal dari dokternya itu hari Senin dan Kamis. Tapi kita hanya mampu hari Senin saja. Senin bapaknya ambil libur kerja, kamisnya bapaknya kerja, cari nafkah, buat makan sehari-hari,” ungkap Sri Agustina, ibu Arva pada KabarJombang.com, Rabu (14/10/2020).

Mirisnya lagi, meski dalam kondisi sakit, tiap Senin berangkat dan pulang dari Jombang – Rumah Sakit Dr Soetomo, Arva dibonceng bapaknya mengendarai sepeda motor.

“Sebenarnya naik bus atau kereta, bisa. Tapi kita ribet membawa cairan satu dus. Terus mengganti cairan sewaktu-waktu juga susah. Kalau naik motor, kita berhenti di SPBU buat mengganti cairan. Selain itu, biaya naik motor lebih murah,” lanjut Sri Agustina.

Setiap hari, Arva tidak terlepas dengan kantong cairannya. Tiap 4 jam sekali, cairan yang menempel di perutnya itu harus diganti.

Sri Agustina menceritakan, sakit yang diderita Arva berawal pada tahun 2019. Saat itu, anaknya ini mengalami kejang-kejang. Kemudian dibawa ke Puskesmas terdekat hingga ke berbagai rumah sakit.

“Awal sakit itu saya bawa ke Puskesmas, terus dirujuk ke beberapa rumah sakit, salah satunya di RSUD Jombang, dengan diagnosa gangguan ginjal. Sampai akhirnya dibawa ke Dr Soetomo, diagnosanya gagal ginjal,” lanjutnya.

Sri Agustina mengaku, awal sakit anaknya ini menggunakan uang pribadi. Sebab, saat itu belum mendapatkan fasilitas kesehatan dari pemerintah beripa BPJS/KIS. Saat ini, ia agak sedikit bisa bernafas lega, setelah BPJS gratis diurusinya itu bisa digunakan untuk berobat setiap minggunya. Meski, harus diperpanjang setiap tiga bulan sekali.

Sampai saat ini, dari CAPD yang dilakukan kerapkali terjadi kendala. Baru-baru ini pusar Arva mengalami benjolan akibat adanya cairan. Sebelumya, testis atau ‘telur’ Arva juga membesar akibat rembesan cairan. Hingga kemudian harus dioperasi. Tak heran, jika Arva sesekali merintih kesakitan dan menangis.

Untuk biaya perawatan dan transportasi, Sri Agustina mengaku harus “gali lubang tutup lubang”. Ini dilakukan ibu dan bapak Arva, demi pengobatan sang anak. Adapula beberapa obat yang harus ditebusnya secara mandiri.

“Untuk biaya pengobatan, sebelum ada BPJS kami utang, dan sampai saat ini belum terbayar. Untung saja, orangnya mengerti keadaan kami, tapi kami ya kadang merasa malu, harus ngutang. Ya gali lubang tutup lubang,” kisahnya.

Ia pun mengaku, sampai saat ini belum menerima bantuan apapun untuk biaya perawatan anaknya yang sakit, baik dari pemerintah desa (Pemdes) setempat maupun perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang.

“Sampai saat ini kami belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Desa maupun Pemkab Jombang. Saat ini, saya prihatin gitu lihat anak saya kalau kontrol naik sepeda motor. Ya panas, kehujanan, kena angin. Kalau naik ambulans desa, sekali perjalanan Rp 250 ribu. Kami tidak ada biaya,” lanjutnya.

Kondisi serta kekurangan ini, Sri Agustina juga mengaku tak mampu membeli susu sesuai anjuran dokter. Hingga kini, ia hanya mampu membelikan susu kaleng bagi Arva. Kedua orang tua Arva berharap, anaknya diberikan kesembuhan.

“Harapan saya, tentunya, semoga Arva diberikan kesembuhan. Anak-anak saya sehat semua. Supaya bisa jadi anak yang pintar, baik, serta membanggakan bagi kedua orangtua,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait