Belajar Daring, Begini Perjuangan Guru SD “Zaman Now” di Pedalaman Jombang

Budiono, guru kelas 2 SDN Tanjungwadung, sedang mengajari muridnya bernama Hilmi, saat tidak sengaja lewat sekolah, Sabtu (15/8/2020). (Foto: Anggraini Dwi)
  • Whatsapp

KABUH, KabarJombang.com – Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, merupakan istilah yang melekat di benak masyarakat. Apalagi guru yang bertugas mengajar di kawasan pedalaman, atmoster istilah tersebut masih kuat terasa di “zaman now”.

Lebih lagi, kala pandemi Covid-19 yang mengharuskan siswa belajar dari rumah lewat daring atau online. Kendala akses internet menjadi bahasan utama di kawasan pedalaman. Selain itu, siswa yang diajar sang guru, masih duduk di bangku kelas 1 atau 2 SD (sekolah dasar). Jangankan mengikuti LMS (learning managemen system) online, membaca dan menulis saja masih harus butuh pendampingan esktra.

Baca Juga

Begitulah yang dihadapi Budiono, seorang guru kelas 2 SD Negeri Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Sejak kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) diberlakukan, ia pun harus menyesuaikan diri dan mengatur strategi pola ajar, agar sebanyak 22 peserta didiknya tak ketinggalan pelajaran.

Saban hari setiap pukul 08.30 hingga 11.00 WIB, ia memilih tidak berleha-leha di sekolah dan memantau anak didiknya belajar setelah diberi tugas melalui online. Di antara jam aktif bekerja itu, Budiono malah berkeliling ke setiap rumah anak didiknya.

“Untuk materi pelajaran InsyaAllah kelas 2 SD sudah bisa. Tetapi untuk penulisan, jika tanpa dibimbing langsung, tidak bisa. Ya mendingan kami saja yang berkeliling ke rumah anak-anak,” kata Budiono, di sela-sela mendampingi salah satu siswanya belajar di kediamannya, Sabtu (15/8/2020).

Dalam durasi tiga jam setengah, Budiono menyadari tak semua peserta didiknya bisa disambangi dan dibimbingnya secara langsung. Sebab itu, Budiono mempersilakan peserta didiknya datang ke kediamannya, mulai pukul 14.00 hingga 20.00 WIB, secara bergiliran.

“Kalau datang ke rumah kami, harus bergiliran. Ada jadwal yang kami atur sebelumnya. Sekalian, protokol kesehatan,” sambungnya.

Budiono mengatakan, tanpa ada guru yang mendampingi dan membimbing secara langsung, bagi anak kelas 2 SD masih tidak bisa. Kalau pun diberi tugas, katanya, bukan anaknya yang mengerjakan. Melainkan orang tuanya.

“Memang nilainya bagus, tapi anak tetap beum bisa. Karena yang mengerjakan tugas adalah orang tuanya,” ujarnya sambil sedikit tertawa.

Selama mendatangi siswanya di rumah, menurut Budiono, belum ada kendala berarti yang dia rasakan. Dikatakannya, proses demikian hanya butuh kesabaran. Namun, kendalanya ada pada siswa dan orang tua, karena harus menunggu giliran. Terkadang, ia pun menerima ungkapan keberatan dan ketidaksetujuan dari wali murid.

“Terkadang saat kami keliling desa, ada wali murid yang memanggil. Dan kami diminta mampir. Ya, akhirnya kami mampir dengan dua murid untuk belajar bersama di salah satu rumah murid,” katanya.

Seperti siang itu, saat Budiono mengantar siswanya ke sekolah karena ada keperluan. Saat Budiono di sekolah, tanpa sengaja orang tua siswa bernama Hilmi lewat sekolah. Singkat cerita, Hilmi pun akhirnya diantar orangtuanya untuk belajar didampingi Budiono di teras sekolah.

“Anak saya kalau tidak belajar bersama itu tidak bisa. Jika belajar di rumah selalu bertengkar dengan saya atau ibunya. Dia nggak mau kalau belajar dengan orangtuanya. Jadi saya pasrahkan sama gurunya. Dan satu sampai dua minggu sekali, harus kroscek tugas-tugas ke gurunya yang sudah dikirim secara online itu,” ujar Zunador (42) orangtua Hilmi.

INSTAGRAM

Berita Terkait