Merawat Tradisi, PCNU Jombang Gelar Liwetan Akbar Bersama Ratusan Warga Nahdliyyin

Liwetan Akbar tasyakuran Hari Santri Nasional 2026 di Ponpes Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

PETERONGAN, KabarJombang.com – Suasana kekeluargaan mewarnai peringatan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang. Sebanyak 450 lebih warga Nahdliyyin bersama jajaran pengurus PCNU serta para Tokoh Agama dan Kiai mengikuti kegiatan tasyakuran yang dikemas melalui tradisi Liwetan Akbar, Kamis (30/10/2026) malam.

Selain memperkuat persaudaraan, kegiatan ini juga menjadi wujud merawat tradisi, serta mengenang jasa para ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Baca Juga

Beragam menu khas pedesaan, mulai dari nasi putih hangat, ikan, urap-urap, gorengan, sambal hingga lalapan, tersaji untuk dinikmati bersama. Peserta berkumpul mengelilingi hidangan yang disajikan di atas hamparan daun pisang. Tanpa sekat, para peserta duduk berjajar dan menyantap hidangan sembari berbincang serta mempererat keakraban.

Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, mengatakan bahwa Liwetan Akbar merupakan salah satu bentuk tradisi masyarakat Jawa yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi. Menurutnya, tradisi tersebut perlu terus dirawat karena mengajarkan pentingnya kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi.

“Alhamdulillah tradisi-tradisi seperti ini yang harus kita lestarikan, karena intinya sesungguhnya adalah silaturahmi,” ujarnya.

Panitia menyiapkan berbagai hadiah menarik, di antaranya perlengkapan rumah tangga seperti bantal, kipas angin dan jam dinding, perlengkapan ibadah berupa sarung dan kopyah, hingga merchandise khusus Hari Santri 2026.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai ruang perjumpaan warga Nahdliyyin sekaligus memperkuat hubungan antarsesama dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Majelis Yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum (MPPDU), KH Cholil Dahlan, menjelaskan bahwa tradisi liwetan merupakan bagian dari budaya masyarakat Jawa yang turut dijaga keberlangsungannya oleh pondok pesantren.

Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam merawat tradisi lokal agar tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia.

“Tradisi makan dalam liwetan itulah sebetulnya yang disatukan oleh pondok pesantren di seluruh Indonesia. Pondok pesantren itu menjaga tradisi supaya tradisi warga Indonesia,” paparnya.

Lebih lanjut, KH Cholil berharap kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut dapat menjadi cerminan persatuan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Ia menginginkan seluruh elemen NU tetap berjalan dalam satu visi dan misi demi melanjutkan perjuangan para ulama pendiri atau muassis NU.

“Kami berharap mudah-mudahan NU ke depan itu tetap satu misi, satu visi, satu gerak. Insyaallah Indonesia akan jadi sesuai yang diharapkan Mbah Wahab dalam lagu Yalal Wathon, baik perilaku dan keilmuannya,” pungkasnya.

Sementara itu, Asisten I (Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat/Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Jombang, Purwanto, yang hadir mewakili Bupati Jombang, mengajak masyarakat menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum untuk memperkuat rasa syukur sekaligus mengenang perjuangan para kiai dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia menegaskan, kemerdekaan yang dinikmati bangsa Indonesia saat ini tidak terlepas dari kontribusi para ulama, santri, dan seluruh elemen masyarakat yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan jiwa demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Momentum Hari Santri ini hendaknya kita jadikan sebagai sarana untuk meningkatkan rasa syukur dan terima kasih atas perjuangan para kiai dan santri yang telah ikut berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkap Purwanto.

Menurutnya, penghargaan terhadap jasa para pendahulu tidak cukup hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus diteruskan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, serta mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Purwanto juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan Nahdliyyin, untuk bersama-sama mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Jombang.

“Untuk mengisi kemerdekaan sekaligus mewujudkan rasa syukur dan terima kasih tersebut, mari kita tingkatkan persatuan dan semangat gotong royong. Dengan kebersamaan, kita dapat membangun Kabupaten Jombang serta meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat,” tambahnya.

Ia berharap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para kiai dan santri dapat terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Dengan semangat persatuan dan kepedulian sosial, masyarakat diharapkan mampu berkontribusi dalam menciptakan Jombang yang semakin maju dan sejahtera.

Berita Terkait