JOMBANG, KabarJombang.com – Komunitas TomboAti (KTA) Jombang bersiap mementaskan produksi teater ke-47 bertajuk ‘Hajatan’ yang mengangkat fenomena pergeseran nilai sosial masyarakat Jawa akibat modernisasi.
Pertunjukan ini dijadwalkan tampil di GOR Cak Durasim, Surabaya, pada 12 September 2026, serta di Gedung Kesenian Jombang pada 26-27 September 2026.
Crew KTA, Alfi Rizqoh, menyatakan bahwa naskah ini lahir dari keresahan atas perubahan sosial yang membuat masyarakat semakin individualistis.
“Dulu masyarakat Jawa terkenal guyub rukun ketika ada sebuah hajatan, saling bergotong royong. Sekarang karena adanya modernisasi, jadinya mereka hanya individu-individu,” kata Alfi Minggu (9/8/2026).
Pertunjukan memvisualisasikan kondisi ‘dekat tapi jauh’, di mana masyarakat yang berkumpul justru sibuk dengan telepon genggam masing-masing tanpa interaksi nyata.
“Awalnya guyub ketika tidak ada HP, entah itu ngobrol, ngopi, dan lain-lain. Sekarang meskipun mereka nongkrong bersama, tapi mereka sibuk dengan HP-nya masing-masing. Dekat tapi jauh istilahnya,” ujarnya.
Selain itu, masuknya budaya populer dan fenomena sound horeg turut disoroti karena kerap memicu persaingan gengsi hingga hajatan tandingan antarwarga.“Yang paling riskan adalah ketika semua serba individualistik,” katanya.
Naskah ‘Hajatan’ disusun berdasarkan riset dan pengamatan langsung terhadap realitas kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Basic-nya riset. Kita melihat keseharian masyarakat kita yang hari ini mulai berubah. Itu adalah keresahan-keresahan yang kita tangkap di setiap individu anggota Komunitas TomboAti, kemudian kita sharing,” jelas Alfi.
Sutradara ‘Hajatan’, Muhammad Qowy, menambahkan bahwa pergeseran nilai juga terjadi pada tradisi bantu-membantu yang kini kerap dibarengi pamrih dan motif materi.
“Kalau dulu penuh dengan rasa guyub, gotong royong, saling membantu tanpa pamrih. Tapi hajatan di masa kini, rata-rata orang itu sudah beralih moral. Mereka kalau membantu berharap ada imbalan,” kata Qowy.
Qowy juga menyoroti bagaimana tradisi luhur kini bergeser menjadi ajang pamer kekayaan dan gengsi sosial.“Di masa kini itu hajatan sudah bukan menjadi ajang rasa syukur, tapi ajang rasa gengsi,” ujarnya.
Dari segi artistik, produksi yang melibatkan sekitar 30 personel ini menandai langkah baru KTA keluar dari zona nyaman realis menuju eksplorasi non-realis dan absurd.
“KTA terbiasa dengan bentuk-bentuk pertunjukan realis. Di sini akhirnya kita keluar dari bentuk itu, kita menuju ke bentuk non-realis,” jelas Qowy.









