PETERONGAN, KabarJombang.com – Semangat peringati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tak selalu harus dirayakan dengan lomba-lomba yang itu-itu saja.
Berbekal kreativitas dan fasilitas sederhana, para pemuda di Dusun Jajar, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, berhasil mengubah gang sempit di sudut desa menjadi arena perlombaan yang unik, lucu, sekaligus menghibur.
Berbagai lomba hasil modifikasi digelar pada Sabtu (1/8/2026). Meski hanya memanfaatkan peralatan seadanya, suasana yang tercipta justru mampu mengundang gelak tawa warga yang memadati lokasi.
Menurut panitia, Singgih Trifan Saputra, ide tersebut muncul karena para pemuda merasa jenuh dengan model perlombaan Agustusan yang selalu berulang setiap tahun.
“Kami bosan dengan lomba Agustusan yang begitu-begitu saja. Akhirnya teman-teman berinisiatif membuat perlombaan yang lebih kreatif, lucu, dan menghibur dengan alat dan fasilitas yang sederhana,” ujarnya disela-sela lomba.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah lomba mancing kerupuk. Jika biasanya peserta hanya berlomba menghabiskan kerupuk yang digantung, kali ini konsepnya diubah menjadi layaknya memancing.
Kerupuk diikat menggunakan tali, kemudian pada bagian atasnya dipasang potongan bambu sehingga menyerupai kail pancing. Keunikan lomba ini, peserta tidak hanya harus menghabiskan kerupuk miliknya, tetapi juga menyuapi rekan satu tim secara bergantian.
Alhasil, peserta harus membagi fokus antara memancing kerupuk, menyuapi temannya, sekaligus menghabiskan jatah kerupuk sendiri. Tingkah peserta yang kerap kehilangan keseimbangan hingga salah sasaran membuat penonton berkali-kali tertawa.
Selain menghibur, permainan tersebut juga dirancang untuk melatih kekompakan, komunikasi, dan kerja sama antarpeserta.
Keseruan berlanjut pada lomba balap balon payung. Dalam permainan ini, peserta harus berjalan mengelilingi arena sambil membawa tiga balon yang dijepit di sela-sela kedua kaki, sementara kedua tangan memegang balon dan salah satunya juga harus membawa payung.
Kondisi itu membuat langkah peserta menjadi serba canggung. Tak sedikit yang kehilangan keseimbangan, menjatuhkan balon, hingga kesulitan mengendalikan payung. Gelak tawa penonton pun kembali pecah sepanjang perlombaan berlangsung.
Panitia juga menyesuaikan tingkat kesulitan bagi peserta anak-anak. Mereka hanya diwajibkan membawa satu hingga dua balon, namun tetap harus membawa payung sehingga permainan tetap terasa menantang sekaligus menyenangkan.
Tak kalah seru, lomba injak balon menjadi penutup yang memacu adrenalin. Setiap peserta yang terdiri dari tiga hingga empat orang memasuki arena sederhana berbentuk lingkaran dengan sebuah balon terikat di salah satu kaki.
Mereka harus mempertahankan balon miliknya agar tidak pecah, sembari berusaha menginjak balon lawan hingga meletus.
Siapa pun yang balonnya pecah lebih dulu otomatis tersingkir dari arena, sedangkan peserta yang mampu bertahan hingga akhir keluar sebagai pemenang.
Meski digelar di gang sempit dengan fasilitas sederhana, antusiasme warga terlihat begitu tinggi. Sorak sorai dan tawa penonton terus mengiringi setiap perlombaan, menciptakan suasana hangat khas perayaan kemerdekaan di kampung.
Bagi para pemuda Dusun Jajar, kemeriahan Agustusan tidak diukur dari besarnya hadiah maupun megahnya lokasi. Kreativitas, kebersamaan, dan kebahagiaan warga menjadi tujuan utama yang ingin dihadirkan dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini.
Di tengah riuh tawa penonton, Mario (13) tak mampu menyembunyikan rasa senangnya usai mengikuti lomba. Bocah asal Dusun Jajar itu mengaku dibuat penasaran karena konsep perlombaan yang belum pernah ia temui sebelumnya.
“Asyik banget, lombanya lucu dan bikin ketawa terus. Yang paling seru mancing kerupuk, soalnya harus kompak sama teman. Semoga setiap Agustusan ada lomba seperti ini lagi,” katanya sambil tersenyum.









