Wisata Kedung Cinet, Ditutup Perhutani Jombang Desember Lalu

Junior Manager Bisnis Perhutani Jombang, Hinung Pulong,  ketika ditemui di kantornya. (Ft: Daniel).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Belum lama ini, terjadi dua kali peristiwa di tempat wisata Kedung Cinet Pojok klitih, Kecamatan Plandaan, Jombang.

Pertama seorang pegowes, asal Plandi, Jombang, tergelincir dari jembatan dan jatuh ke sungai hingga tewas. Sedangkan yang paling gres adalah beberapa hari lalu, seorang bocah Sambong Dukuh, Jombang, ditemukan meninggal di Kali Kedung Cinet,  akibat dibunuh temannya sendiri.

Baca Juga

Menanggapi hal itu, Junior Manager Bisnis KPH Perhutani Jombang, Hinung Pulong (49) mengatakan,  pengelolaan wisata Kedung Cinet sudah tidak beroperasi alias tutup sejak bulan Desember 2019 lalu. Mengingat wisata Kedung Cinet merupakan aliran sungai dan rawan di musim penghujan.

“Sejak Desember tahun 2019 sudah kami tutup, surat juga sudah kami sertakan dengan tembusan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), ke Kapolsek dan Kepala Desa,”ungkap Hinung Pulong, Senin (26/10/2020).

Sejak saat itu, pihak pengelola wisata menutup pengelolaan wisata dengan memberikan ‘plang’ pemberitahuan tutupnya lokasi serta imbauan.

Hinung Pulong menuturkan, secara pengelolaan wisata ditutup. Namun kawasan hutan tidak memungkin untuk ditutup atau jalan ditutup. Pasalnya semua orang bebas untuk memasuki hutan tanpa merusak hutan.

“Jadi memang masuk kawasan hutan individu ya tidak dilarang asalkan nggak merusak atau mengambil. Namun itu tanggung jawab pribadi jaga diri pribadi. Berbeda kalau wisata itu masih kami kelola ada pengawasannya,”tuturnya.

Menanggapi jika ada pungutan biaya masuk atau parkir di lokasi wisata kala kawasan wisata ditutup, Perhutani menyebut penarikan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan insatnsinya.

“Kalau ditarik sudah tanggungan pribadi yang menarik biaya, untuk jasa mereka pribadi. Kita juga tidak bisa melarang jasa mereka ,”imbuhnya.

Pihaknya berharap agar masyarakat berhati-hati dan lebih waspada. Selain itu, pihaknya juga menginginkan adanya pengelolaan wisata diperpanjang, namun belum ada persetujuan dari pihak pihak terkait, untuk pengelolaan lebih lanjut.

“Kami harus sosialisasi terus, membuat dan memperbanyak plang pengumuman dan imbauan. Karena kami sudah tutup jadi tidak ada pengawasan,”pungkasnya.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait