Tandai Pembukaan Bulan Berkunjung Jombang, Seribu Pelajar Menari “Klono Sewu”

Sebanyak seribu pelajar saat menari Klono Sewu di Allun-alun Jombang.
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Seribuan pelajar di Jombang, Jawa Timur, memadati alun-alun setempat, Jumat (4/9/2019). Para siswa dari tingkat SD, SMP hingga SMA se Kabupaten Jombang ini seluruhnya memakai kostum ala penari remo. Dalam gerak yang kompak diiringi alunan gamelan mereka unjuk diri menampilkan Tari Klono Sewu.

Tari Klono Sewu sengaja dipilih sebagai pembuka rangkaian acara “Bulan Berkunjung Jombang” yang digelar oleh Pemkab Jombang di Alun-alun setempat. Tari kolosal tersebut merupakan satu-satunya warisan budaya bukan benda yang telah ditetapkan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018 lalu.

Baca Juga

Bupati Jombang, Mundjidah Wahab mengatakan, pihaknya sengaja melibatkan seluruh pelajar agar generasi milenial tidak lupa akan budaya dan kearifan lokal sehingga tarian asli Jombang tersebut bisa terus dilestarikan oleh para siswa.

“Ada seribu penari, 900 merupakan siswa atau pelajar dan yang seratus adalah guru pendamping. Ini kan tarian khas Jombang, saya berharap masyarakat di Jombang ini terus nguri-nguri budaya lokal agar tidak punah,” kata Munjidah, Jumat (6/9/2019).

Tari Klono Sewu berkembang dari seorang seniman asal Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang, bernama Ki Purwo. Dari kostum dan gerakannya sekilas, tarian Klono Sewu hampir mirip dengan Tari Remo. Hanya saja, tari khas Jombang ini memiliki ciri khusus, dimana sang penari menutup wajahnya dengan sebuah topeng kayu pada saat menari.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Jombang, Budi Nugroho mengatakan, untuk menghadirkan seribuan pelajar ini, bukanlah perkara mudah. Usaha itu membutuhkan waktu cukup lama dan melalui beberapa tahapan.

Menurutnya, Tari Klono Sewu ini salah satu bentuk penguatan pendidikan karakter yang sengaja dipilih untuk sarana membangun komunikasi dengan siswa. Para pelajar yang merupakan bagian generasi milenial menurutnya, merupakan media yang paling efektif untuk membantu Tarian khas Jombangan ini viral di masyarakat.

“Persiapannya sekitar satu bulan lebih, bukan hal yang mudah menghadirkan seribu penari ini. Kami ingin viralkan budaya Jombang ini utamanya digenerasi milenial, sehingga budaya asli Jombang ini tetap terjaga”, pungkasnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.