Statemen Bupati Soal Unggah-ungguh Berujung Audiensi, IKA PMII Anggap Selesai

Ketua IKA PMII Jombang, Amir Maliki Abitokha, Kamis (15/10/2020). (Foto: Anggraini)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Meski sempat meradang, PC PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Jombang akhirnya tidak lagi mempermasalahkan statemen Bupati Mundjidah Wahab soal “unggah-ungguh” setelah diterima beraudiensi di Pendopo setempat. Sikap yang sama juga ditunjukkan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jombang. Wadah alumni PMII ini juga menganggap selesai.

Ketua IKA PMII Jombang, Amir Maliki Abitokha menuturkan, audiensi antara Bupati dengan PC PMII Jombang, pada Selasa 13 Oktober 2020 malam, merupakan bentuk penyelesaian, dan menurutnya, kader PMII Jombang yang memohon maaf.

Baca Juga

“Malamnya mau audiensi, sorenya saya ke sana (sebuah warkop). Ya sudah, Lha sampaikan salam saya, kemudian kalian yang muda harus mohon maaf. Orang tua kan kadang-kadang pingin minta maaf, tapi karena orang tua, jadi ya kalian yang minta maaf, dan ayo lah, sinergi dengan Pemda,” cerita Amir Maliki saat bertemu dengan sejumlah Pengurus Cabang (PC) PMII Jombang, kepada KabarJombang.com, Kamis (15/10/2020).

Amir Maliki juga mengatakan, permintaan maaf Bupati Mundjidah tidak disampaikan secara langsung. Menurutnya, PC PMII Jombang diterima untuk beraudensi, dinilainya sudah merupakan bentuk permintaan maaf.

Ia juga mengatakan, ketika PC PMII Jombang datang ke Bupati, ada dua poin yang diakuinya telah selesai. Yakni terkait penyampaian salam dari para senior PMII Jombang, dan mempertanyakan sinergitas antara FOKP (Forum Organiasi Kemasyarakatan Pemuda) dengan Pemerintah Daerah (Pemda).

“Sambil cerita kalau beliau alumni IPPNU, Fatayat, Muslimat. Tapi memang tidak spesifik minta maaf. Diterima audiensi itu kan sudah permintaan maaf to.. Kita mau minta apa ke orang tua?,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Rektor salah satu perguruan tinggi di Jombang ini.

Dikatakan Amir Maliki, soal “unggah-ungguh” dengan mengerucut adanya perbandingan IPNU-IPPNU dengan PMII, tidak akan bisa ketemu. Meski standarnya, “unggah-ungguh” itu dikatakan “tidak sopan”. Pihaknya juga menegaskan, tidak perlu penjelasan atau diklirkan lagi, karena sudah tidak ada masalah dan normal-normal saja.

“Kalau bagi saya sudah tidak masalah, Irkham (Ketum PC PMII Jombang) saya beri pengertian juga tidak apa-apa. Karena ini orang tua to, lihat anak-anak,” ujarnya.

Ia juga berharap kepada para kader PMII Jombang agar terus memperbaiki, baik cara berfikir maupun akhlaknya.

Seperti diberitakan sebelumnya, statemen Bupati Mundjidah dalam sambutanya di Rapimcab IPNU-IPPNU di Aula Bung Tomo Pemkab setempat, pada Sabtu 3 Oktober 2020 lalu, membuat Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang, M Irkham Tamrin, meradang.

Menurutnya, pernyataan Bupati Mundjidah, dinilainya menyudutkan PMII, sebagai organisasi kader mahasiswa. Dalam statemen itu, kata Irkham, Bupati Mundjidah secara sengaja membanding-bandingkan antara hasil godokan PMII dengan IPNU dan IPPNU. Di mana, Bupati Mundjidah menilai IPNU-IPPNU masih memiliki unggah-ungguh dan tawadlu.

“Kalau sudah di Fatayat apalagi di Muslimat itu kan ketahuan, kader ini kalau memang godokan IPPNU atau langsung dari PMII. Langsung jadi pimpinan itu di NU akan sangat beda jauh. Dari cara penyampaiannya beda, wong akademisi nggak didelok nak ngarepe sopo-sopo (Jawa: Orang akademisi tidak melihat di depannya itu siapa). Tapi Alhamdulillah, kalau IPPNU masih ada tawadlu, unggah-ungguh masih ada kapada siapa kita bicara. Bagaimana kita bicara itu masih ada. Karena IPPNU, NU organisasinya sampai desa, jadi betul-betul ketemu dengan masyarakat. Tapi nyuwun sewu, kalau PMII dari kalangan akedemisi, langsung dan semua dianggapnya sama,” ucap Bupati di acara Rapimcab kala itu yang terekam video.

INSTAGRAM

Berita Terkait