Masjid Induk Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Saksi Perjuangan Para Ulama untuk Kemerdekaan Indonesia

Caption : Masjid Jami (induk) Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang./Diana Kusuma/
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Cerita menarik di balik pembangunan sebuah masjid induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang. Di mana empat pilar penyangga yang kini masih ada, didapatkan dari bangunan pendopo Pemerintahan Jombang di masa penjajahan.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu Pengasuh Ponpes Tambakberas, KH Hasib Wahab bahwa masjid yang telah didirikan lebih dari satu abad tersebut, oleh KH Hasbullah Said itu berawal dari tempat ibadah yang ala kadarnya.

Baca Juga

Menginjak masa KH Wahab Hasbullah, masjid induk tersebut dilakukan perbaikan sekitar tahun 1920 hingga lambat laun renovasi menggunakan salah satu bagian dari bangunan pendopo, yakni empat pilar penyangga yang hingga kini masih digunakan.

“Berdasarkan cerita yang saya pahami, saat itu pendopo mengalami kerusakan akibat bombardir penjajahan Jepang. Namun, ada empat pilar yang masih kokoh. Dibuat sayembara oleh Bupati yang memimpin saat itu, dan Mbah Wahab menyanggupi dan dibuatlah penyangga masjid induk atau masjid jami hingga sekarang,” katanya, Senin (4/4/2022).

Meski Kiai Hasib tidak ingat betul nama penjabat Bupati saat itu, lantas keempat pilar tersebut berhasil dibawa ke Ponpes Bahrul Ulum dengan membawa cikar (delman sapi) bersama santri saat itu.

“Bisa dibayangkan dulu belum ada mesin atau alat berat, jadi dengan rantai itu ditarik dan dibawa. Pilar penyangga dari kayu jati apa saya lupa, panjangnya sekitar 15 meter, lebarnya sekitar 40 sentimeteran berhasil dibawa dan dibuat penyangga itu sampai sekarang,” jelasnya.

Tulisan arab ح ر ت م (kemerdekaan yang sempurna) sebagai penyemangat perjuangan para ulama

Seiring berjalannya waktu, masjid induk yang berdiri di masa penjajahan itu, lambat laun dilakukan perluasan melihat kondisi santri dan warga semakin banyak berdatangan untuk melakukan ibadah.

“Awalnya masjid dengan menara itu agak berjauhan, namun melihat jamaah dan santri mulai banyak berdatangan, akhirnya diperluas sampai ada terasnya itu. Dulu gangnya satu kotak bagian dalam itu,” ungkapnya.

Cerita unik lain mengenai menara masjid induk juga menjadi sebuah perbincangan sejarah, dimana terletak huruf arab yakni ح ر ت م yang melambangkan sebuah cita-cita kemerdekaan kekal.

“Salah satu bagian yang juga masih ada sejak dulu, di bagian menara terdapat cerita menarik terdapat goresan huruf arab mengandung makna kemerdekaan yang sempurna. Menjadi cita-cita sejak Mbah Hasbullah Said menginginkan kemerdekaan. Sengaja ditulis dengan huruf arab agar tidak diketahui oleh bangsa penjajah saat itu,” terang Kiai Hasib.

Menurut Kiai Hasib, masjid induk Ponpes Bahrul Ulum juga menjadi saksi perjuangan para santri untuk mewujudkan kemerdekaan yang kekal jauh sebelum kemerdekaan 1945.

“Menjadi salah satu saksi perjuangan ulama di Tambakberas melakukan pergerakan, hingga sampai ingin merdeka yang sempurna, sampai digoreskan di menara yang sampai saat inipun masih ada tulisan tersebut,” pungkasnya.

Hingga kini, mengenai bentuk masjid induk yang menjadi Masjid Jami Ponpes Bahrul Ulum masih menjaga keaslian desain, mulai dari menara, pilar penyangga, dan segala ornamen yang ada. Hanya dilakukan perehaban karena jamaah yang bertambah, terdapat teras atau serambi untuk perluasan.

 

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait