Kisah Rumah Gebyok di Keras Jombang dan Mobil Brigade Polri Melawan Tentara Belanda

Rumah gebyok, sejarah tempat mobil Brigade Polri bertahan melawan tentara Belanda tahun 1949, di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang (Foto: Anggraini).
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com- Gebyok adalah sebuah ikon rumah Jawa. Rumah ini berhias ukiran unik dari kayu jati, kini memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

Secara filosofi, dapat dikatakan jika gebyok sebagai partisi atau batas tersebut tidak ada. Hal itu dapat mengusik keseimbangan dunia luar yang berelasi dengan sesama manusia dengan dunia dalam.

Baca Juga

Gebyok ini mencerminkan pemikiran dan perasaan estetika dan etika. Bukan hanya bentuk yang tidak berarti apa-apa. Tetapi gebyok mengacu pada hikmat manusia.

Seorang filsuf asal Rusia Leo Tolstoy mengatakan, bahwa “Seni itu bukan kerajinan, melainkan perwujudan perasaan dan pengalaman seniman. Sedangkan kerajinan perulangan kemahiran yang turun temurun”.

Kerajinan tidak mencerminkan perasaan seniman, melainkan mencerminkan rajin- sregrep- dari pembuatnya tersebut.

Rumah gebyok ini didapati di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, yang sudah turun temurun selama empat generasi. Dan rumah gebyok tersebut telah mengukirkan sejarah salah satu tempat mobil Brigade Polri yang bertahan melawan tentara Belanda tahun 1949.

“Jadi rumah ini memang sudah sejak buyut, mbah, dan orangtua saya dulu. Kemudian saya tempati saat ini. Dan memang para Brigade Polri dulu atau yang dikenal Brimob bersembunyi dan menempati rumah buyut saya ini untuk berlindung melawan tentara Belanda,” kata pemilik rumah gebyok Keras, Bambang Riyanto kepada KabarJombang.com, Minggu (28/2/2021).

Diceritakan, pada saat itu Balai Desa Keras, sempat dibakar Belanda hingga bermain bom pun dilakoni oleh Belanda. Persinggahan Belanda saat itu berada di Pabrik Gula.

Ia juga mengatakan, jika bapaknya dulu adalah seorang Brimob yang bernama Suharjono. Kemudian menetap di rumah gebyok yang ia tinggali saat ini bersama 30 temannya dari daerah-daerah lain.

“Dan bapak saya dulu memang seorang Brimob. Dulu kan istilahnya gerilya, terus bapak saya menetap disini bersama teman-teman anggota Brimob dari daerah lain, sekitar 30 orang,” ungkapnya.

Menetapnya para Brigade Polri di rumah gebyok ini yakni karena dipercaya buyut dari Bambang ini merupakan seorang pituah. Atau seseorang yang memiliki ilmu lebih atau dikenal sebagai orang pintar.

Sehingga, untuk mengetahui Belanda akan lari kemana Suharjono bisa meminta bantuan doa kepada buyutnya Bambang, agar para Brimob tidak sampai tertangkap oleh tentara Belanda.

Terlihat bangunan rumah gebyok milik Bambang tersebut masih asli semua mulai dari kayu jati yang masih berdiri kokoh. Berdinding gedek dan tidak berlantai kramik membuat kesan rumah tersebut masih sama seperti saat zaman buyutnya dulu. Dengan memberikan suguhan suasana yang dingin dan nyaman saat bertamu.

Namun, yang sudah mengalami renovasi dari rumah gebyok yaitu bangunan atap depan rumah. Dahulu atap depan rumah terbuat dari seng namun dirubahnya menjadi genteng. Dan rumah tersebut juga sempat ada yang menawar untuk dibeli, tetapi ia menolaknya.

“Ya bangunannya memang masih asli semua ini. Di Desa Keras yang saya tau rumah gebyok ya rumah saya saja ini. Dan alasan saya masih menempati rumah ini karena banyak dukungan dari saudara saya. Dulu sempat ada yang mau beli tapi saya kok ndak enak. Karena untuk kenang-kenangan sendiri,” ujarnya.

Di tiang depan rumah Bambang, juga terdapat papan yang bertuliskan ‘Disinilah Tempat Mobil Brigade Polri Bertahan Melawan Tentara Belanda Tahun 1949’.

Hal ini sebagai wujud bahwa rumah yang ia tinggali saat ini merupakan salah satu rumah bersejarah pada zaman Belanda.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait