Kisah Kebo Kicak dan Surontanu, di Balik Asal Usul Nama Kabupaten Jombang

Ringin Contong, titik nol sekaligus landmark Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Ringin Contong, titik nol sekaligus landmark Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Foto: dok Kelompok Faktual Media (KFM)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Sejarah asal usul nama Jombang, sebuah Kabupaten yang berada di bagian tengah Provinsi Jawa Timur konon tidak lepas dari legenda pertarungan antara Kebo Kicak dengan Surontanu.

Kabupaten Jombang sendiri memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas utara, dan selatan pulau Jawa (Surabaya-Madiun-Solo-Yogyakarta), jalur Surabaya-Tulungagung, serta jalur Malang-Tuban.

Baca Juga

Dikutip dari Wikipedia, pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah Jombang merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, sedang gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Dalam logo Kabupaten Jombang, memang terdapat gerbang dan benteng yang melambangkan bahwa zaman dahulu Jombang adalah benteng Majapahit (Mojopahit) sebelah barat.

Pada tahun 1910 Jombang memperoleh status kabupaten, memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Raden Adipati Arya Soeroadiningrat menjadi bupati pertama. Dia juga biasa disapa Kanjeng Sepuh atau Kanjeng Jimat. Dia juga merupakan keturunan ke-15 dari Prabu Brawijaya V, Raja terakhir Majapahit.

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur mengukuhkan Jombang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Nama Jombang konon, merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa yaitu ijo (hijau) dan abang (merah). Ijo (hijau) mewakili kaum santri (agamais), dan abang (merah) mewakili kaum abangan (nasionalis/kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan, dan harmonis di Kabupaten Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.

Sementara berdasarkan cerita dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat, nama Jombang tak lepas dari sosok Kebo Kicak dan Surontanu.

Konon katanya dulu di sebuah kadipaten milik Majapahit ada seorang anak yang dikutuk oleh orang tuanya, Kebo Kicak yang dianggap durhaka dikutuk sehingga kepalanya berubah menjadi kepala kebo(kerbau).

Setelah sadar akan semua kesalahannya Kebo kicak memutuskan berkelana dan terus berkelana hingga pada akhirnya Kebo kicak menemukan seorang guru.

Guru tersebut adalah seorang kyai. Dengan terus mengingat kesalahannya dan menanggung kutukan, Kebo kicak berguru bertahun tahun untuk menebus perbuatannya. Setelah sekian lama dia akhirnya benar benar sadar dan berhasil menuntaskan pembelajarannya, akhirnya dia dikenal sebagai orang yang tak hanya sakti tapi juga begitu soleh.

Lantas siapa Surontanu. Di kala itu di kadipaten asal Kebo kicak yang kelak akan disebut Jombang ada seorang perampok sakti yang bernama Surontanu. Ia adalah orang yang paling ditakuti olang orang-orang kabupaten, bahkan adipati yang tak lain ayah Kebo kicak kehabisan akal untuk menghabisi atau menghentikan Surontanu.

Dengan cepat terjadi huru-hara dirumah kadipati, Kebo kicak yang mendengar kabar itu berpamitan kepada sang guru dan berusaha menolong orang tuanya untuk menebus dosa. Sayang usahanya telah sia-sia. Sang ayah telah terbunuh di saat Kebo kicak menapakkan kaki di kadipaten, Kebo kicak yang telah kehilangan kesempatan untuk menebus dosanya begitu marah dan putus asa, dengan penuh rasa marah dia mengejar Surontanu hingga beberapa hari dia berhasil menemukannya.

Saat itu juga terjadi pertempuran hebat yang beralangsung antara Kebo kicak dan Surontanu. Menurut legenda ketika mereka bertarung keluar cahaya hijau(ijo) dan merah(abang), pertarungan sengit itu berlangsung berhari-hari hingga akhirnya dengan pemikiran yang matan dan keputusan bulat Kebo kicak memilih menenggelamkan Surontanu serta dirinya jauh kedalam Rawa tebu, dan hingga saat ini mereka tak pernah kembali lagi.

Versi lainnya, salah satunya mengisahkan bahwa Kebo Kicak adalah sosok kesatria. Dia mengobrak-abrik Kerajaan Majapahit untuk mencari ayah kandungnya yang bernama Patih Pangulang Jagad.

Setelah bertemu Patih Pangulang Jagad, Kebo Kicak diminta menunjukkan bukti bahwa dia benar-benar anak sang Patih. Cara membuktikannya tak mudah. Kebo Kicak diminta mengangkat batu hitam di Sungai Brantas. Dalam upayanya itu, Kebo Kicak harus berkelahi dengan Bajul Ijo.

Usaha Kebo Kicak membuahkan hasil. Setelah berhasil membuktikan bahwa dirinya anak kandung Patih Pangulang Jagad, Kebo Kicak diberi wewenang menjadi penguasa wilayah barat.

Ambisi kekuasaan yang tinggi membuat Kebo Kicak tak pernah puas. Dia bertarung dengan saudara seperguruannya, Surontanu, demi memperebutkan pusaka banteng milik Surontanu.

Konon, pertempuran kedua orang tersebut berlangsung amat dahsyat. Saat keduanya bertarung, muncul cahaya ijo (hijau) dan abang (merah). Dari penggabungan kata ijo dan abang tersebut muncul sebutan Jombang.

Kini, warna hijau dan merah tua begitu mencolok dalam logo Kabupaten Jombang. Warna dari perisai berarti perpaduan dua warna Jo dan Bang (ijo dan abang) sama dengan Jombang.

Warna hijau bermakna kesuburan, ketenangan, dan kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara, warna merah berarti keberanian, dinamis dan kritis.

Tapi, ada pula yang menyebut ijo mewakili kaum santri (agamis), sementara abang mewakili kaum abangan (nasionalis/kejawen).

INSTAGRAM

Berita Terkait