Setiap Manusia Adalah Calon Difabel, Ini Kata Direktur SDM Jombang

Direktur Suara Difabel Mandiri (SDM) Jombang, Ahmad Fathul Iman yang akrab dipanggil Iman. (Foto: Anggraini),
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com– Pada dasarnya setiap manusia yang hidup merupakan calon difabel. Hal itu ditegaskan Direktur Suara Difabel Mandiri (SDM) Jombang, Ahmad Fathul Iman.

Menurut Iman,  Difabel (different ability—kemampuan berbeda) merupakan seseorang yang memiliki gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan.

Baca Juga

Iman membeberkan, jika isu seperti ini jarang dilirik dan dianggap remeh oleh publik. Padahal jika melihat dalam jangka panjang setiap manusia adalah calon difabel atau bahkan difabel. Seperti orang yang menggunakan kaca mata, tunanetra, tunadaksa dan semacamnya.

“Bisa jadi kita semua adalah calon difabel bahkan difabel tetapi tidak merasa. Semisal kita punya penyakit asam urat, kencing manis hingga amputasi dan nantinya membutuhkan alat bantu jalan, difabel kan. Karena kita akan difabel pada waktunya, setiap tahun indra kita semua fungsinya akan menurun,” ujar Iman kepada KabarJombang.com, Senin (23/11/2020).

Iman memaparkan, jika SDM sudah dibentuk sejak tahun 2014 yang bertujuan untuk mengumpulkan masyarakat inklusi baik dari difabel maupun lintas agama yang memiliki hak yang sama.

“Memang fokusnya kita adalah difabel dan background saya juga mengajar di SLB Muhammadiyah. Dan kebetulan juga teman-teman SDM juga banyak kerja dari WCC, dari SLB lain, anak-anak muda kebanyakan. Pengurus ada sekitar 10 orang, untuk anggotanya ini kebanyakan dari difabel muda, totalnya semua difabel di Jombang adalah bagian dari apa yang kita perjuangkan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, bahwa dengan memperjuangkan difabel saat ini sebagai bentuk memperjuangkan diri kita sebagai manusia dimasa depan.

Salah satu cara memperjuangkan yakni dengan mengadvokasi layanan publik seperti akses jalan untuk para difabel. Berkegiatan bersama seperti kelas bahasa isyarat, skill training, ketahanan pangan.

“Dalam program ketahanan pangan ini merupakan salah satu bentuk edukasi kepada teman-teman difabel untuk bagaimana caranya memanfaatkan pekarangan rumah. Misalnya apa yang ditanam adalah tanaman organik untuk kebutuhan dan konsumsi para penyandang difabel sendiri, yang akan mengurangi badget pengeluaran harian,” tandasnya.

Iman berharap agar Pemerintah Jombang semakin sadar terhadap hak-hak para penyandang difabel. Yang tidak hanya membuat program jangka pendek bagi para difabel tetapi pemberdayaan secara jangka panjang. Dan ia sempat menyinggung bahwa pihak-pihak Dinas terkait masih egosentris terhadap para difabel.

Saat peringatan hari difabel 2019 kemarin ia juga menyampaikan kepada Bupati agar bagaimana anggaran desa bisa dialokasikan sebagiannya untuk difabel, bukan hanya dirupakan dalam bentuk bangunan fisik saja.

Dikatakan, hal ini adalah permasalahan kompleks bukan hanya satu bidang kedinasan saja. Ngomong sama bupati langsung juga sudah pernah.

“Bupatinya juga sudah menginstruksikan tetapi antar dinas itu masih egosentris. Dan bulan Desember 2019 kemarin itu adalah pertama kali Pembkab mengadakan hari difabel. Yang datang juga para stakeholder, kepala dinas se-Jombang, tak kritik semuanya, bahwa pemberdayaan itu ndak seperti itu. Buat program, LPJ an bubar jalan dana terserap, enggak, enggak kayak gitu,” keluhnya.

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait