Nostalgia, Radio dan Sandiwara Saur Sepuh yang Melegenda Bagi Masyarakat Jombang

Ilustrasi radio
Ilustrasi radio
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com –  Bramakumbara menaiki rajawali sakti 

Dengan cicitan menceruit 
Bersihponggang di kaki bukit 

Baca Juga

Ciiitttttt 

Itulah cuplikan drama radio mengisahkan Satria Madangkara yang diceritakan Dian Sukarno kepada KabarJombang.com.

Dikutip dari Wikipedia, Saur Sepuh adalah judul sandiwara radio yang menjadi legenda terbesar dari sandiwara radio yang pernah ada di Indonesia.

Saur Sepuh merupakan karya asli dari Niki Kosasih (almarhum) yang bercerita tentang perjalanan seorang pendekar sakti bernama Brama Kumbara yang kelak menjadi raja di salah satu kerajaan di wilayah selatan bernama Madangkara.

Bercarita mengenai saur sepuh dan budaya radio, ternyata hal ini sangat melekat pada masyarakat Jombang di era tahun 80-an. Saur sepuh rilis pertama kali di Indonesia pada tahun 1987.

“Waktu saya dan teman-teman SMP sekitar tahun 1986 itu membawa radio ke sekolah, dimasukan tas masing-masing. Jika waktu istirahat itu mendengar sandiwara radio saur sepuh,” ungkap Dian Sukarno.

Menurutnya, alasan terkuat saur sepuh diterima masyarakat dan sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari karena penggarapan naskah yang begitu apik.

Ditambah pengisi suara begitu menjiwai karakter dan menghasilkan suara yang bagus. Terlebih radio memiliki sifat ‘teater of mind’ atau imajinasi kuat.

“Kekuatan radio itu teater of mind. Radio lebih gampang dibawa kemana-mana dan merakyat. Kalau televisi itu termasuk mewah dan hanya orang kaya yang menikmati. Apalagi televisi juga nggak bisa dibawa kemana-mana,” jelasnya.

Harga radio sekitar pada tahun 70-an masih seharga Rp 100,- sedangkan semasa zaman Dian Sukarno SMP berkisar harga Rp 10 ribu. Kebanyakan masyarakat membeli radio karena memiliki daya sihir yang begitu kuat.

“Munculnya sandiwara radio bersamaan dengan bridge dance, Saya ingat guru biologi menghukum siswa karena kursi dan meja baru ditaruh ditengah kelas untuk bridge dance,” tambahnya

Seiring berkembangnya waktu persaingan radio mulai bermunculan dengan hadirnya televisi swasta, seperti rajawali citra televisi, SCTV, ANTV, global tv dan lativi.

Radio semakin mengalami penurunan ketika munculnya internet serta sosial media. Salah satunya podcast, bahkan radio streaming saat ini, kata Dian mirip dengan konsep podcast.

“Radio Prambors tetep eksis pasca tsunami Aceh dengan adanya jaringan radio lokal untuk demokrasi. Namun semakin kesini ada internet mulai surut,” pungkas Dian.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait