Purwanto, Sosok Aktivis Penggerak Pemuda Mojoagung

Purwanto, penggagas komunitas air kita dan penggerak pemuda Mojoagung. (Ft: Daniel).
  • Whatsapp

MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Purwanto (36) seorang pria kelahiran Jombang, 2 Maret 1984, adalah pelopor atau penggagas dari komunitas ‘Air Kita’. Lebih gampangnya Purwanto merupakan penggerak para pemuda Mojoagung untuk sadar akan lingkungan dan kebudayaan.

Purwanto tinggal  di Dusun Karangwinong Timur, Desa Karangwinong, Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang. Di rumah itu pula, di bagian belakang tersedia base camp untuk kegiatan sosial yang dipakai setiap harinya.

Sebelumnya Purwanto bekerja di luar Kabupaten Jombang dan kerap kali berpindah pindah pekerjaan. Mencoba bekerja di Mojoagung sendiri sempat ia lakoni. Namun terakhir kali dia keluar kota untuk bekerja, malah rasa tidak nyaman yang ia dapatkan.

“Saya ini produk gagal pendidikan formal karena tipe pemberontak. Namun saya dapat ilmu, pengalaman, dan kenalan malah di jalanan atau di lapangan gitu. Akhirnya saya sevisi sama kawan kawan saya,” ungkapnya pada KabarJombang.com, Kamis (29/10/2020) lalu.

Berawal dari pertemuan bersama rekannya pada tahun 2015, Purwanto memiliki gagasan dan proyek kegiatan sosial. Selain menjalankan kegiatan sosial dirinya saat ini fokus bekerja di rumah dengan bertani jamur.

“Waktu itu saya bekerja membuat produksi bahan bahan rumah tangga kerjasama dengan perusahaan. Semakin kesini saya yakini saat dunia saya bukan di dunia proyek,”paparnya.

Setelah bertemu rekannya pada tahun 2015, dan memiliki visi dan misi sama. Akhirnya mereka membuat proyek sosial terkait air bersih, yakni sosialisasi air hujan untuk minum, hingga tercetus program “Air  Kita”.

“Sosialisasi ini untuk mengedukasi masyarakat, bagaimana kualitas dan kuantitas air yang dimiliki, sosialisasi krisis air bersih. Serta yang paling utama adalah pemanfaatan air hujan untuk diminum inilah gagasan awal kami,” tambahnya.

Pria yang memiliki segudang pengalaman baik dalam dunia pendidikan maupun bidang swasta itu, menyebut tahun 2015 sebagai awal mula adanya gagasan membentuk komunitas ‘Air Kita’ hingga pada tahun 2017 berjalanlah program mereka. Saat ini komunitas ini memiliki tiga cabang program dengan tujuan mulia.

Cabang pertama adalah rumah baca air kita, dengan kegiatan belajar kelompok dengan konsep bermain. Sekaligus mengembangkan kesenian daerah dengan menumbuhkan potensi dan bakat anak anak lingkungan sekitar.

“Kemarin sempat main wayang beber, berbentuk lukisan dibuka sedikit demi sedikit lalu diceritakan oleh dalang. Kita disini menggunakan pendekatan teater modern, hingga kita bisa pentas di event besar,” jelas pria yang memiliki jiwa teater sejak kecil ini.

Cabang kedua yakni museum bergerak yang berarti pameran barang sejarah setiap setahun sekali dalam festival yang digelar. Selanjutnya adalah

kajian-kajian sejarah dengan talkshow mengangkat warisan budaya dan tak benda.

Cabang ketiga adalah bidang keagaaman, yakni kajian kitab di pondok Udan Albi Adab. Kegiatan yang dilakukan antara lain mengaji, memberi bantuan anak yatim dan duafa. Yang dikemas dalam kegiatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.

“Ketertarikan kebudayaan sudah sejak dari kecil terlebih kegiatan diatas panggung, kemudian tergabung di teater. Maka dari itu anak anak diajari dari lingkungan terdekat dulu, untuk menjaga kelestarian budaya ndak usah muluk-muluk terlalu tinggi,” imbuhnya.

Kegiatan sosial yang dijalankan ini dikatakan harus siap resiko. Pasalnya yang dilakukan adalah gerakan untuk masyarakat untuk membangun kearifan lokal.

“Terkait anggaran kalau ada yang membantu Alhamdulillah, tidak ada juga tidak masalah. Harapan saya kalau ini ada kesesuaian dengan program pemerintah kita dapat berinergi kalau tidak yang tidak apa-apa,” tandasnya.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait