JOMBANG, KabarJombang.com- Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Jombang mengalami peningkatan signifikan sepanjang musim kemarau 2026. Hingga 20 September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang mencatat 157 kejadian, dengan total estimasi lahan yang terbakar mencapai 148,6 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengungkapkan peningkatan paling mencolok terjadi dalam tiga bulan terakhir. Bahkan, September menjadi periode dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni mencapai 65 kasus.
“BPBD Jombang mencatat di tahun 2026 ada lima kecamatan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan terdampak yakni Kecamatan Jombang, Mojoagung, Mojowarno, Diwek, dan Kecamatan Ngoro,” jelasnya, Kamis (24/9/2026).
Berdasarkan rekapitulasi BPBD, kejadian karhutla pada awal musim kemarau masih relatif rendah. Pada Mei hanya terdapat satu kejadian, sedangkan Juni tercatat dua kejadian. Kondisi kemudian berubah pada Juli dengan 36 kejadian, disusul 52 kejadian pada Agustus, dan 65 kejadian pada September.
Dari setiap kejadian, rata-rata area yang terbakar diperkirakan sekitar 0,9 hektare. Waktu kejadian juga didominasi pada sore hari.
Wiku menjelaskan, munculnya karhutla tidak disebabkan satu faktor saja. Beberapa pemicunya antara lain aktivitas pembakaran lahan, kegiatan manusia, serta kondisi cuaca panas yang membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.
Dampak karhutla juga tercatat cukup luas. BPBD menyebut terdapat 20 kecamatan yang terdampak. Selain itu, satu warga dilaporkan terdampak dan satu orang tercatat menjadi korban jiwa.
Dari pemetaan tingkat risiko, Wonosalam termasuk wilayah yang perlu mendapat perhatian karena sebagian besar kawasannya berupa hutan dan vegetasi. Tingkat risiko sedang hingga tinggi juga terdapat di sejumlah wilayah Bareng, Ngoro, dan Mojowarno.
Adapun sebagian wilayah Plandaan, Kabuh, serta Ngusikan yang memiliki karakter lahan kering atau tegalan berada dalam kategori risiko sedang. Wilayah lain di Kabupaten Jombang berada pada tingkat risiko rendah hingga sedang.
Upaya pemadaman dan penanganan karhutla di lapangan tidak selalu berjalan mudah. BPBD Jombang menghadapi kendala berupa kondisi medan yang terjal dan berbukit, akses jalan yang rusak, keterbatasan kendaraan untuk menjangkau medan sulit, hingga waktu tempuh menuju lokasi kebakaran.
Persoalan sumber air turut menjadi tantangan, terutama di lokasi yang jauh dari sumber air atau hanya memiliki sumber dengan daya tampung terbatas. Ketersediaan personel juga menjadi kendala karena jumlah petugas terbatas, sementara operasi pemadaman yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan. Jumlah relawan yang memiliki keterampilan penanganan karhutla juga masih terbatas.
BPBD masih menghadapi keterbatasan peralatan pemadam dan alat pelindung diri (APD). Komunikasi di lapangan juga dapat terkendala lemahnya jaringan sinyal, sedangkan informasi mengenai titik lokasi kebakaran secara real-time belum selalu akurat.
Koordinasi antarlembaga menjadi bagian yang perlu diperkuat, terutama terkait pembagian tugas, respons awal ketika kebakaran terjadi, serta keterlibatan masyarakat dalam penanganan.
“Berbagai tantangan di atas perlu diidentifikasi dan diatasi bersama agar penanganan karhutla lebih efektif dan optimal,” ujar Wiku.
Dengan tingginya kejadian selama musim kemarau, BPBD Jombang meminta masyarakat lebih waspada terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lahan dan cuaca berada dalam keadaan kering dan panas.









