Refleksi Sumpah Pemuda 2020 Pusat Studi Kewirausahaan Dewantara Jombang

Pilih Mana, Bekerja di Perusahaan atau Berwirausaha?

Ketua Pusat Studi Kewirausahaan Dewantara, Chusnul Rofiah, Rabu (28/10/2020). (Foto: Anggraini)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Pemuda yang identik dengan penggerak perubahan, setidaknya harus menjadi pelopor di masanya. Di era digitalisasi ini, perjuangan pemuda lebih menitkiberatkan ke bidang ekonomi dan kemandirian dalam berbisnis.

Ketua Pusat Studi Kewirausahaan Dewantara, Chusnul Rofiah mengatakan, perjuangan pemuda diera 1928 dengan era 2020, tetap sama. Bedanya, lanjut dia, kalau dulu untuk memperjuangkan kemerdekaan, jika sekarang lebih ke bidang ekonomi.

Baca Juga

“Perjuangan di sini, yakni adanya kebaruan model bisnis yang dijalankan, pemikiran inovatif, penawaran baru yang harus jauh berbeda dengan bisnis model konvensional,” ujar Chusnul, merefleksikan Hari Sumpah Pemuda tahun ini, Rabu (28/10/2020).

Ia mengatakan, perkembangan kewirausahaan di Jombang cukup berkembang. Dimulai terlihatnya usaha-usaha baru yang dimiliki anak muda di Jombang. Meskipun belum ke arah model kreatifitas sepesat di kota lain.

“Karena kan dibentuk dari latar belakang yang berbeda. Misalnya orang tua di Jombang cenderung lebih suka anaknya bekerja di perusahaan benefit. Sedangkan pemudanya sudah mulai terbuka untuk berwirausaha,” ungkapnya.

Hal ini, kata Chusnul, merupakan salah satu hal yang harus diperjuangkan dan harus didukung semua pihak, terutama keluarga. Bahwa pemahaman tentang wirausaha bagi anak muda sangatlah penting.

Selain itu, lanjut Chusnul, kondisi pandemi Covid-19 ini, bukan berarti ruang gerak menjadi terbatas untuk berwirausaha. Justru dengan kondisi pandemi inilah banyak sekali peluang usaha yang terbuka lebar. Mulai dari jasa kurir, jasa creative marketing, jasa desain, jasa packing, olahan rempah, hingga fashion.

“Apalagi dunia online, sudah tidak ada lagi batasan dan saya rasa tidak ada alasan bahwa pandemi ini lebih sulit ekonomi, kalau menurut saya, malah sangat luas bahkan kalau kita dulu jualan offline dan yang beli itu-itu aja, sekarang malah memungkinkan perluasan jangkauan pasarnya, hanya saja kita butuh pembiasaan,” tegasnya.

“Kita suka mengklaim sepi orderan, kenapa bisa? Ya bisa saja kerena pembelinya sekarang beralih ke online masak kita paksakan jualan offline, kita sebagai wirausaha juga harus ikut beralih medianya,” imbuhnya.

Chusnul juga menuturkan bahwa sebagai anak muda jangan hanya berfokus menjadi jobseeker, tetapi berubah fokus tersebut menjadi jobcreator. Dan itu yang disebut semangat anak muda, anak muda darahnya juga muda, mestinya masih penuh dengan rasa penasaran dan tantangan, bukan berharap kemapanan.

Dikatakannya, pengetahuan saat ini sudah bisa diakses dengan bebas, tanpa batas karena jika salah klik akun saja bisa bahaya, untuk itu disarankannya untuk sering berdiskusi atau berkomunitas dengan teman yang juga memiliki usaha atau melihat video motivasi usaha. Agar wawasan tidak hanya melulu itu-itu saja.

“Berwirausaha itu ibaratnya sama dengan belajar hingga akhir hayat, tidak ada yang namanya stabil di dunia usaha. Karena ujian kita setiap saat dan tidak kenal waktu kenapa, karena Allah selalu ingin menaikkan derajat kita dengan akan dipercayakan rejeki orang melalui kita, apa iya setelah usaha jalan terus kita santai-santai saja? Tidak mungkin! Saya yakin itu,” tekannya.

Chusnul juga membeberkan, sebelum mengelola uang Rp 1 miliar, yang harus dipelajari mengelola uang Rp 100 juta dulu. Sebelum Rp 100 juta harus belajar mengelola Rp 10 juta. Sebelum Rp 10 juta belajar mengelola 1 juta dan seterusnya.

“Apa iya saat kita punya omset Rp 100 ribu tidak pingin nambah? Pasti akan ingin nambah lagi kan? Untuk itu saya sampaikan lagi, sangat penting bagi wirausahawan untuk berkomunitas, untuk sharing, membuka wawasan baru dengan teman-teman pengusaha,” tandasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait