Foto: Para santri Pondok Pesantren Al Aqobah 4, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang saat mengaji kitab kuning klasik dengan pendekatan tiga bahasa. (Istimewa)
DIWEK, KabarJombang.com – Inovasi pendidikan pesantren kembali hadir dari Pondok Pesantren Al Aqobah 4 yang berlokasi di Jalan Minha Nomor 01, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Lembaga pendidikan Islam ini menggelar pengajian kitab kuning klasik dengan pendekatan tiga bahasa, yakni Arab, Inggris, dan Indonesia.
Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan Ramadan tersebut dirancang berbeda dari metode pengajian tradisional. Selain mengkaji teks berbahasa Arab, para santri juga memperoleh penjelasan dan terjemahan dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris secara bergantian.
Model pembelajaran ini bertujuan memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa asing para santri sebagai bekal menghadapi tantangan global.
Pengasuh pesantren, KH Akhmad Kanzul Fikri yang akrab disapa Gus Fikri, menjelaskan bahwa penggunaan tiga bahasa dalam kajian kitab merupakan bagian dari strategi pembekalan santri agar mampu beradaptasi di era modern.
“Lulusan pesantren perlu memiliki kompetensi bahasa agar mampu menyampaikan dakwah tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional hingga internasional,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (25/2/2026).
Ia menegaskan, penguasaan bahasa asing menjadi nilai tambah penting bagi santri. Dengan kemampuan tersebut, pesan dakwah diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk komunitas di luar negeri.
Salah satu santri, Atayanul Nafis, mengaku antusias mengikuti program tersebut. Santri asal Gresik itu menilai metode pengajian tiga bahasa memberikan pengalaman baru yang memperkaya pemahaman terhadap kitab kuning sekaligus meningkatkan keterampilan berbahasa.
“Suasana Ramadan di pesantren juga semakin semarak dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti tadarus Al-Qur’an, kajian kitab klasik, hingga pelaksanaan qiyamul lail,” ungkapnya.
Program ini dinilai sebagai langkah progresif dalam pengembangan sistem pendidikan pesantren. Melalui perpaduan penguatan ilmu agama dan keterampilan bahasa asing, pihak pesantren berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya mendalam dalam pemahaman keislaman, tetapi juga adaptif dan siap bersaing di tingkat global.
Sebagian santri, lanjutnya, telah memiliki dasar kemampuan bahasa Inggris dan Arab melalui pendidikan formal di sekolah, sehingga metode ini semakin mengasah kompetensi yang telah dimiliki.
Leave a Comment