Pesantren & Pendidikan

Pentingnya Kemampuan Menulis bagi Pelajar, PC IPNU Jombang Dorong Santri Melek Jurnalistik

JOMBANG, KabarJombang.com – Tak semua orang terlahir sebagai anak ulama besar atau keturunan raja. Namun setiap orang punya kesempatan meninggalkan jejak, salah satunya lewat tulisan. Kesadaran sederhana namun penting itulah yang ingin ditanamkan kepada para santri Jombang melalui sebuah pelatihan jurnalistik yang digelar PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jombang pada Jumat (21/11/2025).

Pelatihan bertajuk “Jurnalistik Ala Santri Pesantren” itu berlangsung di Aula Masjid Roudlatul Jannah, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Jombang. Kegiatan menghadirkan dua jurnalis yakni Rojiful Mamduh, Redaktur Jawa Pos Radar Jombang, serta Kevin Nizar, Jurnalis Kabar Jombang.

Ketua PC IPNU Jombang, M. Syahrul Munir, menegaskan bahwa santri hari ini harus adaptif dengan perkembangan zaman, termasuk dalam hal literasi digital. Kemampuan menulis, menurutnya, tidak hanya bermanfaat untuk dunia akademik, tetapi juga untuk membangun karakter dan peran sosial pelajar.

“Santri sekarang tidak cukup hanya cakap mengaji. Mereka harus bisa membaca keadaan, menulis, dan menyampaikan informasi yang benar. Pelatihan ini ruang belajar agar pelajar NU makin siap menghadapi tantangan era digital,” ujarnya.

Pada sesi pertama, Rojiful Mamduh menjelaskan bahwa menjadi jurnalis sejatinya dimulai dari kemampuan melihat dan merasakan lingkungan sekitar. Menurutnya, setiap peristiwa, sekecil apa pun, bisa menjadi bahan tulisan jika kita peka. “Di manapun sebenarnya bisa kita jadikan sebuah tulisan, asal kita peka. Dan kepekaan itu perlu dilatih,” ujarnya.

Ia menambahkan, santri memiliki banyak pengalaman unik yang bisa dijadikan cerita. Mulai dari interaksi sehari-hari di pesantren, kegiatan belajar mengajar, hingga tradisi khas pesantren, semua bisa diangkat menjadi berita atau tulisan yang menarik.

“Apalagi santri, hidup di pesantren itu penuh cerita. Hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa sebenarnya bisa menjadi tulisan yang bermanfaat bagi orang lain,” terang Rojif sapaan akrabnya.

Selain itu, Rojif menekankan pentingnya membiasakan diri menulis secara konsisten. Ia mengatakan, menulis bukan hanya soal teori, tetapi harus dibiasakan melalui praktik agar kemampuan menulis semakin matang.

“Kebiasaan menulis itu seperti latihan otot, semakin sering dilatih, semakin kuat kemampuan kita menyampaikan ide dan fakta,” ujarnya.

Dalam pelatihan ini, Rojif membimbing peserta untuk langsung mempraktikkan penulisan berita. Peserta diminta menulis laporan singkat tentang kegiatan pesantren atau pengalaman sehari-hari mereka.

Ia membimbing mereka menyusun fakta, mengatur alur tulisan, dan menyesuaikan gaya penulisan jurnalistik agar lebih jelas dan informatif.

Rojif menekankan bahwa praktik langsung ini penting agar peserta merasakan proses menulis secara utuh, mulai dari mengamati, menulis, menyunting, hingga melihat hasilnya tercetak.

“Dengan praktik ini, peserta belajar bagaimana mengekspresikan pengamatan dan pengalaman menjadi informasi yang bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan, menulis bukan hanya untuk dibaca orang lain, tetapi juga bisa menjadi sarana refleksi diri.

“Banyak orang menulis untuk menenangkan pikiran, menyalurkan perasaan, atau sekadar mencatat pengalaman. Ini membantu kita lebih fokus, kreatif, dan mampu melihat hal-hal yang sebelumnya terlewatkan,” terang Rojif.

Materi berikutnya dibawakan oleh Kevin Nizar. Ia membuka sesi dengan pembicaraan ringan soal kebiasaan menulis ada yang rajin, ada yang tidak pernah sama sekali.

Menurut Kevin, menulis adalah aktivitas yang dekat dengan hampir semua profesi. Bahkan, ia mengingatkan bahwa banyak tokoh besar lahir dari tulisan.

Ia kemudian mengutip pesan Imam Al-Ghazali yang menjadi landasan motivasinya sejak awal terjun ke dunia jurnalistik. “Kalau kamu bukan anak ulama besar, bukan pula anak raja, maka menulislah.”

“Coba tanya diri sendiri, ada yang anak raja? Ada yang anak ulama besar? Kalau bukan, berarti ya menulislah. Atau minimal mengetik. Sekarang semua sudah sangat dimudahkan teknologi,” ujarnya disambut tawa peserta.

Menurutnya, menulis bisa menjadi jalan menuju keadilan, ruang dakwah, sarana edukasi, hiburan, bahkan kritik sosial. Yang paling penting, kata Kevin, menulis memberi kesempatan bagi seseorang untuk berdampak dan bermanfaat.

Kevin juga mengungkapkan sisi lain dari menulis: kemampuan meredakan tekanan psikologis.

“Kalau lagi galau, resah, stress, coba tuangkan uneg-uneg ke tulisan. Itu membantu banget. Rasanya bisa lebih tenang,” katanya.

Ia menjelaskan banyak karya besar seperti lagu, film, konsep, hingga naskah undang-undang lahir dari proses menulis. Kebiasaan sederhana seperti mencatat pengeluaran harian atau menuliskan rencana materi, menurutnya, bisa menjadi latihan awal bagi siapa pun yang ingin membangun kemampuan literasi.

Menutup sesi, ia menunjukkan betapa mudahnya membuat produk jurnalistik di era digital, bahkan hampir semudah membalikkan tangan.

Leave a Comment
Share
Published by
Wahyu Umattulloh Al'iman