Kapolres Jombang saat didorstop para peserta safari jurnalistik PWI Jombang di SMKN 1 Jombang. (Kevin Nizar)
JOMBANG, KabarJombang.com – Suasana halaman SMKN 1 Jombang mendadak riuh pada Rabu (29/4/2026). Puluhan siswa tampak berkerumun, lengkap dengan ponsel dan alat tulis di tangan, mencoba ‘mencegat’ Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, yang baru saja selesai memberikan paparan materi.
Bukan demonstrasi, aksi tersebut merupakan simulasi wawancara doorstop atau wawancara cegat yang menjadi bagian dari rangkaian acara PWI Jombang Goes to School and Campusm
Dalam simulasi ini, para siswa ditantang untuk mempraktikkan langsung ilmu jurnalistik yang baru saja mereka terima dari para narasumber Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)Jombang.
Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja layaknya tim redaksi sungguhan. Ada yang bertugas sebagai reporter yang melontarkan pertanyaan tajam, videografer yang menjaga stabilitas gambar, hingga fotografer yang mencari sudut pandang (angle) terbaik.
Isu yang diangkat dalam simulasi wawancara tersebut adalah seputar upaya pencegahan kenakalan remaja dan kesiapan menuju Indonesia Emas 2045.
Suasana semakin meriah saat AKBP Ardi Kurniawan memberikan tantangan kepada para peserta. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kekritisan siswa, Kapolres memberikan hadiah berupa helm kepada lima siswa yang berani mengajukan pertanyaan tajam dan maju ke depan.
Pemberian helm ini bukan tanpa alasan. Selain sebagai penghargaan, hadiah tersebut merupakan simbol pesan keselamatan berkendara dan kepatuhan hukum di jalan raya, sesuai dengan materi kedisiplinan yang disampaikan.
”Tadi sempat grogi saat harus maju dan menyodorkan HP untuk merekam suara Pak Kapolres, tapi seru sekali. Apalagi tidak menyangka bisa dapat hadiah helm karena berani bertanya. Kami jadi tahu bagaimana rasanya jadi wartawan yang harus sigap mengejar narasumber,” ujar Nabila salah satu peserta.
Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, tampak antusias melayani “serbuan” pertanyaan dari para reporter cilik tersebut. Ia menilai metode simulasi dan pemberian reward ini sangat efektif untuk mengukur sejauh mana siswa menyerap materi.
”Melalui praktik doorstop ini, siswa belajar berani berbicara dan menyusun pertanyaan kritis. Pemberian helm ini adalah cara kami menyemangati mereka agar terus berani menyuarakan kebenaran dan tetap disiplin, baik di sekolah maupun di jalan raya,” pungkas AKBP Ardi.
Dalam pemaparannya Kapolres Jombang mengingatkan, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi jika para pelajar mulai menanamkan disiplin sejak hari ini. Menurutnya, generasi penentu masa depan bangsa adalah para pelajar saat ini.
”Jangan pernah menggadaikan masa depan yang cerah hanya demi emosi sesaat yang merugikan. Lebih baik dikenal karena prestasi yang membanggakan daripada menjadi viral karena melakukan pelanggaran hukum,” tuturnya.
Lebih lanjut AKBP Ardi Kurniawan menjelaskan, hukum hadir bukan untuk ditakuti, melainkan untuk ditaati demi ketertiban bersama.
“Setiap tindakan seperti balap liar, perundungan (bullying), hingga narkoba memiliki konsekuensi hukum serius yang akan tercatat dalam SKCK dan dapat merusak masa depan,” jelasnya.
“Pelajar harus membangun karakter unggul yang memiliki integritas, religius, dan nasionalisme, serta berani menjauhi segala bentuk persaudaraan yang tidak sehat,” lanjutnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Eko Redjo Sunariyanto, menyatakan dukungannya terhadap sinergi antara kepolisian dan pers di lingkungan sekolah.
”Kami sangat mengapresiasi langkah inovatif ini. Materi kesadaran hukum yang dikemas dengan praktik jurnalistik membuat siswa lebih cepat menyerap informasi,” ucapnya.
Menurutnya, kedisiplinan adalah modal utama bagi mereka untuk bersaing secara global di tahun 2045 nanti. Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi benteng bagi siswa dari pengaruh negatif lingkungan.
Sementara itu, Kepala SMK Negeri 1 Jombang, Abdul Muntolib, mengaku bangga dengan keberanian anak didiknya saat melakukan simulasi. Ia menilai kehadiran narasumber dari kepolisian dan wartawan memberikan wawasan yang sangat luas bagi para siswa.
”Ini adalah edukasi yang komplet. Siswa kami tidak hanya belajar teori disiplin dan anti-kenakalan remaja, tapi juga belajar cara berkomunikasi secara publik dan mengolah informasi secara kritis,” terangnya.
Pihaknya di SMKN 1 Jombang berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tapi juga memiliki karakter yang taat hukum dan literasi digital yang baik.
Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, menjelaskan bahwa safari jurnalistik ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis.
“Kita ingin siswa tidak hanya menjadi penonton informasi, tapi juga tahu proses produksi informasi yang benar dan berani berinteraksi dengan narasumber penting,” pungkasnya.
Leave a Comment