Keren, Siswa SMA PGRI 1 Jombang Pilih Lestarikan Musik Keroncong di Era Modern

Siswa SMA PGRI 1 Jombang saat memainkan musik keroncong. (Istimewa) 
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Di tengah tren musik modern yang terus berkembang di kalangan anak muda, suara ukulele, gitar, dan alunan khas keroncong masih mendapat tempat di hati sejumlah pelajar di Kabupaten Jombang.

Mereka tergabung dalam Keroncong Gemasaktika, kelompok musik yang beranggotakan siswa SMA PGRI 1 Jombang. Lewat kegiatan ekstrakurikuler tersebut, para pelajar berusaha menjaga agar musik keroncong tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi muda.

Baca Juga

Komitmen itu terlihat saat Gemasaktika tampil dalam kegiatan Dialog Warung Pojok Kebon Rojo yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Jombang di lingkungan SMA PGRI 1 Jombang, Rabu (14/10/2026).

Penampilan para siswa tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jombang, Eko Tedjo Sunariyanto. Ia menilai, pilihan para pelajar untuk mempelajari musik tradisional merupakan langkah positif di tengah derasnya pengaruh budaya populer.

Menurut Eko, pelestarian kesenian daerah tidak cukup hanya mengandalkan generasi terdahulu. Keterlibatan anak muda diperlukan agar musik keroncong tetap memiliki ruang untuk berkembang dan tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah.

“Saya turut bangga karena di zaman seperti ini masih ada anak-anak yang punya upaya mempertahankan budaya kita, musik tradisional seperti keroncong ini. Ini tentu harus kita dukung bersama,” ujar Eko dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Keroncong Gemasaktika menjadi salah satu wadah bagi siswa SMA PGRI 1 Jombang untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang musik. Anggotanya berasal dari berbagai kelas, dengan kesempatan untuk mempelajari sekaligus mengembangkan keterampilan bermusik melalui kesenian tradisional.

Keberadaan kelompok tersebut juga menunjukkan bahwa musik keroncong masih dapat menjadi pilihan kegiatan kreatif bagi pelajar. Di lingkungan sekolah, kesenian ini tidak hanya dipelajari sebagai warisan budaya, tetapi juga dipraktikkan melalui latihan dan penampilan.

Eko mengaku menikmati sajian musik yang dibawakan para siswa. Menurutnya, perpaduan alunan instrumen dan lagu-lagu lawas mampu menghadirkan suasana yang menenangkan sekaligus membangkitkan kenangan bagi pendengarnya.

“Lagu yang ditampilkan, keselarasan musiknya itu membuat yang mendengarkan bisa merasa tenang dan bernostalgia dengan masa mudanya. Terutama orang-orang yang seusia saya,” tuturnya.

Ia berharap aktivitas bermusik para siswa tidak berhenti pada kegiatan di sekolah. Kreativitas tersebut, katanya, perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai sarana yang tersedia, termasuk teknologi digital.

Eko menilai perkembangan teknologi dapat menjadi peluang untuk memperluas jangkauan musik tradisional. Melalui promosi di berbagai platform digital, penampilan kelompok keroncong pelajar berpotensi dikenal oleh masyarakat yang lebih luas, termasuk kalangan seusia mereka.

“Kami berharap kreativitas ini terus dikembangkan dan bisa dipadukan dengan teknologi saat ini untuk mempromosikannya,” katanya.

Dengan memanfaatkan media digital, pelestarian keroncong diharapkan tidak hanya bergantung pada pertunjukan langsung. Kesenian tersebut juga dapat diperkenalkan melalui konten kreatif yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda dalam mengakses informasi dan hiburan.

Penampilan Keroncong Gemasaktika turut mewarnai Dialog Warung Pojok Kebon Rojo yang kali ini mengangkat tema Pelajar Cerdas Digital, Bijak Bermedia Sosial, Kreatif dengan AI, dan Kritis Mengelola Informasi.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jombang, Endro Wahyudi, menjelaskan bahwa pelajar menjadi salah satu kelompok penting dalam edukasi literasi digital. Hal ini sejalan dengan tingginya aktivitas remaja dalam menggunakan media sosial serta teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Endro, pemahaman mengenai teknologi digital perlu dibarengi kemampuan untuk memilah informasi, memahami etika penggunaan, dan menyadari konsekuensi dari aktivitas di ruang digital.

“Warung Pojok Kebon Rojo kali ini memang mengangkat tentang media sosial, AI, dan pengelolaan informasi. Sehingga sangat pas untuk para siswa dan anak-anak remaja karena merekalah yang paling aktif hari ini di media sosial maupun penggunaan AI,” kata Endro.

Ia mengingatkan bahwa kemudahan teknologi tidak berarti pengguna dapat mengabaikan aturan maupun hak orang lain. Karena itu, pelajar perlu memahami batasan dalam memanfaatkan teknologi agar aktivitas digital tetap bertanggung jawab.

Endro berharap kegiatan tersebut dapat mendorong siswa menjadi pengguna teknologi yang cerdas sekaligus kreatif. Kemampuan digital yang dimiliki pelajar juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi daerah, termasuk kesenian tradisional seperti keroncong, kepada masyarakat yang lebih luas.

Berita Terkait