Pesantren & Pendidikan

Gus Zuem: Ketua Umum PBNU Harus Jadi Pemersatu dan Bebas Kepentingan Politik

Jelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas

JOMBANG, KabarJombang.com- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih dalam Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026, diharapkan jadi pemersatu nahdliyin sekaligus menjaga independensi organisasi dari kepentingan politik maupun jabatan pemerintahan.

Harapan tersebut disampaikan Pengasuh Asrama Hurun Inn Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, KH Zainudin Wijaya As’ad atau Gus Zuem, menjelang berlangsungnya pelaksanaan muktamar.

Menurut Gus Zuem, NU membutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengayomi seluruh elemen organisasi di tengah beragam latar belakang, karakter, dan cara pandang warga nahdliyin.

Kepemimpinan yang inklusif dinilai menjadi modal penting untuk menjaga soliditas organisasi sekaligus menghadapi tantangan di masa mendatang.

“Pemimpin NU harus mampu mengayomi dan merangkul seluruh entitas Nahdliyin karena organisasi ini dihuni oleh berbagai karakter dan cara pandang dalam ber-NU,” ujar Gus Zuem, Sabtu (18/7/2026).

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga independensi PBNU, terutama apabila terdapat pejabat pemerintah atau kader NU yang tengah menduduki jabatan politik maju sebagai calon pimpinan organisasi.

Menurutnya, setiap kader memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri, namun ketika dipercaya memimpin NU harus melepaskan kepentingan politik maupun jabatan pemerintahan.

“Kalau menjadi pengurus NU, baju menteri maupun baju partai politik harus dilepas. Harus benar-benar menyatu dalam semangat ke NU an,” tegasnya.

Ia menilai independensi menjadi syarat agar NU tetap memiliki ruang untuk menyampaikan masukan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah apabila dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Karena itu, rangkap jabatan antara pengurus puncak PBNU dengan posisi strategis di pemerintahan perlu menjadi perhatian serius agar tidak memengaruhi objektivitas organisasi.

Di sisi lain, Gus Zuem berharap Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi ajang memilih pemimpin baru, tetapi juga momentum memperkuat persatuan dan mempererat kembali hubungan antarelemen organisasi.

“Harapan saya, Muktamar di Tambakberas berjalan lancar, khidmat, dan melahirkan keputusan-keputusan yang membawa berkah bagi Nahdliyin,” ujarnya.

Dikatakan, Ketua Umum PBNU yang terpilih mampu meningkatkan peran NU dalam kehidupan berbangsa sekaligus memperluas kontribusi organisasi di tingkat nasional maupun internasional.

Gus Zuem berharap dinamika yang sempat mewarnai hubungan antarelite PBNU dalam beberapa tahun terakhir tidak kembali terjadi setelah muktamar.

Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, namun komunikasi antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah harus tetap terjaga agar tidak berkembang menjadi konflik terbuka.

“Peristiwa yang terjadi satu atau dua tahun terakhir semoga tidak terulang lagi. Komunikasi antara Syuriyah dan Tanfidziyah harus terus dijaga agar keharmonisan organisasi tetap terpelihara,” ungkapnya.

Menurut Gus Zuem, keharmonisan di tingkat pimpinan akan menjadi teladan bagi warga nahdliyin sekaligus menjaga marwah NU di mata publik.

Selain menyoroti kepemimpinan organisasi, Gus Zuem mendukung upaya NU memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengembangan berbagai unit usaha.

Ia mengingatkan bahwa semangat membangun ekonomi umat telah menjadi bagian dari sejarah lahirnya NU melalui Nahdlatut Tujjar sebelum organisasi tersebut resmi berdiri.

Ia mendorong seluruh potensi usaha yang dimiliki NU, termasuk pengelolaan sektor-sektor strategis, dijalankan secara profesional, transparan, dan melibatkan sumber daya manusia yang kompeten.

“Yang terpenting adalah manfaatnya kembali kepada NU dan warga Nahdliyin sehingga organisasi semakin mandiri dan mampu menjalankan berbagai program tanpa bergantung pada bantuan pihak lain,” pungkasnya.

 

Leave a Comment
Share
Published by
Wahyu Umattulloh Al'iman