Dari Ladang Bawang Merah ke Dunia Medis, Shinta Anak Petani yang Buktikan Tekad Bisa Mengubah Nasib

Foto : Shinta Dwi Nur Andani bersama kedua orang tuanya saat merayakan wisuda di kampus Jombang. (Istimewa)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Hidup di tengah keterbatasan tak membuat Shinta Dwi Nur Andani menyerah pada keadaan. Lahir di Desa Ngumpul, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, pada 31 Desember 2003, putri pasangan Mujianto dan Indah Sukarmi ini tumbuh dari keluarga petani brambang yang sederhana.

Namun di balik tangan kasarnya yang terbiasa membantu orang tua di ladang, tersimpan cita-cita besar untuk menjadi seorang perawat.
Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai petani sekaligus pemilah sampah plastik, sementara sang ibu kerap menjadi buruh tanam bawang milik tetangga.

Baca Juga

Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan sempat membuat Shinta pesimis melanjutkan pendidikan tinggi. Setelah lulus sekolah, ia memilih bekerja di pabrik sepatu PT Sukses Abadi Indonesia untuk membantu orang tua.

Namun, sebuah kalimat sederhana dari ibunya menjadi cambuk semangat “Daripada kuliah tahun depan, mending kuliah sekarang. Tahun depan belum tentu ada niat. Uang bisa dicari.”
Ucapan itu mengubah arah hidup Shinta. Ia memutuskan kuliah di ITSKes ICME Jombang mengambil jurusan D3 Keperawatan jurusan yang dulu hanya menjadi impian sang ibu.

Memasuki dunia kuliah ternyata bukan akhir perjuangan, melainkan awal dari perjalanan yang lebih berat. Pendapatan orang tua tak selalu cukup untuk membayar biaya pendidikan. Sadar tak ingin menjadi beban, Shinta memilih bekerja sambil kuliah.

Setiap libur semester, ia memanfaatkan waktu untuk mencari penghasilan tambahan. Mulai dari menjadi host live di beberapa platform hingga bekerja sebagai barista di Hyphen Coffee, Jombang. Di tempat kerja itulah ia banyak belajar tentang arti kemandirian dan keikhlasan.

“Di Hyphen Coffee saya ketemu banyak orang baik. Mereka bantu saya tanpa pamrih. Dari situ saya belajar tentang rasa syukur,” ungkapnya pada KabarJombang.com Jumat (31/10/2025).

Tak jarang Shinta harus menjalani hari tanpa tidur. Usai praktik malam di rumah sakit, ia langsung bekerja pagi harinya di kafe. “Capek, tapi saya harus tanggung jawab. Kuliah adalah tujuan utama, kerja cuma jalan untuk bisa terus kuliah,” ujarnya.

Meski hidup penuh tantangan, Shinta memilih melihat tekanan sebagai proses pendewasaan. Ia percaya, lingkungan yang keras justru membentuk mental tangguh.

“Kalau lingkungannya bikin berkembang, meski keras, itu lebih baik daripada yang nyaman tapi nggak maju,” katanya.

Menurutnya, anak muda harus punya arah hidup dan tujuan yang jelas. “Kerja pasti capek. Tapi kita harus pilih, mau capek sekarang untuk masa depan, atau nanti menyesal karena nggak berjuang,” pesanya.

Selain menekuni dunia akademik, Shinta juga aktif di kegiatan sosial. Ia pernah tergabung dalam Diklat Korps Sukarelawan PMI Kabupaten Jombang dan berhasil meraih prestasi Terbaik 1 tahun 2022. Pengalaman itu menumbuhkan empati dan memperkuat tekadnya untuk menjadi tenaga kesehatan yang tak hanya berilmu, tapi juga berhati tulus.

Kini, di tengah perjuangannya menyelesaikan studi, Shinta menjadi teladan bagi banyak remaja desa. Ia membuktikan bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih cita-cita “Bertahan bukan berarti lemah. Itu proses untuk belajar dan bangkit lebih kuat,” pungkasnya.

Berita Terkait