Ety Fatmawati, juru masak di Sekolah Rakyat saat membagikan makanan kepada peserta didik. (Kevin Nizar).
JOMBANG, KabarJombang.com-Tinggal jauh dari orang tua bukan perkara mudah bagi anak-anak yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Jombang.
Terlebih bagi siswa kelas satu sekolah dasar yang baru pertama kali harus hidup mandiri di lingkungan asrama.
Di tengah rutinitas belajar, makan dan bermain bersama teman, rasa rindu kepada keluarga sesekali muncul dan tak jarang berujung tangis.
Situasi itu menjadi pengalaman sehari-hari bagi para petugas yang bekerja di lingkungan Sekolah Rakyat di Jalan Prof. Nurcholish Madjid, Desa Tunggorono, Kecamatan/Kabupaten Jombang.
Salah satunya dirasakan Agus Samuji (52), koordinator cleaning service yang sudah sekitar satu tahun bekerja di Sekolah Rakyat.
Bagi Agus, para petugas di SR bukan hanya bertugas menjalankan pekerjaan masing-masing. Mereka juga ikut mengawasi dan mendampingi anak-anak yang tinggal di asrama.
Tak jarang, anak-anak meminta bantuan menggunakan telepon seluler untuk menghubungi orang tua melalui video call.
“Pinjam HP untuk video call itu sudah makanan biasa untuk saya. Anak-anak itu saya anggap seperti anak sendiri,” ujar Agus Sabtu (15/8/2026).
Momen paling menyentuh baginya adalah ketika melihat anak-anak kelas 1 SD menangis karena rindu orang tua.
Menurut Agus, anak-anak seusia itu masih membutuhkan banyak bantuan dan perhatian. Namun, di lingkungan asrama mereka harus mulai belajar melakukan berbagai aktivitas secara mandiri.
“Kalau anak yang kecil-kecil kelas 1 SD itu seperti anak saya sendiri. Jauh dari orang tua, harus mandiri, mandi sendiri, makan sendiri, pakai seragam sendiri, nyuci sendiri. Kadang-kadang hati saya tersentuh di situ,” tuturnya.
Sementara bagi Agus, kebahagiaan anak-anak terlihat ketika mereka bisa berkumpul bersama teman-teman, makan dan bermain.
“Waktu gembiranya itu kalau mau makan bersama, berkumpul sama teman-temannya, mau makan banyak, terus bermain. Itu saya sangat bahagia sekali,” kata Agus.
Cerita serupa juga dialami Ety Fatmawati (26), juru masak di Sekolah Rakyat.
Ety sehari-hari bertugas bersama sembilan petugas lainnya menyiapkan dan menyajikan makanan untuk para siswa.
Karena dapur sekolah masih dalam tahap persiapan, makanan untuk sementara didatangkan melalui katering.
Para petugas kemudian menyiapkan makanan, menyajikannya kepada anak-anak dan membersihkan area makan.
Namun, bagi Ety, pekerjaan tersebut tidak sekadar memastikan makanan tersedia.
Ia juga berhadapan langsung dengan berbagai karakter dan kebutuhan anak-anak.
Ada anak yang masih ingin disuapi seperti ketika berada di rumah. Ada yang ingin ditemani. Ada pula yang tidak mau makan.
“Ada yang masih ke ibu-ibuan, minta disuapin, ada yang perlu diperhatikan, minta ditemani, terus ada yang enggak mau makan. Tapi kita mengusahakan anak supaya makan,” kata Ety.
Cara yang dilakukan sederhana, tetapi membutuhkan kesabaran.
“Dirayu,” ujarnya.
Ety juga pernah melihat anak menangis karena ingin pulang dan merindukan orang tuanya.
“Ada yang mau minta pulang aja, kangen mama, kangen mama. Tapi di sini tetap dibujuklah setidaknya biar dia itu kerasan,” tuturnya.
Bagi para petugas, membujuk anak agar kembali tenang menjadi bagian dari proses membantu mereka beradaptasi dengan kehidupan di asrama.
Jika tangis menjadi salah satu sisi kehidupan anak-anak di asrama, ada pula momen yang membuat para petugas ikut bahagia. Bagi Ety, salah satunya adalah ketika melihat anak-anak menikmati makanan yang disajikan.
Menu yang berbeda setiap hari membuat anak-anak semakin bersemangat makan. Bahkan, ada siswa yang awalnya hanya makan sedikit kemudian mulai menambah setelah menemukan makanan yang disukainya.
“Ada banyak. Terutama anak SD yang awalnya makannya cuma sedikit. Terus tahu menunya seperti ini, dia suka, akhirnya tambah, tambah, makan lagi,” katanya.
Ada pula siswa SMP yang menurut Ety memiliki nafsu makan sangat besar.
“Ada yang anak SMP juga itu makannya kayak mukbang. Enggak apa-apa, asal anak kenyang,” ujarnya.
Pengalaman mendampingi anak-anak selama sekitar satu tahun membuat Ety memiliki pesan khusus kepada para orang tua.
Ia memahami bahwa orang tua tentu merasa khawatir karena anak tinggal jauh dari keluarga. Namun, menurutnya, anak juga membutuhkan ruang untuk belajar mandiri.
Ety berharap orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat hingga selesai.
“Biarkanlah anaknya di sini biar pendidikannya sampai selesai. Biar anak bisa mandiri. Jangan terlalu banyak ditengok supaya anak tidak terlalu manja dan mengingat orang tua,” ujarnya.
Menurut Ety, menjenguk anak tetap diperbolehkan. Namun, jika terlalu sering, anak justru bisa semakin sulit beradaptasi dan merasa ingin terus pulang.
“Jangan memikirkan anak terlalu berlebihan. Aman di sini kok,” katanya.
Di Sekolah Rakyat, para petugas akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari sistem yang memastikan sekolah berjalan. Mereka juga menjadi orang-orang yang hadir ketika anak-anak membutuhkan bantuan, teman berbicara, makanan, perhatian, atau sekadar seseorang untuk menenangkan tangis karena rindu rumah.
Di antara rutinitas membersihkan lingkungan dan menyajikan makanan, ada peran lain yang tidak selalu terlihat: membantu anak-anak belajar bahwa hidup jauh dari orang tua bukan berarti mereka sendirian.
Leave a Comment