Pesantren & Pendidikan

Bedah Kitab Tadrij al-Masa’id Jadi Rangkaian MUTUN 2026

JOMBANG, KabarJombang.com — Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, menggelar bedah kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid karya Dr. H. Anang Firdaus, M.Pd.I., Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lobby Ma’had Aly Hasyim Asy’ari tersebut menjadi salah satu rangkaian Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) 2026.

Bedah kitab menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. H. Anang Firdaus, M.Pd.I., Wakil Mudir Bidang Akademik Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sekaligus penulis kitab, dan Prof. Dr. H. Wahidul Anam, M.Ag., Rektor UIN Syekh Wasil Kediri. Diskusi dipandu Muhammad Habib Yusra, S.F.U., mahasantri M2.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH. Achmad Roziqy, Lc., M.H.I., jajaran idariyyin, para mahasantri, serta peserta MUTUN 2026.

Dalam pemaparannya, Dr. Anang Firdaus menjelaskan bahwa kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid pada awalnya disusun sebagai bahan pembelajaran internal bagi mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Saat itu, naskah masih berbentuk draft dan belum direncanakan untuk dikaji secara luas.

Namun, setelah melalui sejumlah diskusi dengan ulama dan akademisi, naskah tersebut dinilai memiliki relevansi untuk dibedah dalam forum ilmiah. Salah satu dorongan datang setelah dirinya berdiskusi dengan Dr. Muhyiddin ‘Awwamah dan Dr. Ubayd.

“Rencananya kitab ini untuk kalangan sendiri awalnya, karena masih berbentuk draft. Akan tetapi ketika berbincang dengan Dr. Muhyiddin ‘Awwamah, Dr. Ubayd meminta agar kitab ini saja yang dibedah,” jelas Dr. Anang.

Sebelum diterbitkan dan digunakan sebagai bahan ajar, kitab tersebut juga melalui proses telaah dari sejumlah ahli. Salah satunya Sayyid Abdul Majid al-Ghury yang memberikan sejumlah catatan terkait penyajian, mulai dari gaya bahasa hingga sistematika penulisan.

Masukan tersebut kemudian menjadi bahan penyempurnaan naskah. Pembahasan yang sebelumnya cukup panjang diringkas agar lebih sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran. Selain itu, Sayyid Abdul Majid al-Ghury menyarankan agar kitab dilengkapi skema dan bagan untuk membantu pembaca memahami alur pembahasan secara sistematis.

Dr. Anang menambahkan, kitab tersebut juga telah dipresentasikan kepada Dr. Muhyiddin ‘Awwamah, ulama hadis asal Turki yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap kajian hadis. Salah satu masukan yang muncul dalam pertemuan itu berkaitan dengan cara menyikapi dan berinteraksi dengan hadis dha’if.

Pembahasan tersebut, kata dia, masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya dimasukkan ke dalam kitab. Penulis juga berupaya memperoleh pandangan dari ulama hadis lainnya, termasuk Syaikh Mamduh dari Mesir, sebagai bagian dari upaya memperkuat karya tersebut dari berbagai perspektif keilmuan hadis.

Menurut Dr. Anang, pendekatan maqashid nabawiyah menjadi salah satu gagasan penting dalam kitab tersebut. Pendekatan ini dinilai dapat memperluas cakupan kajian hadis sekaligus membantu memperdalam pemaknaan terhadap pesan yang terkandung di dalam hadis.

“Melalui pendekatan maqashid nabawiyah, nilai dan spirit hadis dapat dikontekstualisasikan dengan berbagai pendekatan kontemporer berdasarkan persoalan dan fenomena yang berkembang di masyarakat saat ini,” terangnya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Wahidul Anam, M.Ag., menyatakan sependapat dengan masukan Dr. Muhyiddin ‘Awwamah mengenai pentingnya memperkaya pembahasan tentang cara berinteraksi dengan hadis dha’if. Menurutnya, salah satu aspek fundamental dalam kajian ilmu hadis adalah memastikan otentisitas hadis.

Ia kemudian mengungkapkan kekagumannya terhadap kisah yang disampaikan Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawwar ketika berdiskusi dengan gurunya, Syaikh Yasin al-Fadani, mengenai status dua hadis.

Dalam kisah tersebut, Syaikh Yasin al-Fadani memilih melakukan verifikasi melalui mimpi dengan menyampaikan bahwa dirinya akan bertemu Rasulullah untuk memastikan kebenaran hadis yang dipersoalkan. Setelah dilakukan pengecekan, hadis yang sebelumnya dinilai bermasalah berdasarkan kajian sanad tersebut ternyata dinyatakan benar sebagai hadis Nabi.

Kisah tersebut, lanjut Wahidul Anam, sejalan dengan pandangan Imam al-Ghazali yang menyebut bahwa mimpi dapat menjadi salah satu sarana memperoleh inspirasi dan pengetahuan dalam konteks tertentu.

Bedah kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid pun menjadi bagian dari ruang akademik MUTUN 2026 untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif para ulama serta akademisi dalam pengembangan kajian turats nabawi di tengah tantangan keilmuan kontemporer.

Leave a Comment
Share
Published by
MG-1