Masalah Pupuk, Petani Tembelang Wadul DPRD Jombang

Hearing DPRD Jombang dengan petani. (Daniel).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Terkait keberadaan pupuk dan serangan hama, petani Tembelang. Rabu (10/2/2021) menggelar hearing (dengar pendapat) dengan DPRD Jombang.

Acara yang berlangsung di Gedung Paripurna DPRD Jombang itu, dihadiri bebrapa pihak terkait. Di antaranya, sejumlah petani, Poktan, Gapoktan, PPL, kios pupuk, distributor pupuk, Dinas Pertanian, serta Dinas Perdagangan dengan Komisi B DPRD Jombang.

Baca Juga

Petani Tembelang, mengeluhkan beberapa persoalan, seperti terendamnya sawah di beberapa lokasi. Selain itu, terserangnya hama keong dan tikus. Terlebih lagi petani dibuat kelabakan turunnya subsidi pupuk.

Ucapan KFM
iklan podcat Jombang
iklan Ramadhan bkad Jombang
iklan Ramadhan disdik Jombang
iklan Ramadhan Pupr Jombang
iklan Ramadhan Bappeda Jombang
iklan Ramadhan Satpol PP Jombang
iklan bank jombang kredit
iklan bank jombang nabung
iklan bank jombang

“Kita ketahui di daerah kami alokasi pupuk bersubsidi ini turun 51 persen. Petani ini sudah susah malah dibuat susah. Terlebih saat ini petani yang  sewa sawah ditambah dengan biaya tanam, belum pupuk. Namun hasil panen murah, apa ini sebanding,” keluh seorang petani.

Keluhan juga datang dari kios pupuk, selain pupuk subsidi yang dijualnya merosot akibat alokasi berkurang. Juga kesusahan dalam membagi pupuk ke para petani.

“Petani dapatnya katakanlah 10 sampai 20 kilogram, nah ini kemasannya 50 kilogram, kan malah harus menimbang lagi,” tambahnya.

Sementara Ketua Komisi B, Sunardi mengatakan,  persoalan pertama adalah kemasan pupuk yang dikeluhkan kios. Sehingga para kios meminta produsen membuat kemasan lebih kecil antara 10 sampai 50 kilogram.

“Disini sebernernya kelangkaan pupuk tidak ada, memang sedikit alokasi pupuk yang diberikan kepada kita, jatahnya kurang. Dari e-RDKK yang diajukan hanya 49 persen saja terealisasi di Kabupaten Jombang.

Terkait mahalnya pupuk nonsubsidi di pasaran, Sunardi berdalih kualitas pupuk nonsubsidi lebih bagus dibanding subsidi sehingga mahal harganya.

“Kandungan nitrogennya gampang larut dan gampang subur, sehingga sesuai harga. Jika pakai pupuk subsidi 40, kilogram nonsubsidi hanya 20 kilogram,” katanya.

Sedangkan terkait keluhan mahalnya pupuk itu, pihaknya akan mengusulkan pada Kementerian Perdagangan.

“Kami akan usulkan  ke Kementerian Perdagangan minta diturunkan pupuk nonsubsidi ini. Karena terlalu tinggi,  persaknya mencapai 280 ribu,”pungkasnya.

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait