PLOSO, KabarJombang.com – Puluhan warga Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Telkom Ploso, Rabu (7/10/2026). Massa meminta keberadaan tower BTS yang berada di lingkungan permukiman warga ditinjau ulang dan segera ditutup.
Warga menilai tower tersebut bermasalah karena diduga tidak mengantongi perizinan. Selain persoalan legalitas, mereka juga mengeluhkan dampak keberadaan menara telekomunikasi itu terhadap lingkungan dan keselamatan warga yang tinggal di sekitarnya.
Dalam aksi tersebut, warga membawa pengeras suara dan sejumlah poster berisi tuntutan. Beberapa tulisan yang dibawa massa antara lain, ‘Bongkar Tower Telkom, Mau Untung Rugi Tidak Mau, Berani Membuat Tidak Tanggung Jawab’, ‘Pemerintah Daerah Di Mana Upasmu’, ’30 Tahun Warga Ditipu’, serta ‘Tower Tidak Berizin Harus Ditutup’.
Aksi berlangsung di bawah pengamanan aparat gabungan TNI dan Polri. Warga menyampaikan sejumlah aspirasi melalui orasi dan kemudian melantunkan sholawat sebelum membubarkan diri.
Ketua RW 1 Desa Losari, Haryanto, mengatakan tower BTS tersebut telah berdiri sejak sekitar 1995. Menurutnya, selama puluhan tahun keberadaan tower itu tidak disertai komunikasi yang baik dengan warga sekitar.
Haryanto menyebut persoalan perizinan menjadi salah satu alasan utama warga kembali melakukan aksi. Warga, katanya, ingin mendapatkan kepastian mengenai status tower tersebut dari pihak perusahaan.
“Selama ini dari pihak Telkom tidak ada komunikasi sama sekali. Lebih baik itu dirobohkan atau diputus arus listriknya daripada di sini tidak ada kejelasan. Yang jelas warga merasa dibohongi dari pihak Telkom,” ujar Haryanto.
Selain mempersoalkan izin, warga juga mengeluhkan sejumlah kejadian yang mereka anggap membahayakan. Menurut Haryanto, material atau komponen dari tower beberapa kali jatuh dan memimpa rumah warga.
Ia mencontohkan rumah milik salah seorang warga yang berada dekat dengan tower. Rumah tersebut disebut tidak ditempati karena pemiliknya merasa khawatir dengan dampak keberadaan menara tersebut.
“Dampaknya cukup besar. Rumah yang berada di bawahnya itu tidak berani ditempati. Dia mengaku kalau ditempati merasa pusing akibat radiasinya. Kemudian sering kali benda atau baut dari atas menjatuhi genteng rumah warga. Sampai sekarang rumah tersebut tidak berani ditempati,” jelasnya.
Haryanto memperkirakan terdapat puluhan rumah yang berada dalam radius sekitar 50 meter dari tower dan dianggap terdampak keberadaannya. Sementara warga yang rumahnya berada paling dekat dengan menara disebut mengalami dampak secara langsung.
“Yang terdampak sangat dekat ada tiga. Tapi kalau radius 50 meter sekitar 40 rumah, kurang lebih 40 rumah. Yang paling dekat Pak Warso, Pak Pugo, dan Pak Aryanto,” ungkapnya.
Ia menambahkan, aksi tersebut merupakan puncak dari serangkaian upaya warga untuk meminta penyelesaian. Sebelum turun ke jalan, warga disebut telah menyampaikan keberatan kepada pihak terkait, namun belum memperoleh penyelesaian yang diharapkan.
Persoalan tersebut kemudian dibawa warga ke DPRD Kabupaten Jombang. Haryanto mengatakan, dalam pembahasan bersama Komisi A DPRD Jombang, persoalan tower tersebut juga telah disampaikan kepada pemerintah daerah dan aparat kepolisian.
“Kemarin kami sudah ke Komisi A DPRD Kabupaten Jombang dan ternyata dari pihak DPRD sudah memberikan rekomendasi ke Bupati. Rekomendasi juga kemudian ke Polres, ternyata tidak ada hasilnya. Sehingga terpaksa warga melakukan aksi seperti pagi hari ini,” tandasnya.
Salah seorang warga RW 1 Desa Losari, Suwarso (60), juga mengaku merasakan dampak dari keberadaan tower yang berdiri sangat dekat dari rumahnya. Ia mengatakan, selain merasa pusing ketika berada di dalam rumah, sejumlah benda yang diduga berasal dari tower pernah jatuh mengenai atap rumahnya.
“Barang tower banyak yang jatuh menimpa atap rumah sampai pecah. Kepala juga pusing-pusing,” kata Suwarso.
Warga berharap persoalan tersebut segera mendapatkan kepastian dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah. Mereka meminta status perizinan tower diperjelas dan aspek keselamatan warga yang tinggal di sekitar menara menjadi perhatian dalam penyelesaian persoalan tersebut.









