Sepak Bola Api Santri Jombang Meriahkan Hari Santri 2026, Simbol Perjuangan Mengendalikan Hawa Nafsu

Para santri saat mainkan sepak bola. api sambut Hari Santri Nasional 2026
Para santri saat mainkan sepak bola. api sambut Hari Santri Nasional 2026
  • Whatsapp

PETERONGAN, KabarJombang.com – Suasana malam di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berubah semarak saat para santri menggelar pertandingan sepak bola api, Selasa (20/10/2026) malam. Permainan tradisional yang mengandalkan keberanian dan konsentrasi tersebut menjadi salah satu atraksi dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Di tengah lapangan, sebuah bola dari buah kelapa kering yang telah direndam minyak tanah dan dibakar menjadi pusat perhatian. Para pemain beradu strategi untuk menguasai bola menyala itu, sementara penonton menyaksikan jalannya pertandingan dengan penuh antusias dari tepi lapangan.

Baca Juga

Tidak seperti pertandingan sepak bola pada umumnya, para peserta tampil tanpa alas kaki. Mereka harus bergerak cepat, mengoper bola, hingga berusaha mencetak gol di tengah kobaran api yang terus menyala.

Sorakan penonton semakin ramai ketika bola berhasil direbut atau diarahkan ke gawang. Sesekali, penjaga gawang harus bereaksi cepat untuk menahan bola sebelum melemparkannya kembali ke area permainan.

Bagi para santri yang terlibat, pertandingan tersebut bukan sekadar ajang adu keterampilan. Mereka juga dituntut menjaga konsentrasi, mengendalikan gerakan, dan membangun kerja sama dengan anggota tim lainnya.

Salah seorang peserta, Mukhlis, mengatakan bahwa dirinya sempat merasakan ketegangan sebelum pertandingan dimulai. Namun, suasana tersebut perlahan berkurang setelah ia mulai berkonsentrasi pada jalannya permainan.

“Awalnya memang ada rasa deg-degan. Tapi begitu masuk lapangan dan fokus ke permainan, rasa takut dan panas itu hilang. Yang penting niatnya kebersamaan dan meramaikan Hari Santri,” ujar Mukhlis seusai pertandingan.

Menurutnya, kekompakan tim menjadi salah satu hal penting selama pertandingan berlangsung. Para pemain harus saling memberikan arahan agar permainan berjalan sesuai strategi yang telah disepakati.

Peserta lainnya, Andri, menilai ketenangan dan keberanian menjadi faktor penting dalam mengikuti sepak bola api. Ia menjelaskan bahwa keraguan saat mengambil keputusan dapat mengganggu konsentrasi pemain di lapangan.

“Kalau ragu-ragu justru bisa kena panas. Tapi kalau kita melangkah mantap dan fokus, bola api bisa terkendali,” tuturnya.

Ketua Panitia Peringatan Hari Santri PCNU Kabupaten Jombang, Hadi Saifuddin, menjelaskan bahwa turnamen sepak bola api merupakan bagian dari upaya memeriahkan Hari Santri Nasional 2026 yang dipusatkan di lingkungan PPDU Rejoso.

Ia menyebut tradisi tersebut tidak hanya menampilkan atraksi yang mengundang perhatian masyarakat, tetapi juga membawa pesan moral dan spiritual yang erat dengan kehidupan santri.

Menurut Hadi, sepak bola api mengajarkan pentingnya ketawakalan, ketaatan, sportivitas, serta kebersamaan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi salah satu sarana syiar keagamaan yang berkembang di lingkungan pesantren.

“Bola api ini diibaratkan sebagai hawa nafsu manusia. Hawa nafsu itu harus dijinakkan dan dikendalikan, bukan dibiarkan membakar diri sendiri,” kata Hadi saat ditemui di lokasi kegiatan.

Ia menuturkan, filosofi tersebut mengandung pesan bahwa manusia perlu memiliki kemampuan mengendalikan keinginan dan dorongan dalam dirinya. Keberanian dalam permainan juga harus diimbangi dengan ketenangan, kedisiplinan, dan kesadaran terhadap tujuan bersama.

 

Dalam pelaksanaannya, setiap tim terdiri atas lima pemain, termasuk penjaga gawang. Pertandingan dibagi menjadi dua babak dengan durasi masing-masing 10 menit sehingga para peserta dituntut mampu menjaga stamina dan fokus selama permainan.

Sepak bola api dikenal sebagai salah satu tradisi khas di kalangan santri yang kerap digelar dalam momentum tertentu. Selain saat peringatan Hari Santri, permainan ini juga dapat dijumpai dalam kegiatan Ramadan maupun acara kelulusan di lingkungan pesantren.

Keberadaan tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya pesantren yang memadukan unsur permainan, keberanian, dan nilai kebersamaan. Bagi para peserta, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarsantri melalui pengalaman yang dilakukan bersama.

Meski demikian, penggunaan bola yang dibakar menjadikan permainan ini memiliki risiko cedera dan luka bakar. Karena itu, pelaksanaannya perlu memperhatikan aspek keselamatan, kesiapan peserta, serta pengawasan yang memadai.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026, sepak bola api di PPDU Rejoso tidak hanya menjadi tontonan yang menarik perhatian masyarakat. Tradisi ini juga menghadirkan pengingat tentang pentingnya mengendalikan hawa nafsu, menjaga keteguhan hati, dan mengutamakan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait