Selimut Ibu Ikut dalam Perjalanan Terakhir Warga Jombang di KM Virgo Transport 8

Keluarga Surono, kernet truk pengangkut sayur asal Diwek, Jombang yang menjadi korban tenggelam kapal virgo. (Kevin Nizar)
Keluarga Surono, kernet truk pengangkut sayur asal Diwek, Jombang yang menjadi korban tenggelam kapal virgo. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Selimut peninggalan ibu menjadi salah satu kenangan yang kini terus melekat di benak keluarga Surono (37), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, yang hingga Selasa (22/9/2026) belum ditemukan setelah KM Virgo Transport 8 terbalik dan tenggelam di perairan Laut Jawa.

Selimut tersebut ikut dibawa Surono saat berpamitan bekerja menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bagi keluarga, benda sederhana itu terasa semakin berarti karena selama bertahun-tahun bekerja sebagai kernet truk pengangkut sayuran, Surono hampir tidak pernah membawa selimut dalam perjalanannya.

Baca Juga

Adik ipar Surono, Ari Supriyati, mengatakan selimut tersebut merupakan milik ibu Surono yang telah meninggal dunia. Menjelang keberangkatan, Surono bahkan sempat mencari selimut tersebut untuk dibawa.

“Biasanya enggak pernah bawa kemul (selimut). Itu kemul kesayangan ibu yang sudah almarhum. Tapi waktu itu dibawa terus. Sebelum berangkat juga dicari-cari,” ujar Ari saat ditemui di rumahnya di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Selasa (22/9/2026).

Surono meninggalkan rumah pada Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, ia berangkat bekerja sebagai kernet truk pengangkut sayuran dengan tujuan Banjarmasin.

Tidak ada tanda-tanda khusus yang dirasakan keluarga malam itu. Surono berpamitan seperti biasa dan menyiapkan pakaian serta barang-barang yang diperlukan selama perjalanan.

“Jumat malam jam sebelas, pamit kalau mau berangkat ke Banjarmasin. Biasanya memang kerjanya pulang-pergi terus Banjarmasin, kernet, kirim sayur,” kata Ari.

Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi kecemasan setelah keluarga mengetahui KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan dan tenggelam.

Sejak kabar itu diterima, keluarga berusaha mencari informasi mengenai keberadaan Surono. Mereka bahkan mendatangi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk memastikan data terkait penumpang dan korban.

Nama Surono disebut tercatat dalam data yang diperoleh keluarga. Namun, belum ada kepastian mengenai keberadaannya.

“Sudah hampir sembilan hari ini belum ada kabar sama sekali. Kita sudah ke Tanjung Perak cari informasi di sana, datanya ada. Tapi untuk informasi korban-korban itu belum,” ungkap Ari.

Keluarga kemudian mendapatkan informasi mengenai kondisi Surono sebelum kapal tenggelam dari Yahya, sopir truk yang bepergian bersamanya. Yahya diketahui selamat dalam insiden tersebut.

Menurut informasi yang diterima keluarga, Surono saat itu sedang berada di ruang tidur ketika kapal mulai mengalami masalah. Ia kemudian dibangunkan setelah kapal mulai miring.

Air disebut telah masuk ke bagian kapal. Situasi semakin mencekam ketika lampu padam dan kondisi di dalam kapal menjadi gelap. Para penumpang pun berusaha menyelamatkan diri.

Cerita tersebut membuat keluarga terus membayangkan bagaimana kondisi Surono saat kejadian. Ari mengaku masih bertanya-tanya apakah Surono sudah benar-benar sadar ketika dibangunkan.

“Kalau sopirnya bilang sudah bangun. Tapi kalau orang masih bangun tidur kan mungkin belum terlalu 100 persen fokus,” tuturnya.

Sejak saat itu, keluarga belum mendapatkan jawaban mengenai keberadaan Surono.

Di rumah, keluarga hanya bisa mengenang keseharian Surono sembari menunggu kabar. Pria tersebut dikenal memiliki kehidupan sederhana dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketika pulang dari bekerja di Kalimantan.

“Kalau habis pulang dari Kalimantan itu cuma tidur. Selama enggak pergi cuma tidur, terus ngerokok biasa. Enggak pernah main ke mana-mana,” kata Ari.

Sekitar dua bulan terakhir, Surono bekerja sebagai kernet truk pengangkut sayur. Pekerjaan tersebut bukan hal baru baginya karena sebelumnya ia juga telah cukup lama menjadi kernet dengan beberapa kali berganti kendaraan.

Kini, keluarga hanya bisa menggantungkan harapan pada proses pencarian. Mereka masih berharap Surono ditemukan dalam keadaan selamat.

“Kita tetap berharap yang terbaik. Mungkin menunggu keajaiban. Kalau memang masih diberi umur panjang, ya segera ditemukan dalam kondisi selamat,” ujar Ari.

Di sisi lain, keluarga juga berusaha bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Yang mereka inginkan adalah kepastian mengenai keberadaan Surono agar apa pun kondisinya, keluarga dapat memberikan penghormatan terakhir secara layak.

“Tapi kalau memang sudah takdirnya berkata lain, apa pun kondisinya tetap ditemukan. Supaya kita bisa merawat jenazahnya dengan baik,” imbuhnya.

Di tengah ketidakpastian itu, selimut peninggalan ibu Surono menjadi benda yang memiliki arti berbeda bagi keluarga. Selimut yang selama ini hampir tak pernah dibawa bekerja justru ikut bersama Surono dalam perjalanan yang berakhir dengan kecelakaan kapal.

Benda tersebut kini menjadi pengingat terakhir tentang keberangkatan Surono dari rumah.

Surono bukan satu-satunya warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, yang belum diketahui keberadaannya setelah insiden KM Virgo Transport 8. Gondham Prakoso (32) juga masih dalam pencarian.

Gondham diketahui merupakan anak buah kapal (ABK) KM Virgo Transport 8 dan bertugas sebagai Second Officer.

Keluarga Surono kini masih menunggu kabar. Di antara doa dan ketidakpastian, mereka berharap pencarian segera menemukan titik terang sehingga keberadaan Surono dapat diketahui.

Berita Terkait