Rabat Beton Jalan Nasional Peterongan Dibongkar, Pelaku Usaha Sepi Pelanggan 

Rabat beton jalan nasional Peterongan Jombang yang dilakukan pembongkaran. (Anggit).
  • Whatsapp

PETERONGAN, KabarJombang.com – Ada pembongkaran rabat beton, pelaku usaha sekitar jalan nasional Peterongan, Jombang, sepi pelanggan.

Rabat beton jalan yang sempat diangkat itu membuat ruas jalan ditutup sementara hingga membuat para pengendara harus mencari jalan alternatif.

Baca Juga

Selain pengendara yang kesulitan mencari jalan alternatif, pelaku usaha yang berada di sekitar lokasi proyek tersebut juga terdampak.

Selain di Pasar Peterongan yang menjadi tempat berkumpulnya para pedagang. Di sekitar area Masjid Peterongan juga terdapat beberapa pelaku usaha. Mulai dari penjual kopi, bengkel, jual beli perabotan dan tambal ban.

Salah satu pedagang kopi di sekitar lokasi tersebut, mengatakan semenjak adanya proyek pembongkaran rabat beton tersebut, membuat jalan ditutup. Alhasil, pelanggan yang biasanya ‘cangkruk’ di warungnya berkurang.

Berkurangnya pelanggan bukan karena alasan, hal itu lantaran jalan menuju warungnya yang ditutup. Pelanggan memang tetap bisa sampai di warungnya, namun, harus mencari jalur alternatif.

“Buka warung pagi sampai malam. Kalau dihitung sejak ada pembongkaran proyek ini yah berkurang pemasukan saya,” ucap pria yang enggan disebutkan namanya ini pada Rabu (16/8/2023).

Ia yang biasanya mendapat pelanggan puluhan mulai dari pagi hingga malam, kini pelanggannya bisa dihitung jari. “Bisa dihitung kalau sekarang. Sepi juga. Meskipun pelanggan tetap ada, tapi tidak seramai dulu,” ujarnya.

Terlebih, warungnya tersebut tepat berhadapan di depan lokasi pembongkaran proyek jalan nasional tersebut. Tempat yang biasanya digunakan untuk parkir kendaraan pelanggan juga berkurang.

“Jadi memang jalannya dialihkan tapi yah itu harus melewati jalan tikus dulu, harus memutar. Kalau dulu sebelum proyek jalan tidak perlu memutar, langsung jalan lurus saja sudah sampai,” katanya.

Ditanya soal apakah ada kompensasi dari sepinya pelanggan di warung akibat adanya proyek tersebut, ia tidak mengetahui secara pasti. “Kalau soal itu saya juga kurang paham,” ujarnya.

Dari pantauan KabarJombang.com, warung makan yang juga biasanya pagi hari sudah buka, kini untuk sementara tutup. Seperti bengkel dan toko yang menjual peralatan rumah maupun perlengkapan motor juga terpantau sepi.

“Tadi sempat servis motor. Sepi juga, tidak seperti biasanya. Tadi saya ke bengkel ini pun harus cari jalan alternatif dulu,” kata kapi, warga sekitar.

Sementara itu, Muchtar, warga Peterongan, juga merasa pembongkaran jalan rabat beton ini malah semakin menyulitkan. Jalan berlubang dan bergelombang saja menyulitkan, ditambah jalan yang ditutup.

“Yah mau bagaimana, bukannya mengeluh. Aktivitas kalau beli-beli bahan makanan juga lewat daerah sini. Kalau jalannya diarahkan satu arah di depan asar Peterongan juga ramai sering macet juga apalagi kalau pagi,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan, bahkan jika harus pergi ke toko ritel modern pun harus melewati jalan memutar dan memakan waktu.

“Jalan tikus ada, tapi tidak satu dua orang juga kan yang lewat sana. Pastinya banyak yang lewat sana, alhasil memakan waktu juga,” katanya.

Sebagaiamana diberitakan sebelumnya baru 5 tahun, rabat beton ruas jalan nasional, Peterongan, Jombang sudah dibongkar.

Pembongkaran rabat beton ini juga menjadi tanda-tanya bagi masyarakat. Dimana proyek nasional tidak bisa bertahan lama. Bahkan 5 tahun, jalan sudah retak dan berlubang.

Pada tahun 2018 jalan arteri nasional Peterongan, Jombang lebih tepatnya di barat flyover sampai Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan dilakukan pengecoran.

Dari pantauan, KabarJombang.com, sejak dilakukan pengecoran pada tahun 2018, dua tahun berselang jalan sudah mulai rusak. Ditemukan retakan di bagian tengah dan sisi jalan.

Retakan yang awalnya kecil, seiring berjalannya waktu meluas dan banyak. Selain retak, juga ditemukan beberapa lubang. Pelaksana dari proyek ini adalah PT Timbul Persada dari Tuban, dan rampung dikerjakan Desember 2018.

Jalan yang retak dan berlubang itu sempat ditambal menggunakan aspal cair. Namun, tambalan tersebut malah membuat masalah baru, yakni jalan yang bergelombang dan dianggap kerap membahayakan pengendara, khususnya roda dua.

Proyek peningkatan jalan nasional milik Kementerian PUPR dilaksanakan Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Metropolitan II Surabaya. Sumber anggarannya berasal dari dana APBN 2018 mencapai Rp 46 miliar.

 

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait