Deret Bencana Banjir di Jombang

Kondisi Banjir di Dusun Kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo. (Diana KN).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Rentetan bencana banjir terjadi di Kabupaten Jombang sejak awal tahun 2021. Tidak hanya merusak rumah bencana itu juga membuat ribuan orang mengungsi serta kehilangan harta benda.

Beberapa waktu lalu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan imbauan agar mewaspadai bencana banjir karena potensi curah hujan tinggi di beberapa wilayah termasuk Kabupaten Jombang.

Baca Juga

Dengan potensi curah hujan yang tinggi ini, masyarakat wajib waspada akan terjadinya banjir di kawasan-kawasan langganan atau darah yang dilintasi sungai seperti sungai Konto, Gude dan Gunting serta longsor di wilayah yang memiliki tingkat kemiringan yang curam seperti di Wonosalam.

Pemerintah daerah seharusnya juga sudah mewaspadai bencana alam yang mengintai Kabupaten Jombang, namun justru gagap grusa-grusu baru bertindak hanya jika terjadi bencana dan mengorbankan masyarakat.

Bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Jombang mulai awal tahun 2021 ini selain karena curah hujan tinggi juga disebabkan sedimentasi dan penyempitan sungai sehingga menghambat laju air di daerah aliran sungai.

KabarJombang.com merangkum beberapa bencana alam yang terjadi hingga awal Februari 2021 ini.

1. Banjir di Desa Jombok, Kesamben

Pada awal tahun baru tepatnya pada tanggal 1 Januari 2021 lalu, rekor bencana banjir di Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang hingga memakan waktu 15 hari.

Meski sudah menjadi bencana banjir tahunan, namun pada tahun ini merupakan tahun yang paling lama banjir melanda Dusun Beluk. Hingga membuat perekonomian warga setempat jatuh, minimnya bantuan logistik, kesehatan yang cukup mengancam karena warga bertahan ditempat, membutuhkan air bersih hingga kurangnya layanan toilet umum.

Penyebab bencana banjir yang melanda Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang hingga dua pekan kemarin yakni akibat proyek pengendalian banjir dam penyaringan sampah yang telah menghabiskan anggaran APBN melalui Dipa SNVT sebesar Rp 10 miliar pada 2020 dinilai makin memperparah banjir di Dusun Beluk, yang pelaksananya dari jaringan sumber air brantas pada tahun 2020.

2. Banjir bandang di Banjaragung, Kecamatan Bareng

Bencana banjir selanjutnya disusul pada bulan kedua tepatnya tanggal 1 Februari 2021 di Desa Banjaragung, Kecamatan Bareng yang juga sudah menjadi wilayah langganan banjir tahunan, namun pada tahun ini merupakan banjir yang terparah.

Banjir bandang yang terjadi di Desa Banjaragung ini juga berdampak dari segala sisi baik kesehatan, ekonomi, fasilitas publik, dan bangunan rumah masyarakat setempat. Karena bencana banjir bandang kali ini merupakan pertama yang terjadi di Bareng. Hingga berhasil melenyapkan belasan rumah, menghanyutkan barang berharga dalam seketika.

Total ada 36 rumah yang terdampak banjir bandang, 15 diantaranya rusak parah, sedangkan 3 rumah hancur rata dengan tanah, hingga terputusnya dua jembatan penghubung antar Desa Banjaragung.

Penyebab banjir bandang di Bareng yakni diakibatkan luapan sungai setempat tidak lagi mampu menampung debit air kiriman dari wilayah Wonosalam, jebolnya dam biru.

3. Banjir Bandar Kedungmulyo

Bencana banjir di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang tepatnya pada tanggal 4 Februari 2021 hingga kini masih belum memperlihatkan tanda-tanda surut justru debit air makin tinggi yang mencapai 2,5 meter hingga merendam pemukiman warga.

Banjir yang disebabkan jebolnya beberapa titik tanggul sungai di Bandar Kedungmulyo mengakibatkan 6 Desa terendam banjir hingga 7 Februari 2021. Selain meredam ribuan rumah, banjir juga menggenangi jalan nasional yang melintasi Desa Gondangmanis.

Banjir yang melanda Kecamatan Bandarkedungmulyo sebenarnya sudah pernah terjadi pada tahun 1990, namun pada tahun ini terparah.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan banjir seperti dikutip KabarJombang.com dari Kemenkes dan BPBD.

– Adanya penyumbatan akibat membuang sampah sembarangan
– Intensitas hujan yang tinggi
– Penebangan pohon atau hutan liar
– Minimnya daerah resapan air karena banyaknya bangunan yang berdiri di daerah resapan air
– Faktor tinggi rendahnya daratan
– Volume air yang sangat besar

Solusi bencana banjir
1. Tidak membuang sampah sembarangan
2. Melakukan reboisasi tanaman
3. Memperbanyak dan menyediakan lahan terbuka untuk membuar lahan hijau untuk penyerapan air
4. Berhenti membangun perumahan di tepi sungai atau berhenti membangun gedung-gedung tinggi dan besar
5. Hindari penebangan pohon-pohon di hutan secara liar dan juga di bantaran sungai
6. Melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi
7. Rajin membersihkan saluran air atau sungai

INSTAGRAM

Berita Terkait