Perayaan Maulid Nabi Muhammad Lewat Tradisi Pohon Telur di Megaluh Jombang

Lia (baju hijau) saat ditemui di rumahnya dengan pohon telur yang dibuatnya dalam memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Foto: DianaKN)
  • Whatsapp

MEGALUH, KabarJombang.com – Beragam cara umat Islam memperingati Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad SAW, Kamis 12 Rabiul Awal 1442 H atau 29 Oktober 2020. Salah satunya, tradisi membuat pohon telur.

Tradisi ini bisa dijumpai tiap Muludan (istilah Jawa) di Dusun Tegalrejo, Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Pohon telur ini, yakni berupa pohon pisang yang berbuah namun masih hijau.

Baca Juga

Daun pisangnya, sudah dipangkas habis. Agar tidak terlalu berat saat diangkat atau dipindah, batang pisang tersebut dikuliti hingga mengecil. Kemudian, pohon pisang diberi pondasi agar bisa berdiri tegak.

Tidak selesai di situ, pohon pisang tersebut diberi pernak-pernik. Yakni bendera warna-warni bergagang lidi dan ditancapkan ke batang pisang. Di antara lidi sebagai tiang bendera yang tertancap, tergantung snack, uang. Menariknya, telur rebus yang sudah diwarnai, juga tergantung di sana.

Rupanya, tradisi saat memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, bukanlah asli Jombang. Melainkan, tradisi asal Kalimantan Selatan. Namun, karena sudah beberapa kali dilaksanakan, tradisi ini kemudian dikenal oleh masyarakat Dusun Tegalrejo, Desa Pacarpeluk.

Baharia (33) dan biasa dipanggil Lia, adalah orang yang membawa tradisi pohon telur di perayaan Maulid Nabi Muhammad ini. Sebelumnya, pohon telur biasa dia buat di tempat asalnya, yakni Desa Tanjung Sloka, Kabupaten Kota Baru, Provinsi Kalimantan Selatan.

“Kalau tradisi ini selalu ada di tempat asal saya di Kalimantan. Ya sama saja kayak syukuran di acara Maulid Nabi Muhammad. Tiap tahun saya bikin, jadi nggak ada salahnya kalau saya juga melanjutkan tradisi bikin pohon telur di sini,” tutur Lia pada KabarJombang.com, Kamis (29/10/2020).

Mengenai arti tradisi pohon telur itu, Lia mengaku tidak tahu. Ia membuatnya saban Maulid Nabi Muhammad, karena mengikuti dan ingin melestarikan tradisinya saja.

“Kalau artian ini dan itu, kenapa harus ini dan itu, saya nggak tahu pasti. Saya hanya melanjutkan tradisi yang sudah ada. Dan selalu kita jalankan di Kalimantan sejak dulu. Kalau istilah orang Jawa, ini bentuk syukuran,” katanya.

Lia mengatakan, pohon telur yang dibuatnya itu, sebenarnya kurang lengkap. “Biasanya, di bagian bawah, ada tambahan ketan, pisang matang, dan irisan tebu.” ungkap Lia yang baru memasuki Jombang di tahun 2019.

Proses pembuatan pohon telur tampaknya tidak gampang dan butuh waktu cukup lama. Lia mengatakan, mengerjakan pohon telur itu sudah seminggu.

“Semingguan ini mulai bikin pernik-perniknya. Karena kan nggak cukup kalau bikin hiasan-hiasannya dalam satu atau dua hari. Yang baru menyiapkan semalam ya baru batang pisangnya dan rebusan telurnya. Telurnya pun juga sudah diberi warna sebelumnya,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait