Pengunjukrasa Tolak UU Omnibus Law di Jombang, Bagi Selebaran

Seorang pengunjuk rasa saat membagikan selebaran penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja. (Ft: Anggraini).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com- Demo tolak UU Omnibus Law di gedung DPRD Jombang, Kamis (15/10/2020) berjalan tertib. Selain menggelar orasi, pengunjukrasa juga menyebar selebaran berisi penolakan UU Cipta Kerja.

Dalam selebarannya, Serikat Buruh Plywood Jombang- SBI PT. SGS Jombang (PTP SBPJ-GSBI PT. SGS Jombang). Bersama rakyat Indonesia menolak Omnibus Law Cipta Kerja, menuntut  segera cabut dan batalkan UU Omnibus Law Cipta Kerja !!’.

Baca Juga

Mereka menilai UU Omnibus Law Cipta Kerja merupakan salah satu produk negara dalam ketidakmampuannya mengatasi krisis kronis dari segala bidang baik ekonomi, politik, maupun kebudayaan.

Disebutnya juga bahwa UU Omnibus Law Cipta Kerja ini memberikan pengaruh besar dalam penindasan dan menggunakan klas buruh dan rakyat pekerja lainnya. Salah satunya disebabkan karena adanya kemudahan dan diperluasnya semua jenis pekerjaan bagi para TKA (Tenaga Kerja Asing).

Dikatakan pula UU Omnibus Law Cipta Kerja ini lebih buruk dari UU Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Kasiono (Mbah No)  Korlap aksi unjuk rasa UU Omnibus Law Cipta Kerja. Bahwa dalam pembuatan UU itu harus digodok hingga matang jangan dikarbit sehingga memicu bencana dan kerusuhan.

“Saya sudah lima tahun kemarin diam, tidak berbicara. Lakok diusili lagi disuruh berbicara gara-gara UU ini,”ujar Mbah No.

Karena itu, lanjut Mbah No, kalau bikin undang undang digodog hingga masak, jangan dikarbit. “Mangkane gorong mateng temenan soale karbitan, akhire dadi bencana, dadi gak karu-karuan, kerusuhan merajalela,”ujar Mbah No sang tokoh orasi buruh lantang di atas truk yang disambut aplaos ribuan pengunjukrasa.

“Coba kalau ndak disahkan, ndak mungkin ada kerusuhan, ndak mungkin ada demo. Yang buat kerusuhan siapa, ya pihak pemerintah sendiri. Salahnya disahkan saja, belum mateng disahkan, ya membuat rakyat rusuh. Wong jadi pemimpin yang milih juga rakyat, buruh,”sindir Mbah No.

Dikatakan Mbah No, sebagai rakyat disalahkan kembali dalam memilih seorang pemimpin.

“Kita milih pemimpin salah lagi, repot ini. Dulu tidak dipilih salah, sekarang dipilih salah lagi, Dan**k. Bahasa dan**k itu artinya tank saat Belanda,” ucapnya saat orasi sekaligus mewarnai ketegangan.

 

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait