Warga Dusun Murong Santren, Mayangan, Jogoroto, Jombang yang menutup hidung karena bau menyengat dari sungai. (Kevin Nizar)
JOGOROTO, KabarJombang.com – Kondisi Sungai Sekunder Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, dikeluhkan warga. Saat musim kemarau, aliran sungai yang minim air disebut menimbulkan bau menyengat akibat endapan, sampah, dan material buangan yang menumpuk di dasar sungai.
Pantauan di lokasi pada Senin (14/9/2026) siang menunjukkan kondisi sungai hampir tidak memiliki aliran air. Permukaan dasar sungai tampak dipenuhi endapan berwarna kecokelatan serta sejumlah sampah. Di sejumlah titik juga terlihat saluran pembuangan dari kawasan permukiman yang bermuara langsung ke sungai. Salah satu saluran tampak mengeluarkan cairan berwarna putih pekat.
Warga menduga cairan tersebut berasal dari aktivitas produksi tahu di sekitar kawasan. Namun, sumber maupun jenis cairan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan pemeriksaan serta uji laboratorium dari instansi berwenang.
Bau tidak sedap menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan warga. Saat berada di sekitar aliran sungai, sejumlah warga terlihat menutup hidung menggunakan tangan, baju, hingga masker untuk mengurangi paparan bau yang menyengat.
Umar Mahmud, warga Dusun Murong Santren yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1999, mengatakan persoalan pencemaran sungai telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, kondisi sungai cenderung semakin mengganggu ketika debit air menurun pada musim kemarau. Selain dugaan limbah tahu, ia menyebut terdapat kotoran hewan dan sampah rumah tangga yang turut masuk ke aliran sungai.
“Kalau kemarau baunya sangat menyengat. Limbah tahu, kotoran hewan, dan sampah bercampur di sungai. Baunya sampai membuat dada terasa sesak dan panas,” ujar Mahmud, sapaan akrabnya saat diwawancarai di lokasi sambil menutup hidung dengan kaos, Senin (14/9/2026).
Ia menjelaskan, ketika musim hujan tiba, material yang berada di sungai relatif lebih mudah terbawa arus karena debit air meningkat. Sebaliknya, saat kemarau, kondisi sungai yang dangkal membuat endapan dan berbagai material buangan lebih lama berada di lokasi.
“Kalau hujan, airnya penuh sehingga kotoran ikut terbawa. Tapi kalau kemarau seperti sekarang, setiap hari, setiap saat baunya sangat terasa menyengat,” katanya.
Warga Tuntut Kejelasan Pembangunan IPAL
Mahmud menyebut persoalan tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah. Namun, ia menilai penanganan yang dilakukan sejauh ini belum memberikan perubahan berarti bagi warga.
“Sudah sering disampaikan, bukan cuma sekali atau dua kali. Biasanya dibahas dalam rapat, tetapi setelah itu kondisinya kembali seperti semula,” ungkapnya.
Ia mengatakan salah satu rencana yang pernah muncul adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Fasilitas tersebut diharapkan dapat mengolah limbah sebelum masuk ke badan sungai.
“Dulu katanya akan dibuatkan IPAL, tetapi sampai sekarang belum ada. Harapan kami ada IPAL sehingga limbah tidak langsung masuk sungai dan kondisi sungai bisa kembali bersih,” tuturnya.
Sumur Warga Ikut Terdampak
Keluhan warga tidak hanya berkaitan dengan bau sungai. Mahmud juga mengaku mengalami persoalan pada air sumur yang berada di rumahnya. Ia mengatakan air sumur yang digunakan warga memiliki warna putih keruh dan berbau. Kondisi tersebut membuatnya memilih tidak menggunakan air sumur untuk kebutuhan minum dan memasak.
“Air sumur saya sangat bau dan warnanya seperti putih susu pekat. Untuk minum dan memasak, sudah bertahun-tahun saya menggunakan air galon,” jelasnya.
Menurut Mahmud, bau tersebut juga dirasakan ketika air sumur digunakan untuk mencuci pakaian. Bahkan, katanya, aroma tidak sedap masih tercium setelah pakaian dicuci dan diberi pewangi. Karena kondisi tersebut, ia memilih menggunakan sumber air lain untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Mahmud juga menyampaikan adanya keluhan kesehatan yang dialaminya. Ia mengaku kerap mengalami sesak napas dan beberapa kali menjalani pemeriksaan medis.
“Saya sendiri sering sesak napas dan sering periksa. Sampai sekarang masih terasa dan saya juga masih sering minum obat,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak-anaknya juga pernah mengalami keluhan seperti mual, sakit perut, dan muntah. Namun, keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan kondisi Sungai Sekunder Rejoagung 2 maupun kualitas air sumur.
Kepastian mengenai hubungan tersebut membutuhkan pemeriksaan medis serta pengujian kualitas air dan lingkungan. Ia menyebut dampak bau juga dirasakan warga di wilayah lain yang berada di sepanjang aliran sungai. Ia menyebut keluhan serupa muncul mulai dari kawasan Murong Santren, Ngembeh, sekitar Pondok Darul Ulum, hingga wilayah Peterongan.
“Yang merasakan dampaknya cukup banyak karena aliran sungai melewati beberapa wilayah. Sampai Peterongan juga ada yang mengeluhkan,” katanya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber pencemaran serta mengambil langkah penanganan yang konkret. Mereka juga meminta agar tidak ada lagi pembuangan limbah secara langsung ke badan sungai.
“Jangan hanya dibahas dalam rapat. Kami berharap ada tindakan nyata, termasuk pembangunan IPAL kalau memang diperlukan. Yang penting sungainya bersih dan warga tidak terus terganggu bau seperti ini,” pungkas Umar.
DLH Jombang Turun Tangan
Sementara itu, Kepala Dusun Murong Pesantren yang juga Ketua Paguyuban Perajin Tahu, Imam Subeki saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut mengaku belum bisa berkomentar banyak, karena dirinya masih banyak kegiatan dan lagi menangani kebakaran lahan di daerahnya. Menurutnya, pihaknya sudah mengajukan normalisasi sungai ke Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta koordinasi dan kontribusi selaku pengusaha tahu.
“Yang jelas kami sudah mengajukan normalisasi ke PUPR, DLH dan kordinasi serta kontribusi selaku pengusaha tahu,” singkatnya.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang, M. Amin Kurniawan saat dikonfirmasi mengaku sudah memonitor, dan segera akan ditangani.
“Iya monitor InsyaAllah segera kita tangani
Kamis kita sudah ter-agenda rapat koordinasi dengan PU, pemdes dan kecamatan,” pungkasnya.
Leave a Comment