Omset Merosot, Pedagang Burung ‘Mahal’ di Jombang Lirik Medsos

Salah satu jenis burung dengan harga kelas menengah ke atas, yang ditawarkan melalui online.
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Penurunan omset penjualan burung di Pasar Tunggorono, Kecamatan/ Kabupaten Jombang sejak Covid-19 melanda, membuat pedagang burung putar otak. Salah satunya, berdagang online dengan memanfaatkan media sosial (Medsos).

Hanya saja, penjualan online dilakukan, khusus burung yang memiliki nilai atau harga Rp 1 juta ke atas. Sedangkan burung dengan harga di bawah itu seperti kenari, perkutut, dan lovebird, cukup dijual di Pasar Tunggorono.

Baca Juga

Atol (50) salah satu penjual burung di Pasar Tunggorono mengakui sepinya pembeli di kios burungnya sejak pandemi Covid-19. Apalagi, burung yang jadi dagangannya, memiliki harga menengah ke atas. Antara Rp 1 juta hingga puluhan juta.

Sebab itu, ia mencoba membuka pasar lewat online yakni WhatsApp dan Facebook. Burung yang ia tawarkan lewat medsos itu, antara lain burung Wanbi, Branjangan, Cucakrowo, dan beberapa burung impor.

“Penjualannya lebih banyak ke luar kota. Bisanya saya menawarkannya ya lewat grup Facebook sama bikin ‘story’ WhatsApp. Ada juga WA Grup-nya, di situ kita saling kenal,” ungkapnya pada Kabarjombang.com, Minggu (26/10/2020).

Ia menyadari, semua sektor usaha terdampak Covid-19 hingga pecinta burung tak banyak menambah koleksinya. Karenanya, jika ada ada pesanan, dia mengaku kerapkali tanpa menarik biaya ongkos kirim, jika lokasinya tidak jauh.

“Kalau ada pembelian online, dengan radius 50 kilometer, saya yang mengantarkan tanpa ongkos kirim. Kalau lebih dari itu melalui pengiriman hewan,” tambahnya.

Untuk biaya pengiriman burung, rata-rata Rp 110 ribu untuk pengiriman seperti ke Banyuwangi, Bandung, Bogor dan Jakarta. Sedangkan untuk pengiriman luar Pulau Jawa, seperti Bali dan kota-kota lain, agak mahalan sedikit.

Hanya saja, kata Atol, risiko pengiriman burung ke luar Pulau Jawa adalah kematian hewan. Dan risiko itu, potensinya sangat besar. “Kalau risiko begini ini yang bikin puyeng,” pungkasnya.

Disinggung omset penjualan selama pandemi ini, “Kondisinya memang sulit sekarang ini. Kadang seminggu nggak laku sama sekali. Kadang ya laku satu. Kalau omset, otomatis turun,” jawabnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait