oleh

Masyaallah! Rumah Kakek di Jogoroto ini Tak Berpintu dan Hanya Berdinding Plastik

JOGOROTO, KabarJombang.com – Potret kemiskinan masih saja mewarnai kondisi masyarakat Kabupaten Jombang.

Setelah sebelumnya viral dua kakek renta, Kacung Prawi (66) dan Imam Ghozali (70), yang tinggal seatap dengan ayam di gubuk bambu, kini pria bernama Ashudi, warga Desa/Kecamatam Jogoroto, nasibnya tak jauh berbeda.

Kakek berusia 59 ini sehari-hari tinggal di sebuah gubuk berukuran 1,5 kali 2,5 meter. Tak hanya itu, gubuk tanpa pintu tersebut pun numpang di atas tanah milik orang lain.

Gubuk milik Ashudi ini kondisinya memprihatinkan. Dinding terbuat dari seng dan plastik bekas banner ini, menempel pada dinding belakang rumah orang lain.

Jangankan perabotan rumah tangga, di dalam gubuk hanya ada satu dipan bambu serta beberapa lembar pakaian lusuh.

Yang lebih miris lagi, gubuk Ashudi ini juga berhadapan langsung dengan kandang dua ekor sapi miliknya. Jaraknya hanya terpaut dua sampai lima meter saja.

“Tanah warisan orang tua sebagian sudah terjual, dan ada yang ditempati saudara saya. Makanya saya nggak mau merepotkan kerabat. Saya pilih tinggal di sini,” ujarnya, Sabtu (5/10/2019).

Ashudi mengaku sudah bertahun-tahun tinggal di gubuk derita ini. Kakek berstatus lajang ini tak memiliki pekerjaan tetap.

Dia hanya merawat dua ekor sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Dengan sistem ini, hasil jerih payahnya baru bisa dia terima paling cepat satu tahun sekali saja.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ashudi terpaksa ngutang di warung milik tetangga. “Kadang juga saya jadi buruh ‘ngarit’ (cari rumput), satu karung hanya seharga Rp 15 ribu, lumayan untuk tambahan,” imbuhnya.

Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, Ashudi menumpang di musala terdekat. Dia hanya berharap ada uluran tangan orang lain yang membantunya memperbaiki gubuknya ini.

Sebab, ketika musim hujan, gubuk yang jadi tempat tinggalnya ini tak bisa melindunginya dari percikan air hujan.

Sejauh ini, Ashudi juga mengaku belum tersentuh bantuan apapun dari Pemerintah.

“Saya asli warga sini, KTP saya mati, sekarang tidak ada yang membantu menguruskan, jadi saya tidak pernah terdata sebagai penerima bantuan dari pemerintah,” tukasnya.

Jurnalis: Muji Lestari
Editor: Ubaidillah

Berita Lainnya