Guru Ekstrakurikuler agama mengundurkan diri (Ilustrasi AI)
JOMBANG, KabarJombang.com – Krisis honor yang tak kunjung terselesaikan kini menjelma menjadi persoalan yang lebih serius di Jombang. Tidak hanya soal keterlambatan pembayaran, ketidakjelasan status program ekstrakurikuler keagamaan juga memicu gelombang pengunduran diri guru pembina secara massal.
Y, salah satu sumber, mengungkapkan bahwa sejak akhir Januari 2026 hingga awal April ini, jumlah guru yang memilih mundur terus bertambah.
“Akibat status program yang tidak jelas dan honor yang terlambat, banyak guru mulok diniyah yang sekarang disebut pembina ekstrakurikuler keagamaan tersebut ramai-ramai mengundurkan diri,” ujarnya saat dikonfirmasi KabarJombang.com, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, khusus di jenjang Sekolah Dasar (SD), setidaknya sudah sekitar 10 orang guru yang resmi mengundurkan diri. Sementara di tingkat SMP, jumlahnya belum dapat dipastikan karena kondisi yang dinamis sebagian guru keluar-masuk sebagian lain bertahan sambil menunggu kejelasan.
“Untuk SMP masih fluktuatif, karena mereka keluar masuk. Semua ini dipicu ketidakjelasan juknis (petunjuk teknis) yang sampai sekarang belum memberikan kepastian,” jelasnya.
Menurutnya, situasi seperti ini menimbulkan efek domino yang mulai dirasakan langsung oleh sekolah.
“Kekosongan pembina ekstrakurikuler keagamaan menjadi ancaman nyata, terutama bagi keberlangsungan program pendidikan keagamaan yang selama ini menjadi salah satu pilar pembentukan karakter siswa,” ucapnya.
Jika kondisi ini terus berlarut, Y memperkirakan jumlah pengunduran diri akan semakin bertambah.
“Kalau tidak segera ada solusi, yang mundur bisa terus bertambah. Otomatis akan banyak kekosongan pembina di sekolah-sekolah,” tegasnya.
Di tengah situasi yang kian tidak menentu, pihaknya berharap ada langkah cepat dan konkret dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar soal administrasi atau honor semata, tetapi menyangkut keberlangsungan pendidikan keagamaan bagi generasi muda.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Wor Windari, saat dikonfirmasi terkait persoalan tersebut belum memberikan tanggapan hingga berita ini selesai ditulis.
Leave a Comment