Ilustrasi kekerasan dalam dunia pendidikan
JOMBANG, KabarJombang.com – Lingkungan pendidikan di Kabupaten Jombang mencatatkan angka kasus kekerasan berbasis gender tertinggi sepanjang tahun 2025. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) yang dirilis Yayasan Harmoni dan Women’s Crisis Center (WCC) Jombang, sektor pendidikan formal maupun nonformal menjadi lokasi paling rawan, melampaui sektor lainnya dalam hal frekuensi kejadian kekerasan.
Selama periode Januari hingga Desember 2025, tercatat sedikitnya tujuh kasus kekerasan terjadi di sekolah, pesantren, hingga madrasah. Ironisnya, relasi pelaku dan korban didominasi oleh oknum guru serta pengasuh, yang menunjukkan adanya penyalahgunaan ketimpangan kuasa yang sangat kuat di institusi yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak.
Direktur WCC Jombang, Ana Abdillah, menegaskan bahwa tingginya keterlibatan tenaga pendidik sebagai pelaku mencerminkan rapuhnya sistem perlindungan anak di bawah naungan dinas terkait. Posisi otoritas yang dimiliki pengajar kerap digunakan untuk memanipulasi korban, baik melalui pendekatan emosional (grooming) maupun ancaman psikologis yang kompleks.
“Dominasi relasi pelaku sebagai guru dan pengasuh menegaskan adanya ketimpangan relasi kuasa dan menunjukkan masih lemahnya sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan,” ujarnya, Selasa, 31 Maret 2026.
Laporan tersebut juga menyoroti berbagai modus manipulatif, termasuk praktik “nikah ghaib” yang menggunakan tekanan spiritual untuk menundukkan korban. Selain itu, intimidasi melalui ancaman penyebaran konten pribadi digital menjadi alat kontrol yang membuat korban sulit melawan. Secara keseluruhan, WCC Jombang mendampingi 127 kasus kekerasan terhadap perempuan selama 2025, dengan 75 di antaranya merupakan kekerasan seksual.
Kondisi ini memicu kritik tajam mengenai sejauh mana efektivitas pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang. Hingga berita ini diturunkan, Kepala Disdikbud Jombang, Wor Windari, belum memberikan jawaban saat dikonfirmasi terkait langkah konkret pencegahan dan pengawasan relasi antara pendidik dan peserta didik di wilayahnya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui cara-cara simbolik dan psikologis yang kompleks,”tandasnya.
Tepisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Wor Windari saat dikonfirmasi tentang pengawasan belum memberikan respon, Upaya redaksi untuk meminta konfirmasi hingga berita ini diturunkan belum mendapatkan balasan.
Leave a Comment